Jual Pil Dextrometorphan Tanpa Resep Apotek Seharusnya Ikut Ditindak

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Hangatnya keluarga menjadi hal yang mahal bagi Juli Tri Prasetyaningrum, warga Mangkujayan, Ponorogo. Sebab, dia tak lama lagi bakal mendekam di penjara yang dingin. Perempuan 46 tahun itu divonis tujuh bulan penjara atas perkara peredaran pil Dextrometorphan. Itu, sesuai vonis majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Ponorogo, kemarin (22/8). Vonis tersebut menjadi ganjaran atas ulahnya mengedarkan pil Dextrometorphan.

Sepanjang persidangan, Juli hanya terduduk lesu. Selain divonis tujuh bulan penjara, Juli juga harus membayar denda Rp 300 ribu. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Erfan Nurcahyo. Sebelumnya, Erfan menuntut Juli satu tahun penjara dengan denda Rp 300 ribu dan hukuman subsider dua bulan penjara. Kendati terlihat lemas sepanjang persidangan, Juli menerima putusan tersebut. ‘’Saya menerima putusan majelis hakim,’’ ujarnya saat persidangan.

Juli ditahan sejak 12 April lalu, atas tindakan mengedarkan pil Dextrometorphan (DMP) atau biasa dikenal dextro. Dextro yang biasa ditujukan sebagai resep obat batuk itu termasuk sering disalahgunakan sebagai pil koplo, terutama di kalangan remaja. Nah, saat Operasi Berantas Sindikat Narkoba (Bersinar) Maret hingga April lalu, Juli kedapatan membawa 110 butir pil dextro. ‘’Tindakannya melanggar pasal 196 UU Nomor 36/2009 tentang kesehatan,’’ ujar ketua majelis hakim, Rudy Setyawan.

Menurut Rudy, vonis tujuh bulan penjara terhadap Juli didasarkan pada sejumlah pertimbangan. Juli dalam persidangan sebelumnya mengakui dan menyesali perbuatannya. Selain itu, dia juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Satu lagi yang mendasari vonis, status Juli sebagai kepala keluarga. ‘’Karena dia juga menjadi tulang punggung bagi keluarganya,’’ terangnya.

Terkait kasus yang menimpa Juli tersebut, Rudy punya pandangan tersendiri. Menurutnya, kebanyakan yang ditangkap dan diadili adalah para pelaku pengedar pil koplo yang kroco-kroco saja. Sementara, penjual obat-obatan dalam skala besar, termasuk apotek, tidak ditindak. Padahal menurut Rudy, sesuai regulasi, apotek seharusnya hanya melayani pembelian obat melalui resep. ‘’Nah apotek-apotek yang nekat menjual tanpa melalui resep itu juga seharusnya ditindak. Tidak beraninya ke kroco saja,’’ ujarnya.(mg4/irw/radarmadiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: