BPOM: Daftar Makanan yang Positif Boraks, Formalin dan Pewarna Tekstil di Pasar Songgolangit Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Membeli bahan makanan di pasar wajib hati-hati. Sebab, masih banyak praktik nakal produsen yang nekat mencampur barang dagangan mereka dengan zat kimia. Tujuannya, agar lebih untung tapi merugikan konsumen karena kesehatan terancam. Kemarin (28/7), tim Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) Surabaya menggelar penyuluhan sekaligus memeriksa sampel bahan makanan yang dijual di Pasar Legi Songgolangit. Hasilnya, lima bahan makanan positif mengandung zat kimia yang dapat membahayakan tubuh.

Staf Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen Balai Besar POM Surabaya, Umi Barokah menjelaskan, dari pengecekan sejumlah sampel bahan makanan di pasar tersebut, ada tiga zat kimia berbahaya yang ditemukan. Yakni boraks, formalin dan pewarna tekstil. Ketiga zat kimia ditemukan di berbagai bahan makanan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat. Boraks misalnya, zat kimia tersebut positif ditemukan di tiga bahan makanan, yakni kerupuk puli, kerupuk rambak tepung dan janggelan. Padahal, janggelan dan kerupuk adalah bahan makanan yang laris manis. Bahkan bagi kalangan pelajar, janggelan merupakan salah satu campuran minuman favorit. ‘’Di beberapa sekolah di Ponorogo yang juga kami cek, janggelan positif mengandung boraks,’’ ujarnya.

Selain boraks, zat kimia yang positif ditemukan adalah formalin. Ikan asin sepat dan mi basah merupakan dua bahan makanan yang positif mengandung formalin. Menurut Umi, formalin banyak digunakan di ikan asin agar lebih awet dan tidak cepat busuk. Sementara Umi menyebut, mi basah yang dijual di berbagai pasar di Jatim memang rata-rata mengandung formalin. Sayangnya di Ponorogo, Umi menyebut sulit untuk mendapatkan mie basah. Sebab, mie basah hanya dijual kala malam di pasar-pasar, termasuk Pasar Legi Songgolangit. ‘’Untuk mi kami harus membeli sendiri malam sebelumnya dan dicek,’’ terangnya.

Selain dua zat kimia tersebut, pewarna tekstil juga positif ditemukan terkandung dalam bahan makanan. Bahan makanan tersebut yakni kerupuk bawang. Kandungan pewarna tekstil yang terkandung yakni Rhodamine B. Menurut Umi, Rhodamine B merupakan pewarna dengan karakteristik warna merah menyala. Sehingga, membuat bahan makanan menjadi terlihat lebih menarik. Padahal, Rhodamine B merupakan salah satu dari 30 pewarna berbahaya yang bersifat karsinogenik atau bisa menyebabkan kanker. ‘’Daftar larangan pewarna itu sebenarnya sudah ada bahkan sejak 1980 dan dilarang dicampurkan ke bahan makanan, suplemen, maupun obat,’’ ujarnya.

Menurut Umi, sejumlah zat kimia itu berbahaya bila dikonsumsi oleh masyarakat. Terlebih, jika dikonsumi dalam jangka waktu yang lama. Sebab, pengaruh ketiganya bersifat kumulatif. Artinya, seberapa parah dampak yang diderita tergantung seberapa banyak konsuminya. Berbeda dengan makanan yang terkandung bakteri. Dampaknya langsung dapat terasa di perut setelah dikonsumsi. ‘’Boraks contohnya, jika dikonsumsi dalam jumlah banyak lambat laun menyerang ginjal. Pengonsumsi bisa gagal ginjal,’’ sebutnya.

Ke depan, pengelola pasar akan dilatih mengecek zat kimia berbahaya dalam makanan. Termasuk, pengelola Pasar Legi Songgolangit. Menurut Umi, pihaknya juga akan memberikan alat-alat yang diperlukan, dana untuk membeli sampel makanan, serta honor bagi penguji. ‘’Sehingga, pengelola pasar bisa mengamankan makanan yang dijual di pasarnya sendiri,’’ ujarnya.(mg4/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: