KJRI Jeddah selamatkan TKW Cilacap yang tidak digaji Selama 15 Tahun

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KJRI Jeddah selamatkan TKW  Cilacap yang tidak digaji Selama 15 Tahun

Siti Nur Fatimah, perempuan Indonesia yang jadi tenaga kerja wanita di Jeddah, Arab Saudi, berhasil diambil paksa dari rumah majikannya. Siti bekerja paksa 15 tahun di rumah majikannya di wilayah Jizan, Arab Saudi.

Bersama dengan intel polisi wilayah Jizan, tim perlindungan KJRI Jeddah menggerebek rumah majikan Siti. Sudah dua hari rumah majikan TKW asal Cilacap, Jawa Tengah itu diselidiki dan diintai kedua tim.

Kedua tim ini mendapat informasi dari organisasi Buruh Migran Indonesia (BMI) yang bermarkas di Jeddah. Letak keberadaan rumah majikan Siti jadi semakin jelas usai tim mendapatkan nomor telepon sang majikan.

Dari pernyataan yang dikeluarkan Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) , kedua tim merangsek masuk ke rumah majikan dan mengambil paksa Siti tepat usai azan isya berkumandang.

"Dengan badan kurus dan pakaian seadanya, Siti mengungkapkan pengalaman pahitnya di kantor polisi," seperti diungkapkan Direktur PWNI dan BHI Kemlu Lalu Muhammad Iqbal, dalam keterangan pers tersebut, Rabu (13/1).

Dalam kisahnya, Siti menceritakan sudah bertahun-tahun mengurus keluarga dengan 11 anak yang berada di dusun jauh dari kota itu. Siti tidak boleh keluar rumah sedikit pun, dia dijaga ketat agar tidak kabur.

Tak hanya dikuras tenaganya, Siti bahkan tidak diberikan gaji. Hingga ia diselamatkan, tunggakan gaji Siti mencapai 180 ribu riyal (setara Rp 380 juta).

"Saya hanya bisa ucapkan terima kasih kepada KJRI Jeddah yang telah menyelamatkan saya. Sejak tahun 2002 saya tidak diizinkan pulang dan tidak digaji. Setiap ingat keluarga saya hanya bisa menangis. Saya kangen kampung halaman," ujar Siti tersedu.

Siti pertama kali datang ke Arab pada 2001, dan bekerja pada seorang polisi rendahan yang punya banyak anak. Wanita kelahiran 1982 ini mengungkapkan setahun pertama dia bekerja, upah yang diterima cukup lancar, kemudian jadi tersendat di tahun kedua, bahkan sampai tidak dibayar.

Namun di sisi lain, majikan Siti mengatakan dia tidak mau dibayar tiap bulan. Alasannya, uangnya mau dikumpulkan dulu dan akan diminta saat dia ingin kembali ke Tanah Air.

Siti membantah hal tersebut. Dia mengatakan, dirinya selalu dihalangi saat menyampaikan keinginan pulang ke Indonesia. Bahkan gerak geriknya dibatasi oleh majikannya.

"Arahan menlu kepada jajaran Kemlu dan Perwakilan jelas. Banyak keberhasilan dicatat tahun 2015. Tapi aspek respon cepat masih perlu ditingkatkan. Kita minta Perwakilan bergegas menjalankan arahan itu," ujar pria akrab disapa Iqbal.

"Saya hanya bisa ucapkan terima kasih kepada KJRI Jeddah yang telah menyelamatkan saya. Sejak 2002 saya tidak diizinkan pulang dan tidak digaji. Setiap ingat keluarga saya hanya bisa menangis. Saya kangen kampung halaman," ujar Siti.

Siti Nur Fatimah binti Sukarno adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) asal dusun Karang Reja, Cilacap, Jawa Tengah.

Perempuan kelahiran 1982 tersebut datang pertama kali ke Arab Saudi pada 2001 dan bekerja pada seorang polisi rendahan yang memiliki banyak anak.

Selama setahun pertama, gaji diberikan secara lancar namun mulai tahun kedua semuanya menjadi berubah. 

Selain gaji macet, hampir-hampir tidak bisa keluar rumah, bahkan paspornya ditahan majikan.

KJRI Jeddah akan memperjuangkan hak Siti Nur Fatimah seperti gaji, tiket pulang dan kompensasi. Jika perlu KJRI akan melakukan tuntutan ke pengadilan.

"Ini adalah realisasi arahan Menlu untuk meningkatkan respon cepat dalam melindungi WNI. Otoritas di Saudi juga memahami dan mendukung niat baik Pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan maksimal bagi WNI di Arab Saudi. Kita akan terus meningkatkan upaya semacam ini ," ujar pejabat KJRI yang ikut memimpin operasi penyelamatan Siti Nur Fatimah, Rahmat Aming.

               www.merdeka.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: