Petani Kecamatan Balong Resah Setiap Musim Hujan Sawah Terendam

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com , Ponorogo - Petani di Desa/Kecamatan Balong selalu dipusingkan dengan banjir setiap kali musim penghujan. Belasan hektare lahan pertanian di desa setempat terendam banjir akibat luapan sungai Selo Payung. Tak terkecuali kemarin (3/2). Banjir akibat curah hujan tinggi meluas hingga persawahan Desa Ngampel, Kecamatan Balong. ‘’Kalau ditotal semua ya ada 15 hektare,’’ kata Katimin, petani setempat.

Luapan air sungai mulai masuk sawah Selasa (2/2) lalu sekitar pukul 16.00. Maklum, hujan deras melanda Ponorogo sejak pukul 12.00. Ketinggian air mencapai 50 sentimeter. Tak urung, sejumlah tanaman padi yang baru berumur beberapa minggu tersebut nyaris tinggal terlihat bagian ujung daun. Bahkan, air terus meninggi hingga malam. Pun, air mulai menyentuh jalan desa setempat. ‘’Kalau tidak segera surut padi pasti mati,’’ tambahnya.


Kepala Desa Balong Kholik membantah pemicu meluapnya air sungai akibat tanggul jebol. Dia mengaku sudah meninjau lokasi banjir dan tidak menemukan kerusakan tanggul. Meluapnya air sungai lantaran debit air tinggi akibat hujan. Air masuk ke sungai melalui aliran gorong-gorong. Kholik menegaskan air tidak sampai masuk pekarangan rumah warganya. Pun, banjir sudah mulai surut kemarin. Namun, air di areal persawahan masih cukup tinggi. ‘’Hanya air lewat. Biasanya dua hari sudah surut,’’ terangnya.

Kholik mengaku sudah mengambil langkah antisipasi sebelum musim penghujan. Yakni, dengan melakukan normalisasi aliran sungai. Pengerukan dilakukan. Namun, diakuinya normalisasi belum maksimal. Pihaknya sudah mengajukan normalisasi tahap kedua. Kholik menambahkan, normalisasi bakal dilaksanakan sekitar Juni. Pihaknya menunggu masa panen tanam pertama selesai. Sebab, proses normalisasi dipastikan bakal mengganggu tanaman di sekitar aliran sungai. ‘’Sudah kami ajukan tinggal menunggu pelaksanaannya,’’ ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Ponorogo Hermanto menyebut sebanyak areal persawahan 17 desa di Kecamatan Balong, Siman, Ponorogo, Jetis, dan Jenangan masuk dalam peta rawan banjir. Jumlahnya mencapai 200 hektare. Namun, catatannya, banjir hanya bersifat air lewat. Tak urung, segera surut dan tidak sampai merusak tanaman. Pihaknya lebih mengkhawatirkan serangan keong yang biasa muncul seiring tingginya curah hujan. Hermanto mengimbau agar petani waspada. ‘’Saat ini baru yang di Balong yang dilaporkan terendam. Semoga segera surut dan tidak meluas,’’ jelasnya. (agi/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: