Inilah Orang Tua Pembuang Bayi Di “Gunung Tengger” Desa Bancangan, Sambit

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Inilah Orang Tua Pembuang Bayi Di “Gunung Tengger” Desa Bancangan, Sambit
Setenpo.com, SAMBIT – Unit Reskrim Polsek Sambit telah berhasil mengungkap pelaku penelantaran bayi atau pembuangan bayi laki - laki pada hari Jum’at, 11 Maret 2016. Pelaku dari pembuangan bayi tersebut ialah AN (17) warga Dkh Namabang Ds Wringinanom Kec. Sambit, Ponorogo selaku ayah dari bayi tersebut dan HPS (17) warga Ds.Jorsan Kec. Mlarak , Ponorogo selaku ibu dari bayi tersebut.

Dan keduanya merupakan pelajar kelas 2 aliyah salah satu Pondok di Kecamatan Mlarak. Dan juga diketahui pelaku lain yakni DS (20) warga Dusun Kedalan Ds. Ngrukem, Kec. Mlarak , Ponorogo yang ikut membantu penelantaran bayi laki – laki tersebut.

Pengungkapan kasus pembuangan bayi yang berhasil ditemukan warga dalam keadaan hidup tersebut bermula dari pemeriksaan petugas dari saksi di lokasi. Petugas mendapat titik terang dari keterangan warga yang melihat dua remaja yang melintas di hari kejadian dengan mengendari sepeda motor Suzuki Smash warna biru. Berbekal itu, petugas mengembangkan penyelidikan dengan memantau pemilik kendaraan tersebut. ‘’Kami mencurigai empat orang di empat desa berbeda. Setelah kami periksa satu per satu kecurigaan mengerucut pada Dik,’’ kata Kapolsek Sambit AKP Supandi.

Dik akhirnya mengaku telah diminta temannya membuang sesutau di daerah kaki bukit Tengger tersebut. Dari ocehan Dik, petugas langsung menjemput An dan Her di tempat tinggal masing-masing. Keduanya tak bisa mengelak setelah dipertemukan dengan Dik. Ketiganya lantas mengaku telah membuang bayi mungil tersebut, Senin (29/2) sekitar pukul 20.00. Dik mengaku hanya mengantar. Dia diminta mengantar An ke kaki bukit Tengger oleh Her. Dik memang teman Her. Namun, Dik mengaku tak mengetahui jika yang dibuang tersebut adalah bayi. ‘’Pengakuan sementara Dik hanya mengantar dengan imbalan Rp 200 ribu,’’ jelasnya.

Bayi dibawa oleh An yang tak lain ayah dari jabang bayi tersebut. Bayi hanya terbungkus kain jarit dengan ari-ari yang masih utuh. Dik mengaku berada di atas sepeda motornya, saat pelaku meletakkan bayi di bawah pohon jati tersebut. Keduanya lantas kembali pulang.

Bagaimana pelaku mulus menyimpan kehamilan? Hasil pemeriksaan sementara, perbuatan bak pasutri tersebut dilakukan setahun terakhir. Keduanya memang berpacaran sejak kelas X. Perbuatan mesum tersebut dilakukan berulang kali. Paling sering di rumah Her. Pasalnya, kedua orang tua Her bekerja di Kalimantan. Pengawasan hanya dilakukan paman Her yang tinggal berbeda rumah. Tak urung, pelaku cukup mulus menutupi kehamilan. Bahkan, dia tetap masuk sekolah seperti biasa. Baju seragam panjang membantu Her menyembunyikan kehamilannya. ‘’Her melahirkan di rumah dibantu An. Ari-ari bayi juga dipotong oleh An,’’ jelasnya sembari menyebut keduanya sempat masuk sekolah setelah persalinan.

Supandi tak menampik pihak keluarga pelaku sempat meminta kasus diselesaikan secara kekeluargaan. Keduanya bakal dinikahkan dan berjanji akan merawat anak yang sempat dibuang tersebut. Namun, pihaknya bakal melanjutkan kasus lantaran terindikasi adanya unsur pidana. Yakni percobaan pembunuhan. Orang tua bayi sengaja membuang di tempat sepi. Pun, bayi diketahui dalam keadaan kehausan. Beruntung terselamatkan lantaran cepat ditemukan warga. Bayi yang sudah membiru tersebut berhasil selamat setelah dirawat di puskesmas setempat. ‘’Kasus ini masih dalam pemeriksaan. Untuk keperluan penyelidikan ketiganya kami tahan,’’ jelasnya.

Bukti yang telah diamankan adalah bayi laki – laki dengan kondisi sehat dan juga gunting yang digunakan untuk memotong tali pusar. Polisi juga telah mengamankan pelaku yang telah membantu membuang bayi tersebut dan juga menghubungi kedua orang tua pelajar tersebut. Dalam kasus ini pelaku akan dikenai pelanggaran tindak pidana penelantaran terhadap anak dalam Pasal 77 UU No.35 Tahun 2014 terhadap anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun.
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: