Mengenal Marno, Pembina Dapur Lapas Kelas ll B Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com, Ponorogo - Suara sibuk khas aktivitas memasak terdengar dari luar dapur Lapas Klas II B Ponorogo. Aroma sedap langsung menggoda perut. Di dapur tersebut, alat berukuran serbabesar. Sepuluh orang berpakaian warga binaan tengah sibuk memasak. Ada yang menggoreng, yang lainnya menanak nasi. Diantara mereka, ada satu orang yang berdiri mengawasi. Sesekali dia mencicipi masakan untuk warga binaan itu.

Dia adalah Marno, petugas pembina warga binaan yang khusus mengawasi masakan dan aktivitas di dapur lapas. Menurutnya, suara sibuk memasak terdengar nyaris 24 jam sehari. Pasalnya, dapur tersebut bertanggungjawab menyediakan seluruh makanan dalam satu hari bagi para warga binaan. Dalam sehari, warga binaan yang jumlahnya kisaran 200 orang, mendapat jatah makanan tiga kali, pagi, siang dan malam. ‘’Itu semua kami yang menyediakan,’’ katanya.

Untuk menyiapkan sekali jatah makan, Marno dan warga binaanmembutuhkan hingga waktu empat jam. Misalnya, jadwal makan pagi pukul 07.00. Marno dan personel dapur memasak sejak pukul 02.00 hingga 06.00. Sebelum pukul 02.00, bahan baku makanan dikirim oleh penyuplai. ‘’Yang membuat lama itu prosesnya mulai memotong, mengiris, dan lainnya sesuai jenisnya,’’ tambahnya.

Pun saat menyiapkan menu makan siang dan malam. Untuk menyiapkan makan siang, Marno dan krunya bekerja sejak pukul 07.00, ditarget selesai pukul 11.00. Sementara untuk makan malam, disiapkan sejak pukul 14.00 hingga 18.00. ‘’Intinya makanan sudah harus siap satu jam sebelum dibagikan kepada warga binaan,’’ jelas Marno.

Faktor lain yang menguras waktu adalah jumlah porsi makanan yang harus disiapkan. Maklum, jumlah penghuni lapas ratusan orang. Marno dan krunya wajib menyediakan makanan kepada semua penghuni lapas, tanpa terkecuali. ‘’Banyak warga yang datang dan pergi dalam hitungan hari, mereka juga termasuk dapat jatah makan,’’ ujarnya.

Marno juga setiap hari selalu disibukkan menahkodai kru dapurnya itu lantaran menu masakan tidak sama. Dia mengatakan, menu makan di lapas sangat variatif. Selain itu, menu tersebut juga sudah terjadwal mulai awal hingga akhir bulan. ‘’Sudah ada takaran gizi atau nutrisi dalam setiap makanan. Yang jelas semua menu empat sehat lima sempurna,’’ ungkapnya.

Marno menjabat sebagai pembina dapur sejak tiga tahun lalu. Tapi, dunia masak memasak sudah tak asing bagi bapak dua anak itu. Dia memiliki usaha kuliner sate gule. Tapi, sejak lima tahun warung satenya tutup. ‘’Saya kemudian beralih membuka warung bakso, mi ayam, dan sudah berjalan selama satu tahun ini,’’ ujarnya.

Membina banyak warga binaan dalam dunia masak memasak mendatangkan kepuasan tersendiri bagi Marno. Terutama, jika makanan yang disajikan rasanya mantap. ‘’Ada sekitar lima orang yang setelah keluar mereka berjualan makanan. Ada yang jual nasi goreng, ada juga mi ayam,’’ terangnya.

Meski puas dengan hasil kerjanya, Marno harus menyadari itu ada batasnya. Kini, usianya sudah 56 tahun. Dua tahun lagi, dia memasuki masa pensiun. ‘’Usia tidak bisa saya lawan. Suatu saat saya harus berhenti karena tubuh ini sudah tidak sekuat di masa muda,’’ ujarnya tersenyum.***(irw/radar madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: