Imigrasi Klas III Ponorogo Deportasi WNA Pakistan "Overstay"

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Imigrasi Klas III Ponorogo Deportasi WNA Pakistan "Overstay"
Setenpo.com, Ponorogo - Muhammad Imran, 27, warga Pakistan yang sudah sekian lama tinggal di Ponorogo harus meninggalkan istri dan dua anaknya untuk sementara. Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo mendeportasi karena dia sudah melebihi izin tinggal atau over stay di bumi reyog. Dia harus pulang ke Pakistan hari ini (29/3). Pria kelahiran Haripur itu melebihi izin tinggal di Indonesia sekitar sembilan bulan.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Ponorogo Najarudin mengatakan, Imran diamankan Selasa (15/3). Awalnya, pihak imigrasi menerima informasi bahwa ada seorang WNA yang tinggal di Jalan Parikesit, Ponorogo. Selain itu, informasi juga menyebutkan bahwa warga asing itu tidak mengantongi izin tinggal. Setelah ditelusuri, Imran memang tidak mengantongi izin tinggal selama sembilan bulan atau selama 286 hari. ‘’Izin tinggalnya habis. Masa berlaku paspornya baru akan habis pada 2019,’’ katanya.

Najarudin menambahkan, Imran datang ke Indonesia pada 5 Maret 2015. Dia datang bersama istrinya yang asli Ponorogo, Nadya Asharoh Windarti, warga Jalan Parikesit, serta anaknya yang masih balita. Melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta, Imran sekeluarga langsung menuju Ponorogo. ‘’Alasan Imran hanya untuk tinggal bersama keluarganya, bukan karena mencari suaka atau bekerja,’’ tambahnya.

Saat tiba, Imran hanya memiliki visa kunjungan selama 30 hari. Usai izin tersebut habis, dia kemudian mengajukan perpanjangan ke Kantor Imigrasi Kelas II Madiun. Oleh pihak imigrasi yang berkantor di Mejayan itu, izin tinggal Imran diperpanjang hingga 2 Juni 2015. Sayangnya, usai masanya habis, Imran tidak lagi mengantongi izin tinggal. Selama sembilan bulan di Ponorogo bersama keluarganya, Imran tidak bekerja. Dia hanya menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya di rumah Nadya. ‘’Sementara untuk biaya hidup keluarganya, Imran mengandalkan kiriman dari rekannya yang bekerja di Amerika Serikat,’’ jelasnya.

Selama proses detensi, kata Najarudin, pihaknya dibantu oleh Nadya untuk berkomunikasi dengan Imran. Pasalnya, Imran kurang fasih berbahasa Inggris. Dia juga tidak bisa berbahasa Indonesia. Menurut Najarudin, sehari-hari Nadya dan Imran berkomunikasi menggunakan bahasa Pakistan. ‘’Selama detensi, Imran kooperatif. Dia juga mengakui jika tidak memiliki izin tinggal di Indonesia,’’ ujarnya.

Imran melanggar pasal 78 UU Nomor 6/2011 tentang keimigrasian. Dia dipulangkan ke Pakistan melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Imran juga dicekal, tidak diperbolehkan datang kembali ke Indonesia. ‘’Istri dan anak-anaknya rencananya akan menyusul Imran. Kami tidak bisa menghalangi karena mereka mengantongi paspor Indonesia. Khusus untuk kedua anaknya, malah punya dua kewarganegaraan,’’ jelasnya.(mg4/irw/radar madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: