Desti Aulia Ardianti Sinden Cilik dari Pulung

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Desti Aulia Ardianti Sinden Cilik dari Pulung
PULUNG - Suara yang keluar dari bibir mungil itu merdu, kala menirukan para sinden dalam pementasan wayang di layar televisinya. Cukup lama bocah perempuan itu berdiam di depan televisi. Kala orang tuanya mematikan tayangan dari sebuah kaset DVD tersebut, sang anak menangis. Dia mengerang hingga orang tuanya kembali memutar tayangan tersebut. Anak itu kembali diam dan menirukan suara merdu sinden tersebut.

Tujuh tahun kemudian, bocah perempuan yang kini kelas 4 salah satu SD di Kesugihan, Pulung itu, tidak hanya tampil di depan televisi. Dia sudah nyinden di berbagai pementasan wayang beberapa daerah. Padahal usianya kini baru sepuluh tahun. Dia adalah Desti Aulia Ardianti, sinden cilik asal bumi reyog. Kepada wartawan Jawa Pos Radar Ponorogo, dia mengaku sudah pernah tampil di Madiun, Magetan, Wonogiri, Jogjakarta hingga Malang. ‘’Kalau di Ponorogo, sudah pernah tampil sama seluruh dalang terkenal,’’ katanya.

Kemampuan Desti nyinden tersebar dari mulut ke mulut. Usai tampil di berbagai daerah tersebut, penonton yang terkesan pun merekam penampilan Desti dan mengunggahnya di media sosial. Hasilnya, ribuan penonton yang mampir menyaksikan sejumlah penampilan Desti. Bahkan, video di youtube itu sampai membawa Desti pada sebuah kesempatan langka. Tiga tahun lalu, sebuah tawaran untuk belajar sinden sempat mampir kepada Desti. Yang menawari tidak main-main, pelawak, aktris, sinden atau pegiat seni asal Jogjakarta, Yati Pesek. Oleh Yati, Desti ditawari serius belajar sinden di sanggarnya. ‘’Namun sama orangtua belum boleh. Bapak belum tega karena saya anak tunggal,’’ terangnya.

Awal Desti mulai menekuni sinden dimulai sejak dia berusia dua tahun. Kala itu, Desti kecil tinggal bersama kedua orangtuanya di Jakarta. Selama ayahnya sibuk bekerja pagi hingga sore, Desti ditinggal di rumah bersama ibunya. Sebagai hiburan, ibunya memainkan sejumlah pewayangan atau gending-gending di DVD. ‘’Suka dari tayangan DVD itu,’’ ujarnya.

Lambat laun, pagelaran wayang dan gending menjadi tontonan favorit Desti. Saat sudah kembali ke Ponorogo kala usia tiga tahun, Desti semakin menunjukkan minat yang tinggi menjadi sinden. Lantas, sang ayah membelikannya fasilitas karaoke untuk Desti menirukan gending-gending yang diputar di DVD. Tak disangka, dia cukup cepat belajar. Tidak hanya lirik gending tersebut, namun juga teknik sinden. ‘’Umur empat tahun saya lalu mendapat tawaran nyinden di lingkungan sekitar,’’ jelasnya.

Kala itu, menurut warga desanya, Desti dinilai berbakat. Pun, karena usianya yang baru menginjak empat tahun, kemampuannya mudah tersiar ke lingkungan sekitar. Setelah itu, untuk meningkatkan kemampuannya, Desti tidak hanya latihan sendiri di rumah. Dia juga latihan dengan teman-teman sebayanya. Latihan setiap Selasa malam. Desti pun mendapat kesempatan tampil di event yang cukup besar, yakni pelantikan kepala desa setempat, saat berusia tujuh tahun. Ketika ditanya sempat grogi di awal-awal dia tampil di depan umum, Desti menjawab tidak. ‘’Saya justru senang tampil di depan banyak orang. Tidak merasa takut,’’ sebutnya.

Perlahan, permintaan tampil berdatangan kepada Desti. Suatu ketika, Desti sempat tampil selama 14 hari berturut-turut. Menurut Desti, kesibukannya itu tidak membuat sekolahnya terganggu. Sebab, dia lebih mengutamakan waktu sekolah jika tempat pementasan terlalu jauh. Jika terpaksa, dia memilih izin sekolah dan mengejar ketinggalan di kelas dengan belajar bersama temannya. Jika pementasan di seputaran Ponorogo, dia merasa tidak ada masalah. Desti memang getol untuk terus tampil nyinden. Sebab, dia sudah mantap memutuskan untuk menjadi seorang sinden, kelak. ‘’Inginnya nanti bisa sekolah seni, fokus belajar sinden karena sudah menjadi cita-cita,’’ ujarnya.***(irw)

Sumber : www.radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: