Pemuda Kreatif yang Pandai Memanfaatkan Bambu Asal Desa Plancungan, Slahung

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Setenpo.com, SLAHUNG - Lemari di ruang tamu tempat tinggal Muhammad Mustaqim penuh dengan hiasan. Kesemuanya miniatur kendaraan. Mulai dari sepeda, motor vespa, hingga kapal. Alat transportasi laut mendominasi. Sejumlah lain ditempatkan di atas meja di ruang yang sama. Tuan rumah memang menyukai kapal. Mulai jenis layar, pinisi, hingga kapal pesiar legendaris Titanic. Ukurannya cukup besar. Yakni mencapai panjang satu meter. Miniatur alat transportasi berbahan bambu itu merupakan buatan Taqim –sapaan Muhammad Mustaqim-. ‘’Kapal Titanic paling susah dan lama,’’ kata pria yang tinggal di Desa Plancungan, Slahung itu.

Pembuatan miniatur kapal yang kandas di tengah samudera itu lebih dari sebulan. Sebab, kapal buatannya cukup besar untuk ukuran miniatur. Dia membutuhkan belasan meter bambu sebagai bahan. Miniatur buatannya cukup detail. Mulai bentuk dasar, hingga aksesori di bagian dek kapal. Sejumlah ruang bertingkat di atas dek nyaris sama dengan yang ditampilkan pada film. Empat cerobong asap juga ditambahkan di bagian tengah. Juga ada pagar pengaman yang di sekeliling kapal. ‘’Paling susah membuat kedua sisi presisi. Kadang sudah jadi tapi sisi kiri dan kanan tidak sama. Terpaksa bongkar lagi,’’ terang pria 20 tahun itu.

Beberapa miniatur kapal lain made in Taqim juga tak kalah hebat. Kapal layar model pinisi cukup menarik perhatian. Pria lulusan madrasah aliyah itu sudah memberikan sentuhan politur saat finishing. Tak urung, kapal berukuran setengah meter tersebut tampak mengkilap. Beberapa lainnya sengaja berlapis cat. Taqim mengaku sejumlah kapal buatan masih cukup kasar. Itu lantaran bahan belum sempat diampelas. Terutama sejumlah produknya di awal pembuatan. Sebab, Taqim hanya belajar dari melihat gambar di media. ‘’Awalnya buat satu terus minta teman untuk menilai. Saya perbaiki kekurangannya hingga seperti yang sekarang,’’ paparnya.

Kreativitas Taqim memang otodidak. Awalnya, dia hanya tertarik memanfaatkan bambu dari warga desa tempat tinggalnya. Kala itu tetangganya membuat aneka anyaman dari bambu. Tanaman dengan nama latin bambusodaeitu memang melimpah di Desa Plancungan. Taqim bersama dua orang temannya lantas mencoba membuat suatu mainan sekitar 2013 silam atau saat dirinya kelas XII. Kedua temannya membuat miniatur sepeda motor kala itu. Sedang, Taqim memilih membuat kapal. ‘’Saya pikir kapal itu unik. Banyak bambu yang dikreasikan,’’ kenangnya.

Taqim mengaku menggunakan bambu jenis ori dan apus. Bambu apus sebagai bahan badan kapal. Sebab, tekstur bambu apus cukup kuat. Bahan bambu dipilih pada bagian tengah. Yakni, tidak terlalu muda di bagian atas atau tidak terlalu tua di bagian bawah. Bambu lantas dipotong sepanjang ros. Bagian kulit harus dikupas. Bambu lantas didiamkan selama satu minggu. Tujuannya agar kering. Tapi tidak boleh terkena cahaya matahari langsung. Sebab, bambu dapat melengkung. ‘’Setelah itu tinggal dipotong lagi menyesuikan kebutuhan. Mulai dari kerangka, bagian dinding yang dipotong tipis-tipis, hingga bagian aksesori,’’ paparnya sembari menyebut layar, anak tangga, dan cerobong sebagai aksesorinya.

Bahan bukan lantas langsung dapat diproses. Potongan-potongan bambu itu harus kembali didiamkan. Ukurannya hingga layu. Jika bahan terlalu kering dapat langsung rusak saat dibentuk. Sedang, jika terlalu basah dapat melengkung saat sudah jadi. Sembari menunggu layu, Taqim menghaluskan bahan dengan ampelas. Proses ampelas harus searah. Sebab, serat bambu mudah rusak. Proses biasanya memakan waktu tiga hari. Tak urung, perlu waktu sepuluh hari sebelum dapat pengerjaan. ‘’Harus telaten memang. Tidak bisa dipaksakan harus jadi segera,’’ ungkap bungsu tiga bersaudara pasangan Tukiman dan Nafsiah itu.

Bagian pertama yang dibuat Taqim adalah kerangka kapal. Kerangka menentukan ukuran dan presisi kendaraan air itu. Setelah kerangka jadi, bagian dinding mulai direkatkan. Dia menggunakan lem. Pemasangan harus hati-hati agar tidak melengkung. Aksesori ditambahkan sebagai pemanis. Total pembuatan membutuhkan waktu tiga sampai empat hari jika semua bahan sudah siap. ‘’Dulu sebenarnya hanya untuk mainan sendiri. Ternyata ada yang membeli dan keterusan sampai sekarang,’’ pungkasnya sembari menyebut pesanan datang dari Trenggalek dan Wonogiri tersebut.
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: