Mengenal Katiman, Pagi Kepala MI, Malam Scurity "Selalu Berpikir Positif dan Jalani dengan Ikhlas"

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com, Ponorogo - Kerja keras demi keluarga. Itulah yang sehari-hari dijalani Katiman, Kepala MI Muhammadiyah 9 Beton 1, Siman. Saban hari dia melakoni dua pekerjaan sekaligus, sebagai kepala MI sekaligus security di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo.

Usianya sudah tidak muda lagi. Tapi, semangat kerjanya masih menyala-nyala. Saat ditemui Jawa Pos Radar Ponorogo, tidak terlihat raut lelah di wajahnya. Dia baru pulang dari pekerjaan pertamanya. Dan, bersiap kembali ngantor di tempat yang berbeda.

Pagi, Katiman menjadi Kepala MI Muhammadiyah 9 Beton 1, Siman. Sebagai kepala sekolah, Katiman bekerja mulai dari pukul 06.00 hingga 14.00. Tanpa sempat pulang beristirahat di rumah terlebih dahulu, Katiman langsung bergegas menuju kantor keduanya. ‘’Dari sekolah (MI Muhhamadiyah 9 Beton 1), saya langsung. Biasanya memang seperti ini,’’ tuturnya.

Di kantor kedua, tugas yang diemban Katiman berbeda jauh. Jika pagi hingga siang dia bekerja sebagai kepala sekolah, siang hingga malam Katiman menjadi staf security di SMA Muhammadiyah 1 Ponorogo (Muhipo). Sambil melepas dasi dan kaus kakinya, Katiman menjelaskan pekerjaan keduanya sebagai staf security di Muhipo itu dilalui selama delapan jam dalam sehari.

Di Muhipo, ada tiga sif penjagaan. Dia kebagian tugas pukul 14.00 hingga 22.00 atau pada sif kedua. ‘’Jika dapat jatah sif siang, ya langsung ke Muhipo dari sekolah,’’ tambahnya. Tapi, pergantian sif, Katiman harus bekerja dalam 24 jam nonstop. Saat bertemu wartawan koran ini misalnya, malam sebelumnya dia berjaga di Muhipo. Paginya, harus bertugas sebagai kepala sekolah. Selesai sebagai kepala sekolah, dia kembali ke Muhipo lantaran rolling sif siang dengan temannya. ‘’Sebenarnya lelah. Namun dikuat-kuatkan,’’ terang Katiman.

Menurutnya, awal dia bekerja di dua tempat itu pada 2004. Katiman sebelumnya sudah bekerja menjadi guru honorer sejak 1988 di sekolahnya sekarang. Saat itu, dia diperbantukan sebagai guru olahraga. Setelah 16 tahun Katiman bekerja sebagai guru honorer dengan jam mengajar yang tidak lebih dari dua hari, pendapatan tidak seberapa.

Merasa ingin mengubah nasib, Katiman memutuskan mendaftar pekerjaan lain sebagai sampingan. Kebetulan, saat itu Muhipo tengah membuka lowongan staf security. Dia pun diterima. Setelah itu dia naik jabatan sebagai kepala sekolah sejak 2014. ‘’Alhamdulillah saat itu bisa diterima sebagai satpam. Sebab jika hanya mengandalkan satu pekerjaan itu tidak cukup,’’ terangnya.

Agar tidak jenuh, Katiman selalu berpikir positif, yakni apa yang dikerjakannya demi keluarga. Menurut Katiman, jika sudah berpikir seperti itu pekerjaan pun dilalui dengan ikhlas. Meski berat. ‘’Dengan berusaha ikhlas, pekerjaan rasanya jadi lebih mudah untuk dilalui,’’ ungkapnya.

Pun selain berusaha menjaga pikiran positif, Katiman juga menjalin komitmen dengan istrinya. Sejak awal, keduanya sudah sepakat mengenai dua pekerjaan sekaligus itu. ‘’Istri menghormati keputusan saya bekerja di dua tempat. Jatah waktu untuk dia ya malam,’’ ujarnya sambil terkekeh.

Soal pembagian waktu untuk keluarga, Katiman punya hitungan sendiri. ‘’16 jam bekerja, sisanya delapan jam waktu luang saya habiskan di rumah. Tidak kemana-mana,’’ terangnya.

Sampai sekarang, Katiman masih belum bisa memutuskan meninggalkan salah satu pekerjaan itu. Sebab, dia tetap merasa senang menjalaninya karena menganggap semua bagian dari hidup yang harus dilalui. Namun jika harus memilih, kepala sekolah yang jadi pilihannya. ‘’Sebab dengan menjadi kepala sekolah, saya bisa mengajarkan ilmu kepada orang lain. Namun, sepertinya tidak dalam waktu dekat lah,’’ ujarnya.***(MIZAN AHSANI, Ponorogo/Radar Madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: