’Berapa pun Rezekinya, Sebagian Selalu Saya Sisihkan’’

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BABADAN - Cuaca sedang panas terik. Juri Amat Syair (64) pria asal Desa Polorejo, Kecamatan Babadan berada di sawah yang sudah mengering bersama salah seorang anaknya memanen padi. Sesekali Juri mengusap peluh yang mengucur.

Ajakan anaknya untuk beristirahat sedari tadi tak berhasil menghentikan semangat Juri. Menjawab ajakan anaknya, dia menggunakan bahasa Jawa tapi kental pengaruh logat Melayu. Maklum, Juri sudah puluhan tahun tinggal di Riau dan baru kembali sepuluh tahun lalu. Hasil yang didapat dari merantau puluhan tahun itu mampu memberangkatkannya ke Tanah Suci tahun ini. Jika tak ada aral melintang, Juri akan berangkat bersama 352 calon jamaah haji lainnya asal Ponorogo, Kamis (11/8) mendatang. ‘’Alhamdulillah, karena sudah ada niatan untuk naik haji sejak usia 16 tahun,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Ponorogo.

Impiannya berangkat ke Tanah Suci tersemai dalam hati Juri sejak usia 16 tahun. Saat itu, Juri selesai mengenyam pendidikan di salah satu pondok pesantren di Sampung. Orangtuanya berpesan jika kelak sudah bekerja dan punya penghasilan, sebaiknya disisihkan sebagai tabungan untuk naik haji, menyempurnakan agama. Di tahun 1975, Juri ikut program transmigrasi. Kala itu, daerah tujuannya adalah Indragiri Hilir, Kabupaten Riau. ‘’Disana saya mendapat jatah petak sawah untuk digarap,’’ kenangnya.

Selain bertani, Juri yang kala itu masih bujangan juga bekerja sampingan dengan berkebun. Saat itu, dia hanya ingin mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Lelah yang dirasakan setiap hari bukan masalah baginya. Semangat itu tetap berlanjut hingga akhirnya Juri menikah dengan perempuan pujaan hati. Sedikit demi sedikit, tabungan haji Juri terkumpul. ‘’Berapapun rezeki yang saya dapat, sebagian selalu sisihkan untuk tabungan,’’ jelasnya.

Tantangan mulai datang. Selalu ada saja keperluan mendesak yang memaksa Juri mengeluarkan tabungan hajinya. Mulai dari keperluan sehari-hari, hingga biaya sekolah anak-anaknya. Terlebih, harga gabah di Riau sempat tidak stabil dalam kurun waktu cukup lama. Terkadang, harga gabah yang didapat lebih dari cukup. Namun tak jarang pula, harganya anjlok hingga dia kesulitan membiayai kebutuhan harian keluaganya. Saat akhir perantauannya di tahun 2006, tabungan haji Juri habis tak bersisa. ‘’Jika tidak tercapai, yang penting sudah berniat dan berusaha untuk naik haji,’’ ujarnya dengan logat Melayu yang masih kental.

Tapi, Tuhan berkehendak lain. Usai ketiga anak Juri lulus sekolah, dia dan keluarganya memutuskan kembali ke Ponorogo. Sebagian besar uang yang dia peroleh dari hasil merantau berpuluh tahun digunakan membeli sawah di Polorejo. Sementara, sawah di Indragiri Hilir digarap kerabat. ‘’Alhamdulillah sampai sekarang kerabat disana selalu membagi hasil panen,’’ terangnya.

Juri yang kala itu sudah tidak memiliki tabungan haji, kemudian disarankan anaknya untuk kembali menabung. Sebab, setelah dihitung ada sisa tabungan pendidikan untuk ketiga anaknya. Mereka sepakat menyerahkan kembali biaya pendidikan itu kepada Juri untuk tambahan tabungan haji. Seperti mendapat petunjuk, dia pun kembali mengumpulkan uang dari hasil bertani. Akhirnya di tahun 2010, dengan sebagian tabungan yang sudah dikumpulkan, Juri memutuskan mendaftar haji. Dan, impian Juri kala masih menjadi pemuda 16 tahun itu pada akhirnya terwujud di usianya yang ke-57 tahun. ‘’Saya sangat bersyukur, akhirnya bisa memenuhi pesan orangtua ketika saya masih muda dan berkesempatan menyempurnakan agama saya,’’ ujarnya.***(irw)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: