Ingin Kembali, Tapi Keluarga Tak Menjemput Lagi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com , Ponorogo – Kondisi sebagian warga senior di Ponorogo yang telantar cukup menyayat hati. Beberapa hidup sebatang kara di jalanan. Apa pun mereka lakukan untuk bertahan hidup. Tapi, ada sebagian lain yang hidup di panti sosial. Saat ini, ada 33 penghuni UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Magetan di Ponorogo.Meski sudah jauh dari keluarganya, para manula ini masih hidup berkecukupan di panti sosial milik Dinas Sosial Pemprov Jatim tersebut. ‘’Sebenarnya, ada keinginan lansia tersebut untuk bisa kembali dengan keluarganya. Tapi jarang ada keluarga yang mengambil lagi setelah dititipkan. Kalau pun ada, ya satu dua saja,’’ ujar Agus Trimualim, Kasi Bimbingan dan Peminaan Lanjut UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Magetan di Ponorogo, kemarin (7/3).

Panti sosial di Jalan Batoro Katong itu sudah ada sejak 2009. Tercatat, 33 warga senior tinggal di panti tersebut. Kebanyakan mereka warga Ponorogo. Para lansia itu menempati kamar tidur yang berisi dua bed. Sedangkan kawasan panti sosial dibagi dalam tiga wisma. Yakni wisma Kelapa Gading untuk mereka yang masih mandiri, wisma Flamboyan untuk lansia yang sudah sakit-sakitan dan wisma Pelayanan Khusus bagi yang sudah tidak mampu beraktivitas sendiri. ‘’Panti ini sering overload, maklum kamarnya terbatas. Baru-baru ini kami menerima satu orang, itu pun menggantikan penghuni yang meninggal Sabtu (5/3) lalu,’’ paparnya.


Ingin Kembali, Tapi Keluarga Tak Menjemput Lagi



Sebenarnya, panti sosial ini untuk menampung warga senior telantar. Bisa direkomendasikan dinas sosial setempat ataupun permintaan keluarga yang tidak mampu. Sifat tampungannya sementara. Jika keluarga sudah berkecukupan, para lansia ini bisa diajak kembali pulang. Tapi kenyataannya, keluarga para lansia kerap lepas tanggungjawab saat orang tuanya sudah berada di panti sosial tersebut. Ini dibuktikan hanya ada dua lansia asal Nguntoronardi Magetan dan Tuban yang diambil keluarganya. ‘’Tercatat sudah ada 36 lansia yang meninggal di panti ini. Keluarga tidak mau mengambilnya meski sudah meninggal. Kami menguburkannya dengan layak,’’ tuturnya.

Sekitar 2010-2014, para lansia yang meninggal di panti harus di bawa ke Magetan. Pasalnya, biaya gali kubur di Ponorogo mahal, bisa menembus Rp 400 ribu. Namun, kini sudah tidak berlaku karena alokasi duit sudah tersedia. Jasad para lansia yang meninggal bisa dimakamkan di tempat pemakaman yang layak dan tidak jauh dari panti sosial. ‘’Para lansia ini merupakan warga senior yang wajib dihormati, sudah sepantasnya hidupnya diperlakukan lebih baik,’’ tuturnya.

Ada 12 PNS dan lima honorer yang membantu merawat warga panti sosial. Mulai tenaga kesehatan, kebersihan, pemberian makanan dan asupan gizi hingga perawatan bagi mereka yang benar-benar sudah tidak mampu bergerak atau hanya di atas tempat tidur. ‘’Setiap Selasa dan Kamis, juga ada senam yang diikuti warga panti sosial. Kami juga memberdayakan mereka dengan membuat kerajinan tangan serta mengikuti kesenian hadrah,’’ jelasnya.(aan/irw/radar madiun)

Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: