Inilah Kreativitas Anak Bangsa Yang Dihambat Negara

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Indonesia sebenarnya mempnyai banyak sekali otak otak kreatif nan hebat. Bahkan banyak industri luar negeri yang terang terangan menggunakan tenaga dan otak dari pekerja Indonesia, bahkan penemu teknoligi 4G yang sekarang digunakan di seluruh dunia adalah orang dari Indonesia,  jangan lupakan Dr. Warsito sang pencipta teknologi anti kanker yang teknologinya bahkan sudah digunakan oleh NASA. Tapi nasib mereka di Indonesia? Jauh dari kata kata diterima. Birokrasi yang ruwet menjadi salah satu penyebab mereka akhirnya melabuhkan ciptaan mereka di luar negeri.

Sekarang ini MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) bukan lagi di depan mata, tapi kita sudah masuk MEA. Serbuan tenaga kerja dari luar negeri tidak lagi terbendung, bahkan tenaga asisten rumah tangga dari luar negeri sudah mulai masuk ke Indonesia, dan sudah banyak keluarga yang mulai mempertimbangkan menggunakan mereka, karena dengan sedikit membayar lebih mahal mereka mendapatkan tenaga yang memang mempunyai skill dan yang paling utama bisa mengajaran anak anak mereka bahasa inggris tanpa susah susah mengikutkannya ke les bahasa inggris.

Tapi kenapa orang orang Indonesia yang kreatif ini malah dibenturkan dengan birokrasi yang sangat berbelit?

Kasus kasus yang sudah terjadi di Indonesia ini sangat disayangkan, disaat mereka ini ingin memberi sumbangsih besar bagi bangsanya tapi mereka malah dibenturkan oleh beberapa pihak yang gagal paham dengan arti sebuah kreatifitas. Dengan mengedepankan birokrasi bukan pembinaan, mereka seolah menghancurkan mimpi anak muda Indonesia yang ingin berkarya.

Mobil listrik Selo : Ricky Elson



Dahlan Iskan waktu itu memanggil Ricky Elson yang sebenarnya sudah bekerja dan mempunyai penghasilan yang cukup besar dari perusahaan Jepang tempatnya bekerja selama ini. Ricky Elson sebagai putra asli Indonesia yang cukup mempunyai pengalaman dan pemikiran yang matang di dunia ini merasa terpanggil untuk melahirkan sebuah mobil listrik di Indonesia. Bahkan Dahlan Iskan sempat mempunyai mimpi untuk menjadikan mobil ini sebagai mobil listrik nasional.

Tapi sayang, mobil ini proyeknya sempat terhenti hanya karena gagal emisi. Ricky Elson saat itu mempertanyakan mengenai mobil mobil yang menjadi penyebab polusi besar dan kecelakaan namun lolos uji emisi. Kemarahannya ini sempat dituangkannya dalam akun Facebook pribadinya.

Hingga akhirnya sebuah perusahaan dari Malaysia tertarik untuk mengakuisisi mobil ini, dan lagi lagi tidak ada tidakan dari pemerintah untuk menyelamatkan aset bangsa ini. Ricky sempat tergoyahkan mengingat tidak ada tindak lanjut dari pemerintah mengenai kelangsungan mobil listriknya ini. Namun akhirnya di masa masa akhir deadline keputusan Ricky, ia memutuskan untuk menolak akuisisi perusahaan Malaysia ini dengan alasan, yang lahir di Indonesia harus besar di Indonesia. Tapi sampai kapan Ricky harus menunggu?

Ricky sempat menuliskan kekecewaannya dalam akun Faceboknya

2 Tahun lebih berlalu, sejak pengembangan pertama Mobil ini. Dan semenjak itu, ide ide pengembangan Generasi Baru dan Mesin mesin yang baru terus berputar di dalam kepala ini. Serasa berat menahan mimpi yang harus saya kubur sejenak di dalam kolam-kolam Lele di Ciheras, di bawah jerami kering tua, penutup benih bibit Jahe. Namun dalam hati terus memendam hasrat untuk terus berkarya, meski tak mudah. Kelanjutan dari pertemuan dengan seseorang di KL 8 bulan yang lalu, bahwa hari ini dapat kabar, ada keinginan keras mereka utk pengembangan Mobil Listrik, bersama team kami.

hemmmm, akankah pembeli Prototype Next Generation Of “SELO” the Electric Car (baca : Membiayai produksi next Prototype) berasal dari Negara Tetangga (M)?

Ini bukan menjual diri. Karna kami harus terus berkarya. Saya insya Allah bersedia, jika ini pilihan jalan yg realistis untuk kami melanjutkan “karya” ini. Meski ini jalan berputar, untuk negri kami kelak. Meski Pahit.

Syarat Proses Pembuatan tetap harus di Indonesia. Semoga ada pilihan lain.

Ditulis:

30 Agustus 2015, Macet menuju CiTos

TV rakitan : Kusni



Ini adalah yang paling baru terjadi, seorang lulusan SD bernama Kusni yang mempunyai kemampuan merakit TV akhirnya harus dipenjara karena dianggap melanggar hukum. Ironisnya ia ditangkap dibulan dimana sertifiat SNI nya seharusnya keluar. Padahal Kusni berjualan TV ini untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari

Kusni belajar merakit TV secara otodidak, ia awalnya hanya coba coba merakit dari barang barang bekas yag ia temui, seerti monitor komputer yang sudah rusak hingga akhirnya Kusni bisa membuat TV  yang ia jual tidak sampai Rp. 1 juta. Selain menghidupi rumah tangganya, ia membantu orang orang yang tidak mampu membeli TV mahal supaya bisa memiliki TV sendiri.

Seharusnya hal seperti ini bisa dibicarakan terlebih dahulu, paling tidak dibimbing dan diarahkan supaya bisa menjadi benar. Masalah perizinan dan penggunaan merk dagang.

Tapi nasi sudah menjadi bubur, Kusni divonis bersalah dan dipenjara 6 bulan, dan TV yang sudah dibuatnya dihancurkan begitu saja.

3D Engineering : Arfian & Afie



Mereka berdua ini adalah kaka beradik yang hanya seorang lulusan SMK dan mempelajari 3D Engineering secara autodidak. Hasilnya mereka memenangkan sebuah kontes internasional dan prestasinya diakui dunia. Dalam kontes itu mereka membuat rancangan sebuah Jet Engine Bracket, penyelenggaranya pun perusahaan yang sangat besar, General Electric (GE) dan perusahaan mereka, D-Tech semakin berkibar namanya di Internasional.

Tapi sayang kiprah mereka tidak diakui oleh dunia teknik di Indonesia hanya karena mereka tidak memiliki titel sarjana. Bahkan niatan ingin kuliah di jurusan elektro harus dikubur dalam dalam hanya ijasah yang dimiliki adalah SMK Otomotif, sungguh tidak adil negeri ini padahal mereka mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional

Film Siti : Edi Cahyono



Film ini bercerita mengenai seorang wanita bernama Siti yang mengurus ibu mertuanya yang bernama Darmi, Bagas anaknya dan Bagus suaminya yang lumpuh. Perjuangan siti yang berjuang menghidupi keluarganya yang terlilit hutang benar benar tidak main main, ia berjuang siang dan malam supaya keluarganya bisa hidup. Siang hari Siti berjualan peyek jingking dan malam harinya Siti bekerja sebagai pemandi karaoke.

Film ini adalah film terbaik FFI dan mendapatkan banyak penghargaan dari luar negeri, tapi sayang film Siti tidak bisa masuk bioskop karena terlalu banyaka adegan dewasa yang jika disensor akan mengurangi isi cerita.

Sungguh disayangkan film sebagus ini tidak bisa dinikmati masyarakat luas hanya karena masalah sensor.

Kompor biomassa : Muhammad Nurhuda



Seorang dosen Fakultas MIPA Universitas Brawijaya meneliti dan membuat sebuah kompor biomassa yang sangat ramah lingkungan. Bahan bakarnya sendiri adalah kayu cacah yang sudah diproduksi hingga 20 ton perhari. Selain itu juga bisa digunakan pelet sawit atau butiran kayu yang dihasilkan dari limbah kayu.

Kompor ini sendiri akhirnya diproduksi di Norwegia dan pemasarannya menjangkau sejumlah negara sepeti India, Meksiko, Peru, Timor Leste dan beberapa negara di belahan Afrika. Tapi justru sepi di dalam negeri padahal ini bisa menjadi solusi bagus di saat mahalnya BBM saat ini.

Mengapa tidak ada upaya pemerintah untuk membantu karya anak bangsa ini? Sangat disayangkan!(hello-pet.com)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: