Resahkan Wali Murid, Diknas Ponorogo Stop Pemutaran Film Pasukan Berani Mati

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com, PONOROGO – Baru-baru ini wali mirid dibikin resah dengan pemutaran film perjuangan Pasukan Berani Mati yang rencananya bakal ditayangkan diseluruh Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ponorogo. Pasalnya, dari pemutaran film tersebut tiap murid dibebani biaya sejumlah 5. 000 rupiah.

Mengetahui hal tersebut, Dinas Pendidikan Ponorogo yang sebelumnya memberikan surat rekomendasi akhirnya mencabut rekomendasi tersebut dan menghentikannya. Pencabutan rekomendasi dan penghentian ini ditegaskan oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan Ponorogo, Tutut Erliena saat dikonfermasi beberapa wartawan.

Menurut Tutut, Penghentian pemutaran film perjuangan berdurasi 75 menit ini karena telah disalah gunakan oleh pihak ketiga. Hal itu menimbulkan keresahan bagi wali murid karena dalam pemutaran film itu ditarif 5000 per siswa.

Pemutaran film ini, sudah berlangsung sejak Nopember 2015 dan sebenarnya bermaksut untuk menumbuhkan semangat patriotisme dan rasa nasionalisme pada diri anak.

“Jadi itu, sebernarnya kesalahan pada di fihak ketiga dalam pemutar film pasukan berani mati. Karena saat minta rekomendasi di Diknas waktu itu tidak ada kaitannya dengan uang. Dan minta rekomnya di tahun 2015 yang tidak muncul uang Rp 5000,” kata Tutut Erlina.

Berdasarkan surat rekom Diknas saat itu lanjut Tutut, sebenarnya tidak ada kewajiban di sekolah dan lembaga sekolah sendiri berhak memilih untuk menolak atau menyetujui pemutaran film tersebut.

“Jadi kalau tidak ya tidak apa-apa, sebenarnya begitu. Namun dalam perjalannya ternyata meresahkan dan didalam filmnya itu , katanya, karena saya sendiri juga belum melihat, ada kekerasannya. Dengan gejolak itu, maka hari ini kita stop,” katanya.

Atas hal itu, Plt kadiknas lantas memimta kepala upt supaya lebih teliti membaca dan menelaah berbagai surat dan proposal yang masuk ke diknas.

”Saya sudah memerintahkan kepada semua UPTD, ketika ada rekom dari diknas dibaca dengan jelas, kalau memang itu tidak setuju ya tidak apa-apa. Itu juga dipikirkan kalau ada tarikan 5000, kemudian isi filmya seperti apa, itu juga dipikirkan,” tandasnya.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, beberapa wali murid memang merasa keberatan dengan pemutaran film tersebut karena dipungut biaya.

Bahkan ada beberapa sekolah yang mewajibkan kapada murid untuk meringkas cerita dalam film tersebut, meskipun tidak mewajibkan menontonya.

Selain itu dalam film tersebut juga terdapat adegan kekerasan yang tidak layak dipertontonkan kepada anak seusia Sekolah Dasar. (suarajatimpost.com)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: