Eni Astutik Mulih Nduk, Bapakmu Sampai Meninggal Memikirkanmu

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com , Jenangan  - Suasana duka masih tampak terlihat jelas, raut wajah kesedihan, gelaran tikar bahkan beberapa pelayat masih berdatangan  mendatangi kediaman Semi di desa Ngrupit Kecamatan Jenangan kabupaten Ponorogo. Semi merupakan ibunda dari Eni Astutik yang profilnya hadir kehadapan pembaca pada edisi kali ini. Eni Astutik perempuan kelahiran 25 Agustus 1975 ini terakhir diketahui keluarganya tengah bekerja di Hong Kong sejak tahun 2003. Namun mulai bulan Februari 2009, setelah Eni Astutik mengabari keluarganya bahwa dia sedang berada di Makau untuk menunggu visa, sampai saat ini keluarga tidak pernah tahu lagi kabarnya.

7 tahun telah berlalu. Didalam gundukan tanah makam yang masih basah itu, beberapa hari yang lalu jasad almarhum Meseni ayahanda Eni Astutik terbaring menghadap Illahi. Di akhir hayatnya, Meseni setelah tak kuasa menahan beban pikiran atas ketiadaan kabar anaknya, menyerahkan diri pada kehendak Yang Maha Kuasa. Setelah sempat beberapa kali dirawat di rumah sakit, akhirnya pada pertengahan Februari 2016, Allah SWT berkehendak memanggil Meseni untuk menghadap. Mengakhiri semua penderitaan batin yang selama 7 tahun di deritanya. Innalillahi wainnailaihi Rajiun.



Terhitung 5 bulan lamanya raga Meseni tak mampu mengimbangi alam pikirannya yang terus menerus memikirkan ketidak jelasan nasib putrinya Eni Astutik. Berbagai upaya penyembuhan pernah dilakukan oleh keluarga. Beberapa kali Meseni harus menjalani rawat inap di beberapa rumah sakit. Namun keluarga tidak berdaya, setelah Allah SWT memanggil Meseni untuk menghadapNya.

Sudah barang tentu keluarga sangat menyesalkan langkah yang diambil Eni Astutik selama 7 tahun ini. Keluarga tidak habis pikir, kenapa Eni sampai bisa berbuat demikian. Kalau memang karena ada masalah dengan suaminya yang tinggal di Pare Kediri, kenapa keluarga bahkan kedua orang tua diikutkan menjadi korban.Begitulah penyesalan keluarga yang terungkap.

Semi, ibunda Eni Astutik bahkan sempat mengalami syok hingga tak sadarkan diri saat bertutur mengenai kronologi Eni Astutik menjadi beban pikiran almarhum bapaknya. Meski Semi tulus mendoakan agar Eni selalu dalam kondisi baik-baik saja, namun penyesalanyang teramat dalam tak mampu disembunyikan dari wajah duka ibu dari dua anak ini. Berkali-kali Semi menegaskan, bahwa seminggu sebelum almarhum meninggal, almarhum untuk pertama dan terakhir kalinya mengungkapkan secara terbuka bahwa selama ini almarhum memikul beban pikiran atas ulah Eni Astutik anaknya.


Keluarga Eni sebenarnya telah beberapa kali berusaha mencari tahu keberadaan Eni. Bahkan menurut penuturan beberapa tetangga Eni, beberapa tahun silam pernah ada yang bertemu dengan Eni di Hong Kong. Namun saat di bujuk untuk segera menghubungi keluarganya, Eni malah pergi menghindar. Beberapa tetangga yang pernah bertemu Eni Astutik meyakini kalau sampai saat ini Eni Astutik masih berada di Hong Kong.

Besar harapan keluarga Eni, melalui rubrik kampung halaman Apakabar+ ini, Eni bisa mengetahui sendiri apa yang telah terjadi pada keluarga. Diantara derai airmata duka, dibawah guyuran hujan deras, dari kawasan RT 05 RW 02 Dusun Tenggang Desa Ngrupit Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, keluarga Eni Astutik menitipkan harapan Eni membaca pemberitaan ini, atau setidaknya ada pembaca yang bisa menunjukkan pemberitaan ini kepada yang bersangkutan.

Ibunda Eni Astutik :
 
 

Nduk, Tutik, muliho nduk, bapakmu wis ora eneng. Mboke neng omah mung kari karo adikmu Edi. Muliho yo ngger yo, mesakno mboke. Kowe balio menyang ndesamu dewe neng Ponorogo ya nduk yo. 

            Yaallah, mesakne mboke, Tik. Elingo mboke, pake wis ora eneng, dipundut karo Gusti Allah. Bapakmu loro mikir abot. Awakmu dadi pikirane bapakmu sampe dadhi jalaran tekaning pati. 

            Muliho nduk, wis muliho ojo mebok terus-terusne polahmu sing koyo ngene iki. Mulihowae maneh neng ndesamu neng Ponorogo. Ben kabeh ayem, padang atine, tenang uripe. Ngelingono, simbokmu iki ya wis tuwek, ngelingono kahanane adikmu Edi sing koyo ngunu kuwi. 

            Pungkasono lungamu Tik, pedoten lakonmu nganti sakmene wae.Ojo mbok terus-terusne. Ndang muliho ya nduk ngger anakku. 


Edi Sucipto Adik Eni Astutik :
Mbak Tik, saiki bapak wis ninggal, mergo jalarane loro-loronen mikir abot mikirne lakonmu. Kowe kok ora mesakne neng bapak karo ibu. Kowe saiki mantuko, pikiren ibu. Ibu mikirne kowe yok an. Ojo nganti kebacut. 

Nek kowe nduwe masalah karo bojomu, yo ojo nggowo nggowo wong tuwo loro. Nek wis kedadhen koyo ngene iki kowe opo ora getun ? Opo ya jek arep mbok terus-terusne lakone ben pisan kabeh mati ngenes ? 

            Elingo to mbak tik. Kabeh keluarga kiy nek ngrumat bapak sampe digowo nengrumah sakit ngendi wae. Saking bapak pancen wis nek mikir abot tenan, mikirne awakmu. Moso kowe ora nduwe ati blas ? 


Selamat jalan bapak. Meski kami berat melepas kepergianmu, namun kami menyadari, semua ini adalah kehendak Allah SWT yang tidak satupun makhlukNya sanggup merubah maupun menunda. Semoga Allah menerima semua kebaikanmu, amal baikmu, mengampuni semua khilafmu. Dan semoga Alah membukakan pintu hati mbak Tutik untuk segera berbenah memotong jalan yang selama ini telah membuatmu menderita. [apakabaronline.com]
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: