Mengenal AKP Imam Mustolih, Kasatlantas Polres Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Senyumanya mengembang kala pria berpangkat AKP ini pertama kali menjejakkan kaki di Mapolres Ponorogo, kemarin (2/8). Ekspresi yang dia tunjukkan berbanding terbalik dengan awal 2015 lalu. Perasaan tidak enak justru menyelimuti hati pria bernama lengkap Imam Mustolih, kala menjejakkan kakinya di Poso, Sulawesi Tengah. Saat itu, Imam tersadar, rasa aman sangat mahal di daerah konflik seperti Poso.

Berbeda dengan di Ponorogo, senyum Imam yang mengembang itu merupakan bentuk optimismenya membenahi sejumlah persoalan lalu lintas di bumi reyog. Imam adalah Kasatlantas Polres Ponorogo yang baru. Dia menggantikan AKP Andi Yudha Pranata Siboro, yang dipindah tugas di Polsek Klojen, Polres Malang Kota. Sementara Imam, sebelumnya bertugas sebagai Kasat Binmas Polres Malang Kota.

Tiba di Ponorogo, sederet persoalan berkaitan dengan lalu lintas sudah menanti Imam untuk dipecahkan. Kendati demikian, dia mengklaim punya beragam terobosan untuk memecahkan sejumlah permasalahan lalu lintas. Salah satu persoalan lalu lintas yang dibidik Imam adalah tingginya kecelakaan yang melibatkan anak di bawah umur. Salah satu rencana Imam untuk menekan kejadian itu dengan menggandeng sekolah-sekolah untuk melakukan tindakan preventif. Yakni, melarang siswa yang belum punya SIM membawa sepeda motor ke sekolah. ‘’Menyelesaikan permasalahan tersebut memang butuh kerjasama dengan berbagai pihak, karena kompleks,’’ jelasnya.

Selain permasalahan anak di bawah umur, Imam juga menyoroti minimnya personel di kesatuannya. Dia menyebut, wilayah Ponorogo dengan 21 kecamatan seharusnya diimbangi personel satlantas yang banyak pula. Saat ini, personel di Satlantas Polres Ponorogo hanya 86 orang. Dia berkaca dari personel satlantas di Polres Malang Kota. Wilayah hukum Polres Malang Kota hanya ada lima kecamatan. Kendati demikian, jumlah personel mencapai sekitar 150 anggota. ‘’Idealnya di Ponorogo sekitar 150 orang, jika dilihat dari luas wilayahnya,’’ terangnya.

Imam memang dikenal punya berbagai terobosan menanggulangi persoalan yang berkaitan dengan bidang tugasnya. Setidaknya, perjalanan karirnya yang panjang dan berliku juga berkontribusi dalam membentuk sikap tersebut. Lulus dari Akpol 2008 lalu, Imam yang termasuk sepuluh besar lulusan terbaik itu pertama kali ditugaskan di Polresta Surakarta. Kota Solo merupakan tempat Imam meniti karir. Mulai dari bertugas di KBO Satlantas, hingga Kanit Buser di Satreskrim pernah dia jajal. Perjalanannya di Solo berakhir di tahun 2012. ‘’Tahun 2012, saya kemudian dipindah ke Polres Boyolali,’’ ujarnya.

Di Polres Boyolali, Imam bertugas sebagai KBO Satlantas hingga tahun 2014. Cukup lama di Boyolali, surat tugas yang dia terima kemudian mengagetkannya. Kala itu, Imam mendapat tugas baru di Roops Polda Sulteng. Di wilayah Polda Sulteng tersebut, Imam ditugasi di Poso selama tujuh bulan. Selain itu, dia juga sempat mendapat tugas di Toli-Toli selama lima bulan. Padahal, jarak yang harus ditempuh antara Toli-Toli dan Poso sangat jauh. Butuh waktu hingga 14 jam perjalanan darat untuk bisa sampai. Tidak hanya itu, Imam juga menilai rasa aman sangat mahal. ‘’Selepas Maghrib, semua orang sudah mengunci rumahnya masing-masing. Benar-benar tidak seperti disini,’’ kenangnya.

Kendati demikian, bertugas di wilayah konflik membentuk berbagai sikap positif dalam diri Imam. Dari Polda Sulteng, Imam ditugaskan menjadi Kasat Binmas di Polres Malang Kota, akhir 2015 lalu. Dalam hitungan bulan bertugas di Malang, Imam sudah menelurkan terobosan. Dia mencanangkan program Polisi Mitra RW. Yakni, ada polisi yang bertugas jaga selama 24 jam di setiap RW untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di lingkungan tersebut. ‘’Semua butuh dukungan banyak pihak. Termasuk masyarakat Ponorogo juga harus proaktif,’’ jelasnya.***(irw)

MIZAN AHSANI , Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: