Istadi Pengrajin Bonggol Bambu Asal Bangsalan, Sambit Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Istadi Pengrajin bonggol Asal Ponorogo
Setenpo.com, SAMBIT - Bonggol bambu teronggok di halaman depan rumah Istadi. Bagian pangkal tanaman dari keluarga rumput tersebut sengaja dibiarkan di bawah terik matahari. Istadi memang menjemurnya. Bukan sebagai kayu bakar. Bonggol bambu dengan berbagai bentuk unik tersebut merupakan bahan baku kerajinan yang ditekuninya. Istadi menjadi perajin bonggol bambu sejak delapan tahun silam. Menengok ke teras depan rumahnya, sejumlah bonggol lain juga menumpuk. Kali ini, bonggol sudah lebih berbentuk. Maklum, bonggol sudah tersentuh tangan dingin Istadi. ‘’Bambunya harus kering benar. Kalau kurang kering, bisa retak nanti kalau sudah jadi,’’ kata warga Desa Bangsalan, Sambit itu.

Istadi tampak sibuk. Dia mengaku tengah banyak pesanan. Namun, pekerjaannya tak begitu mulus lantaran terkendala bahan baku. Bonggol bambu tidak semudah dulu didapat. Dia harus mencari hingga desa lain. Padahal, dibutuhkan bahan dengan berbagai bentuk untuk membangun sebuah objek. Seperti patung punakawan yang tengah diprosesnya. Patung baru setengah jalan kendati sudah dikerjakan tiga bulan terakhir. Dia belum mendapatkan bentuk kaki yang pas. Patung baru sebatas badan, kepala, dan kedua tangan. ‘’Kalau bahan patung sudah terbentuk dari alam, nilainya semakin tinggi. Harus pandai membaca bentuk bahan awal itu cocoknya dijadikan apa,’’ jelas pria 47 tahun itu.

Istadi membagi produk kerajinannya dalam tiga kelas. Pembagian menurut tingkat kesulitan dan uniknya bahan. Semakin unik bentuk bahan yang di dapat nilainya semakin tinggi. Dia hanya memberikan sedikit sentuhan untuk mempertegas bentuk yang diinginkan. Semakin banyak sentuhan nilainya bakal semakin turun. Bonggol bambu dengan bentuk biasa seperti kentongan dimasukkan dalam golongan C. Sebab, tidak banyak yang bisa dikreasikan dengan bentuk bonggol monoton tersebut. ‘’Kreasi bonggol bambu itu terbatas. Tidak seperti kerajinan dengan bahan kayu yang mudah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan,’’ ungkap bapak dua anak itu.

Tak urung, satu objek membutuhkan waktu cukup lama. Istadi harus mencari bahan yang sesuai dengan objek yang sudah terbentuk sebelumnya. Apalagi bahan kini sulit dicari. Dia mengaku hanya menggunakan bambu jenis ori. Sebab, kuat dan keras. Istadi mengklaim bambu ori dapat bertahan hingga puluhan tahun. Sedang, bambu jenis lain lebih mudah keropos. Sentuhan pelitur saat finishing menjadikan produk kerajinan Istadi semakin awet. Namun, beberapa calon pembelinya meminta hasil akhir apa adanya alias natural. ‘’Ada yang ingin menonjolkan karakter serat bambunya. Makanya tidak banyak diubah,’’ ungkapnya.

Istadi cukup jeli melihat berbagai bentuk bambu lantas menyambungnya hingga membentuk satu karakter utuh. Di antaranya, asbak, bebek, ayam, kuda, kijang, singa, landak, tokoh pewayangan, hingga kereta kuda. Produknya sudah malang melintang di berbagai kota besar di Sumatera, Kalimantan, Riau, hingga Papua. Istadi mengaku pesanan masih deras mengalir hingga kini. Dia terpaksa menolak lantaran sulitnya mencari bahan baku. Dia sempat meminta bantuan teman untuk mencarikan. Namun, kerap tidak sesuai dengan yang diinginkannya lantaran bahan telanjur sudah terpotong-potong. ‘’Senang kalau bisa menonjolkan objek bahan yang sudah terbentuk oleh alam,’’ ujar suami Juwariyah itu.

Pekerjaan yang ditekuni Istadi datang secara tidak sengaja. Istadi awalnya seorang pedagang baju. Kebetulan istrinya bekerja di salah satu pabrik garmen di Surabaya. Namun, takdir berkehendak lain. Usahanya bangkrut setelah kecolongan si tangan panjang. Di saat hampir bersamaan, pabrik tempat istrinya bekerja gulung tikar. Dia lantas mengajak istri pulang kampung. Bingung mencari pekerjaan, Istadi secara tidak sengaja menemukan bonggol bambu di pinggir sungai tak jauh dari tempat tinggalnya sekitar 2008 silam. ‘’Saya bawa pulang karena menurut saya bentuknya seperti badan angsa,’’ kenangnya.

Bak sudah jalannya, Istadi kembali menemukan potongan bambu yang membentuk seperti leher dan kepala unggas terbang tersebut. Uniknya, dia menemukan potongan kedua di lokasi yang sama. Potongan terbawa banjir saat sungai meluap. Ide menggabungkan dua bonggol bambu tersebut datang begitu saja. Pun, tetangga kiri kanan langsung tertarik begitu potongan yang sudah tersambung itu dijemurnya. Istadi semakin bersemangat mencari bonggol lain dan menekuni kerajinan tersebut hingga sekarang. ‘’Yang penting jangan putus asa dan tetap berusaha. Semua pasti ada jalannya,’’ katanya.
Sumber :Radar Madiun

Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: