Kisah Lasno, Warga Terdampak Gerakan Tanah di Tugurejo Slahung

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Kisah Lasno, Warga Terdampak Gerakan Tanah di Tugurejo Slahung
Setenpo.com, SLAHUNG - Malam itu Lasno sedang berada di ruang tengah rumahnya, menonton televisi bersama keluarga, Senin (18/4). Kala itu perasaan warga Dusun Krajan, Desa Tugurejo, Slahung tersebut sedang tidak enak. Dia merasa gundah. Diluar, hujan deras mengguyur. Dia sudah ingin tidur, padahal waktu masih menunjukkan pukul 19.00 atau beberapa saat setelah salat Isya. Tapi, dia memutuskan mengurungkan niatnya berangkat tidur.

Rupanya, beruntung Lasno urung terpejam. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh cukup keras. Arah suara dari sebelah kanan rumahnya atau jalan desa yang menanjak. Baru saja Lasno beranjak hendak mengecek suara gemuruh itu, rumahnya bergetar. Meski tak seberapa hebat, getaran begitu terasa. Telinganya menangkap suara banyak benda terjatuh. ‘’Suara gemuruh terdengar lagi, kali ini dari belakang rumah,’’ katanya.

Lima anggota keluarga Lasno pun panik. Diantara mereka, ada anak dan orang tua Lasno yang sudah renta. Dia pun keluar rumah dan mengecek sumber suara gemuruh. Suara itu disebabkan pergerakan tanah yang mengakibatkan jalan desa di kanan rumahnya ambles setinggi sekitar sepuluh sentimeter. Retakan tersebut kemudian memanjang hingga belakang rumahnya. ‘’Tanah yang amblesnya paling parah di halaman belakang rumah saya,’’ tambahnya.

Benar saja, begitu dicek halaman belakang sudah ambles sekitar 50 sentimeter. Lasno pun kembali masuk ke rumah. Dia kemudian mengajak keluarganya mengungsi. Pilihannya, ke rumah kakak kandungnya di atas bukit. Hujan malam itu masih mengguyur. Mereka nekat menerobos guyuran hujan lantaran rumah terancam bahaya longsor.

Keesokan harinya, hujan sudah reda, Lasno dan keluarganya kembali ke rumah. Belum sampai masuk, dia sudah tahu rumahnya terdampak pergerakan tanah semalam. Sebab, dinding rumahnya terlihat retak. Mengecek masuk, dinding kamar, ruang tengah, hingga dapur dan lantai juga rusak. Lantai rumahnya dia cor pada 2014.

Beberapa tetangganya memilih bertahan karena tidak tahu hendak kemana mengungsi. Padahal, dinding rumah tetangga Lasno juga banyak yang retak dan lantai ambles. ‘’Sebab tidak semua memiliki kerabat yang dekat lokasinya,’’ ujarnya.

Lingkungan rumah Lasno memang rawan pergerakan tanah. Tidak hanya berpotensi longsor, namun juga ambles. Sebelumnya, longsor dan tanah ambles terjadi awal 2014 lalu. Dua rumah roboh, termasuk rumah Lasno. Ya, Lasno sebelumnya sudah pernah menjadi korban. Sebagian harta bendanya bisa diselamatkan. Berbekal penghasilan bertani dan beternak, Lasno membangun rumah baru, di depan rumah lama. ‘’Ya alhamdulillah bisa membangun rumah lagi. Sayangnya kok sekarang retak-retak lagi,’’ terangnya.

Lasno menjelaskan, dia saat ini belum terpikir pindah permanen. Meskipun rumahnya yang pertama sudah roboh dan rumah barunya kini retak-retak. Dia bertahan sambil diliputi cemas. Bagaimana tidak, nyawa keluarganya terancam lantaran pergerakan tanah terjadi tanpa bisa diprediksi. ‘’Yang berat karena pertimbangannya sudah urusan nyawa keluarga. Namun harus pindah dan mencari tempat tinggal baru itu juga bukan perkara mudah. Terutama kendala ekonomi,’’ jelasnya.***(irw)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: