Longsor Terjang Dua Rumah Warga Wagir Lor, Pulung

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com, Pulung  – Bencana longsor silih berganti di Ponorogo. Kali ini, longsor merusak bagian belakang rumah Katimin, 40, warga Desa Wagir Lor, Pulung. Material tanah dari tebing setinggi delapan meter di belakang rumah korban tersebut juga mengubur kamar mandi rumah korban. Sampai bulan ini, belasan bencana longsor terjadi di wilayah Ponorogo.

Material tanah menerjang rumah korban, Minggu (28/3) sekitar pukul 22.00. Hujan sedari siang diduga menyebabkan tanah tebing di belakang rumah korban menjadi labil. Korban tidak menduga bakal terjadi longsor. Pasalnya, hujan sudah reda beberapa jam sebelum kejadian. Tak korban yang tengah bersantai di rumah langsung panik melarikan diri keluar. ‘’Lebar tebing yang longsor sepanjang empat meter,’’ kata Kasubag Humas Polres Ponorogo AKP Harijadi, kemarin (29/2).

Longsor Terjang Dua Rumah Warga Wagir Lor, Pulung

Harijadi menambahkan, korban yang tinggal bertiga dengan istri dan seorang anaknya itu langsung memeriksa ke belakang rumah beberapa saat setelah kejadian. Benar saja, puluhan meter kubik tanah sudah menumpuk di belakang rumah. Sebagian material menjebol dinding belakang. Pun, material merusak kamar mandi. ‘’Intensitas hujan tinggi. Warga di daerah potensi longsor diharapkan waspada,’’ paparnya.

Terpisah, warga di Desa Maguhan, Sambit, membuat penahan sementara pengganti tanggul sungai yang jebol, kemarin. Warga dibantu relawan, BPBD, dan TNI-Polri membuat penahan dari karung pasir. Warga khawatir sungai Sono desa setempat kembali meluap mengingat intensitas hujan masih cukup tinggi. ‘’Ada sekitar 50 karung yang kami siapkan,’’ kata Kabid Rehabilitasi dan Rekrontuksi BPBD Ponorogo Heri Sulistiono.

Pasalnya, tanggul sungai yang jebol sepanjang lima meter tersebut dikhawatirkan kembali mengancam warga. Itungan Heri, dampak luapan sungai sempat merendam 25 rumah warga di dekat bibir sungai. Selain itu, mengancam delapan RT dengan jumlah penduduk mencapai 700 jiwa. Dia menyebut, luapan sungai Sono juga mengancam belasan hektare areal persawahan siap panen. Heri tak menampik adanya kekhawatiran tanggul bakal jebol di titik lain. Pasalnya, tanggul sungai bukan tanggul permanen. Namun, tanggul berbahan tanah dan batu. ‘’Kalau terjadi luapan lagi, petani terancam gagal panen,’’ pungkasnya sembari menyebut pihaknya mendirikan pos siaga 24 jam di kantor BPBD. (agi/irw/Radar Madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: