Awas, Bulan Februari Ini Puncak Demam Berdarah Di Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com , Ponorogo  – Prediksi puncak musim demam berdarah di Februari ada benarnya. Hingga pertengahan bulan ini, RSUD dr Harjono sudah menangani 32 kasus yang disebabkan virus dari gigitan nyamuk aedes aegypti itu. Belasan di antaranya masih menjalani perawatan intensif. Pun, empat pasien anak terpaksa menjalani perawatan di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) ruang Delima RSUD dr Harjono.

Seperti Ifa Ria Puspita, 9, yang tengah tergolek lemas di ruang PICU tersebut hingga Jumat lalu. Tubuh mungilnya terpaksa digerojok dua kantong infus sekaligus. Satu selang panjang menuju lambung melalui hidungnya juga terpasang. Dia mengalami pendaharan di lambung. Selang digunakan untuk mengeluarkan darah tersebut. Alat pendeteksi jantung juga terpasang di dekat ranjang Ifa. Dia tidak sendiri. Kondisi serupa juga terlihat pada Bagas, Lutfi, dan Revaldo di ruang PICU tersebut.

Awas, Bulan Februari Ini Puncak Demam Berdarah Di Ponorogo


Ifa terindikasi demam berdarah sejak sepekan lalu. Pelajar kelas III salah satu SD negeri di Kecamatan Siman itu awalnya hanya mengalami panas tinggi sepulang sekolah. Orang tuanya langsung memeriksakan ke puskesmas setempat. Namun, dokter mengindikasi panas biasa. Orang tua Ifa curiga lantaran panas anaknya tak kunjung turun selama dua hari setelah gejala muncul. ‘’Anak saya biasanya langsung sembuh setelah minum obat kalau hanya panas biasa,’’ kata Nadya, Ibu Ifa.

Khawatir kondisi anaknya memburuk, Ifa lantas dibawa ke RSUD. Ifa positif demam berdarah dengue (DBD). Ironisnya, kondisi Ifa semakin memburuk setelah menjalani perawatan. Trombositnya semakin turun. Bahkan, Nadya mendapati bibir anaknya membiru dengan kaki dan tangannya terasa dingin. Ifa lantas dipindahkan di PICU untuk mendapatkan perawatan kedaruratan sejak, Senin (16/2) lalu. Kondisinya sudah berangsur membaik kini kendati belum diperkenankan keluar ruang PICU. ‘’Ada cairan yang masuk rongga paru. Jadi sesak dibuat saat bernapas,’’ paparnya.

Direktur RSUD dr Harjono Ponorogo Prijo Langgeng Tribinuko menuturkan ada lima pasien anak yang sempat menjalani perawatan intensif di PICU Delima. Seorang di antaranya sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa lantaran dinilai semakin membaik. Dia tak menampik adanya lonjakan pasien DBD di bulan ini. Data di mejanya mencapai 32 pasien sejak awal Februari lalu. 19 lainnya sudah dibolehkan pulang. Selain anak-anak, DB juga menyerang dewasa. Setidaknya, ada empat pasien dewasa yang kini menjalani perawatan di rumah sakit pelat merah tersebut. ‘’Kami berharap pasien segera dibawa ke rumah sakit agar cepat ditangani sebelum DSS (dengue shock syndrome),’’ paparnya.

Langgeng mengaku tengah menunggu alat pendeteksi DBD. Pihaknya sengaja menambahkan Vein Finder Light agar gejala DBD segera diketahui. Langgeng menargetkan dalam dua tiga hari ke depan alat sudah dapat digunakan. Dia juga memberlakukan penanganan khusus pada pasien demam. Pasien diperbolehkan langsung memeriksakan diri ke rumah sakit tanpa harus mendapat rujukan dari puskesmas. ‘’Masyarakat yang menderita demam tinggi tanpa disertai batuk segera saja ke rumah sakit,’’ pungkasnya sembari menyebut pemberlakuan jalur khusus melihat kondisi puncak DBD. (agi/irw/Radar Madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: