Masih Nekat Jualan di Bahu Jalan

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com, Ponorogo - Hindari labrak aturan, sebagian PKL di kawasan alun-alun pilih menyiasatinya. Dilarang berjualan di bahu jalan kawasan alun-alun, mereka tetap nekat agar bisa saja berjualan di pinggir jalan. Seperti pemandangan PKL di Jalan Aloon-aloon Timur. PKL yang biasa mangkal di bahu jalan sisi timur hanya bergeser ke bahu jalan sisi satunya. Padahal, mereka masih berada di jalan yang sama.Yakni, Jalan Aloon-Aloon Timur, yang dilarang untuk berjualan.Pemkab bakal menggunakan bahu jalan timur alun-alun untuk lokasi parkir. ‘’Kalau jualan di dalam (di dalam alun-alun, Red) nggaklaku,’’ kata Suhartini, salah seorang PKL, kemarin (17/3).

Penjual minuman jus tersebut sengaja bergeser lantaran kerap berurusan dengan petugas sejak dua hari terakhir. Suhartini mengaku biasa berjualan jus di sisi barat Jalan Aloon-aloon Timur. Dia bisa meraup Rp 300 ribu saban hari. Namun, penghasilannya turun drastis begitu diminta masuk alun-alun. Sebab, calon pembelinya kebanyakan orang yang sedang melintas. Tak urung, Suhartini dan sejumlah PKL memilih kucing-kucingan dengan petugas agar dapat berjualan kembali di bahu jalan. ‘’Mau bagaimana lagi. Saya harus menghidupi enam anak,’’ terangnya.

Suhartini dkk sepakat menggunakan bahu jalan sisi timur untuk berjualan. Padahal, tetap saja menyalahi aturan. Pun, dia sengaja curi start.Suhartini sudang berjualan sejak pukul 10.00. Padahal, jam buka lapak pukul 15.00. Dia lantas masuk alun-alun bersamaan PKL lain. Namun, sesekali Suhartinisengaja baru pindah menjelang sore. Dia menunggu petugas datang. Lagi-lagi urusan penghasilan menahan Suhartini melanggar aturan. ‘’Kami ini pedagang kecil, kenapa ya harus dilarang-larang,’’ keluhnya.

Suhartini tak menampik sudah mendapat sosialisasi sepekan terakhir. Suhartini mengaku setuju jika harus pindah lokasi karena tidak punya pilihan lain.Namun, dia terpaksa nekat menabrak aturan demi urusan perut. Dia berharap ada solusi dari pemkab yang menguntungkan pedagang. ‘’Daripada tidak boleh berjualan, ya lebih baik saya mengikuti. Mau dari mana lagi pemasukan untuk sehari-hari,’’ ujarnya.

Sebaliknya, Abbas, pedagang lainnya mengaku setuju dengan penertiban tersebut. Sebab, pedagang tidak perlu repot berpindah-pindah hingga saling serobot tempat dengan sesama pedagang. Abbas lebih senang jika PKL dikelola dalam alun-alun seperti daerah lain. Selain itu, dia juga risih lantaran keberadaan PKL kerap dijadikan kambing hitam biang kemacetan. Namun, dia berharap pemkab konsisten dengan aturan main. Persoalan kerap muncul ketika ada satu dua pedagang nakal yang dibiarkan berjualan kembali di bahu jalan maupun trotoar. ‘’Kalau pemkab konsisten kami juga mengikutinya. Prinsipnya kami tetap bisa berjualan itu saja,’’ ujarnya. (Radar Madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: