Mengenal Sunyoto, Ketua RW di Eks-Lokalisasi Kedungbanteng Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com, Sukorejo - Akhir riwayat eks lokalisasi Kedungbanteng menyisakan setitik kisah mengharu biru. Cerita itu keluar dari generasi pertama warga yang datang ke lokasi tersebut, Sunyoto. Di kawasan itu, dia juga sebagai ketua RW.

Kawasan eks lokalisasi Kedungbanteng kini sepi. Tidak ada lagi suara-suara musik dangdut bersahutan di deretan rumah-rumah. Juga tidak ada sorot lampu warna-warni yang untuk menarik mereka yang sudah melirik. Kini suara yang terdengar adalah palu dan paku. Eks lokalisasi tersebut harus dibongkar warga paling lambat 11 April mendatang. Jika tidak, pemkab yang akan mengambil alih eksekusi.

‘Suara’ lirih datang dari segelintir warga. Soal gambaran mereka ke depan setelah angkat kaki. Salah satunya Sunyoto, 69. Di kala sebagian warga lain berdiam di rumah, Sunyoto memilih tetap melanjutkan rutinitasnya sehari-hari.

Ditemui wartawan koran ini, dia tengah sibuk menjemur jagung. Jagung tersebut berasal dari hasil pertaniannya sendiri. Namun, Sunyoto tidak memiliki kebun dan hanya ditanam di sisa lahan pertanian milik warga lain. Bertani jagung adalah pekerjaan sampingan selama tinggal 34 tahun di eks lokalisasi Kedungbanteng. ‘’Hasilnya sebenarnya kurang. Namun keluarga saya tidak menuntut banyak, makan gaplek pun tidak masalah,’’ tuturnya.

Menurut Sunyoto, kondisi Kedungbanteng saat ini jauh berbeda dengan sebelumnya, sekitar awal 2000-an. Di masa-masa tersebut, warga selalu tersenyum. Karena, sebagian menggantungkan hidup mengais rezeki dari fasilitas penunjang seperti warung kopi, angkringan atau parkir. Kehidupan malam Kedungbanteng bagai oase di tengah padang pasir bagi mereka yang mencari rezeki di sektor lain. Lampu terang menyala, suara musik juga selalu mengentak, mengusir sepi di malam hari. Sekelilingnya, hanya lahan persawahan maupun pekarangan dan cukup jauh dari pemukiman penduduk. ‘’Namun butuh perjuangan supaya bisa ramai begitu,’’ ujarnya.

Sunyoto rombongan pertama warga Ponorogo yang melakukan eksodus ke Kedungbanteng. Kala itu tahun 1982, dia dan 28 warga lainnya menjadi penghuni Kedungbanteng generasi pertama. Lantaran rumahnya di wilayah Ronowijayan, Siman digusur saat itu. Bermodal uang ganti rugi dan laba yang dia peroleh selama dia berjualan di warung, Sunyoto memutuskan untuk pindah. ‘’Dulu dijanjikan, kelak akan mendapatkan sertifikat tanah. Namun nyatanya hanya mendapat izin mendirikan bangunan (IMB) saja,’’ jelasnya.

Ketika datang pertama kali ke eks lokalisasi tersebut, akses jalan jauh dari kata memadai. Jalan menuju Kedungbanteng hanya berupa tanah. Mengunjungi eks lokalisasi tersebut, harus memarkir sepeda motornya di perkampungan desa setempat. Di lokasi itu, Suyoto membuka warung kopi dan makanan. ‘’Maka dulu sepi sekali, dua tahun sejak awal dibuka, belum ada pengunjung,’’ ungkapnya.

Bermodal uang patungan dengan warga lain, Sunyoto dan warga melakukan kerja bakti. Jalan sepanjang satu kilometer dirabat dengan kerikil atau batu grosok dan tanah. Dulu, satu rit pasir masih seharga Rp 2.500. Batu dibelinya di Sampung. Jalan tersebut dikerjakan oleh 19 penghuni laki-laki, dan sepuluh perempuan di Kedungbanteng. ‘’Semua bekerja keras sampai akhirnya bisa mulai ramai pengunjung. Dari ramainya kunjungan itu, perlahan ada regenerasi. Entah usahanya diturunkan ke anaknya, atau ke orang lain,’’ terangnya.

Sunyoto saat ini tidak lagi membuka warung kopi dan makanan di rumahnya untuk memenuhi kebutuhan tiga anggota keluarganya. Bersamanya, istri, satu anak dan seorang cucu. Sementara, ketiga anaknya yang lain sudah berkeluarga dan memilih tinggal di berbagai wilayah seperti Madiun. Kini dia hanya mengandalkan hasil bertani jagung. ‘’Namun, ini masih lebih mending dibanding warga yang lain yang benar-benar tidak bekerja,’’ terangnya.

Yang tersisa dari generasi pertama hanya enam orang termasuk Sunyoto. Menceritakan teman-temannya, tak terasa air matanya mengalir. Maklum, dari ceritanya, teman-teman Sunyoto yang sudah sepuh kini sakit-sakitan. ‘’Kasihan mereka. Kalau yang masih muda mungkin bisa bekerja di luar, tetapi yang sudah tua? Mereka tidak memiliki rumah dan uang, tidak tahu mau kemana,’’ paparnya.

Sunyoto sendiri berencana untuk menyeriusi pertanian jagung. Dia hendak pindah ke sebuah rumah gubuk di areal perkebunan di desa tersebut. Gubuk tersebut dia bangun sendiri, sebagai tempat beristirahat usai mengurusi tanaman jagungnya. Meski belum memiliki rencana segera boyongan, Sunyoto mengaku tidak akan melebihi deadline pemkab. Sebab, saat ini tanaman jagungnya memasuki masa panen. ‘’Saya selesaikan dulu panen ini, mumpung cuaca bagus. Ya untuk bekal,’’ katanya sembari mengusap air matanya.***(irw/radar madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: