Astaga ! Pak Guru di Ngawi Gerayangi 4 Siswi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
NGAWI – Aksi predator anak bagaikan fenomena gunung es di Ngawi. Satu persatu kasus bermunculan. Setelah pelajar SMK yang disetubuhi tiga kerabatnya, kali ini giliran Dwi Prasetya Nugraha, 32, guru honorer salah satu SD swasta di Kedunggalar ketahuan berbuat bejat. Oknum guru bahasa Inggris yang kini menjadi wali kelas III SD ini sungguh raja tega, dia nekat melakukan tindakan pelecehan seksual kepada empat siswi kelas III SD yang diampunya. ‘’Perbuatannya dilakukan pada Kamis (21/7) hingga Kamis (28/7) lalu,’’ kata Kasubag Humas Polres Ngawi AKP Subardi, kemarin (22/8).

Kelakuan oknum guru ini bikin miris. Pras-panggilan akrab Dwi Prasetya Nugraha ini- nekat memegang area terlarang anak didiknya yang masih bau kencur. Untuk memperkuat kasus ini, polisi sudah meminta keterangan empat saksi korban, Mawar, Melati, Dahlia dan Jingga (bukan nama sebenarnya). Keempatnya yang masih berusia delapan tahun menceritakan tindak tanduk oknum guru Pras selama berada di dalam kelas. ‘’Kasus ini terbongkar setelah orang tua Jingga (bukan nama sebenarnya, Red) yang melaporkan perbuatan tidak senonoh ini pada kepala sekolah diteruskan ke Polres Ngawi,’’ terangnya.

Polisi berupaya mengumpulkan barang bukti dalam kasus ini. Petugas juga bergerak cepat mengamankan tersangka pada Jumat (19/8) lalu. Dari hasil penyelidikan, perbuatan mesum bapak satu anak itu dilakukan saat pelajaran membaca berlangsung. ‘’Kami mengamankan seragam dan buku tulis milik siswi,’’ jelasnya.

Wali kelas III itu mengajar layaknya guru pada umumnya dengan memberikan soal. Kemudian dilakukan pemeriksaan satu persatu dan meminta agar siswa maju ke depan. Jika yang maju ke depan adalah siswa laki-laki, Pras yang tercatat sebagai guru di sekolah itu sejak 2012 itu meminta agar berdiri di dekat sampingnya. Namun, Pras akan memangku siswi yang maju ke depan kelas. ‘’Siswinya dipangku, kemudian tangannya meraba-raba bagian sensitif korban, tapi tidak dimasukkan. Beda kalau laki-laki, hanya diminta berdiri saja,’’ terangnya kepada Jawa Pos Radar Lawu.

Informasi yang dihimpun wartawan koran ini, aksi cabul oknum guru ini bukan yang pertama terjadi. Akibat kejadian pelecehan seksual tersebut, sudah ada lima siswi yang mengajukan pindah sekolah. Atas perbuatannya, Pras dijerat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sementara itu, Waluyo Jati Sasono, penasehat hukum (PH) oknum guru Dwi Prasetya Nugraha menjelaskan, kliennya mengakui jika memangku siswi saat pelajaran. Namun itu karena permintaan dari siswinya sendiri. Pun, rabaan yang dimaksud tersebut tidak disengaja. Dalihnya adalah karena masih anak kecil, sering bergerak, sehingga tidak sengaja tangannya menyentuh area sensitif. ‘’Dan tangannya masih di luar, tidak masuk ke dalam seragam,’’ katanya.

Salah seorang ibu korban mengetahui anaknya menjadi korban setelah diberitahu salah seorang orang tua korban. Dia pun kaget dan sempat mengkonfirmasi hal itu pada buah hatinya. ‘’Saya harap dapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya,’’ pinta ibu korban. (mg3/aan)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: