Lilik Jauharotul Wasilah Dibalik kreativitas Bank Sampah Kartika Jaya Kelurahan Brotonegaran, Sampah Disulap Menjadi Barang Bernilai Ekonomi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com , Ponorogo - Sampah menjadi masalah klasik di perkotaan. Di tangan ibu-ibu anggota Bank Sampah Kartika Jaya Kelurahan Brotonegaran, sampah disulap menjadi barang bernilai ekonomi. Lilik Jauharotul Wasilah ada di balik kreativitas anggota bank sampah dan dapat memberikan penghasilan tambahan puluhan ibu rumah tangga di kelurahan barat alun-alun itu.


Halaman samping kantor Kelurahan Brotonegaran ramai, pagi itu. Sejumlah ibu-ibu duduk di atas selembar tikar. Mereka asyik berbincang dengan kedua tangan sibuk mengerjakan sesuatu. Puluhan ibu rumah tangga tersebut sedang membuat aneka kerajian. Tak jauh dari tempat mereka berselonjor kaki, tumpukan botol plastik bekas menggunung. Terlihat juga tumpukan kain perca dan gedebok pisang kering. Sisa barang bekas itu sengaja diletakkan di sana. ‘’Barang bekas bukan lantas tidak bisa dimanfaatkan. Barang-barang ini bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang lebih berharga,’’ kata Lilik Jauharotul Wasilah, tim kreatif Bank Sampah Kartika Jaya, Kelurahan Brotonegaran.
Lilik Jauharotul Wasilah balik kreativitas Bank Sampah Kartika Jaya Kelurahan Brotonegaran
Lilik Jauharotul Wasilah balik kreativitas Bank Sampah Kartika Jaya Kelurahan Brotonegaran

Lilik dkk sengaja berbagi tugas. Beberapa di antaranya menyiapkan bahan. Mulai membersihkan hingga memotong menjadi bagian atau bentuk tertentu. Seperti plastik bekas botol minuman yang bakal dibuat menjadi bunga. Setelah dicuci bersih, bagian atas botol dipotong dan dibentuk menyerupai kelopak bunga. Sedang, bagian sisanya dipotong membentuk daun. Kedua bagian lantas diwarnai. Tugas tersebut diserahkan anggota lain. Beberapa lainnya menyiapkan tangkai yang juga dari barang bekas. Sisa kayu dan ranting dimanfaatkan. ‘’Semua bahan baku kami usahakan tidak membeli,’’ ungkap perempuan 54 tahun itu.
Sejumlah ibu-ibu lain memilih memanfaatkan kain perca sebagai bahan utama. Sisa kain tak terpakai itu disulap menjadi bros, dompet, tempat handphone, sapu tangan, dan aksesori tambahan pada baju. Mereka juga membuat sisa kain kaos menjadi keset. Bahan sisa kain relatif lebih mudah dibuat aksesori. Tantangan baru terasa saat membuat tempat tisu berbahan gedebok. Kulit pohon pisang tersebut sengaja dikeringkan. Gedebok lantas dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. ‘’Kami vernis dulu agar terlihat menarik dan tidak mudah robek,’’ imbuh ibu dua anak itu.
Bagian demi bagian lantas dilem membentuk balok seukuran tisu. Pengeleman harus hati-hati agar tidak rusak. Lilik mengaku tempat tisu berbahan kulit gedebok pisang tersebut cukup awet jika tidak terkena air. Selain itu, Lilik juga mengajarkan anggotanya membuat lukisan berbahan kulit pohon pisang dan daun pisang kering. Namun, hanya segelintir yang bisa. Lilik lantas mengubah media lukis di atas jilbab dan baju yang sudah lama tak terpakai. Tujuannya jelas. Agar kembali menarik dipakai. ‘’Lukisannya yang simpel. Mulai bunga atau motif batik yang mudah,’’ papar warga Jalan Imam Bonjol tersebut.
Lilik dkk mengaku tidak kesulitan mencari bahan. Sebab, bahan baku melimpah di lingkungan sekitar. Selain itu, pemerintah kelurahan setempat sengaja membentuk bank sampah sejak 2014 silam. Setiap warga khususnya di Lingkungan Krajan diminta menyetorkan sampah dari rumah tangga masing-masing. Tentu bukan sampah anorganik. Setiap sampah dipilah lantas ditimbang. Pengurus membeli sampah tersebut. Sebab, bahan kerajinan yang terjual bakal masuk kas kelompok. ‘’Kerajinan ini dari, oleh, dan untuk anggota,’’ ungkapnya.

Kendati terbilang baru, aksesori made in ibu-ibu Brotonegaran tersebut kerap turut dalam pameran. Hasil penjualan dikelola. Bahkan, belakangan mereka mulai mendapat order pembuatan suvenir pernikahan. Lurah Brotonegaran, Sutiyah sengaja menyosialisasikan produk pada warganya yang bakal menggelar hajatan pernikahan. ‘’Awalnya saya hanya iseng membuat untuk dipakai sendiri. Tapi ternyata banyak yang ingin belajar,’’ pungkasnya sembari menyebut anggota kini berjumlah sekitar dua puluh orang.***(irw)

Sumber : Radar Madiun

Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: