Mengenal Bejo, Difabel Serba Bisa Asal Desa Sahang, Ngebel

Sponsored Ad

Sponsored Ad
NGEBEL - Obrolan sejumlah pria di teras rumah pagi itu begitu hangat dan akrab. Aroma khas kopi menyeruak di tengah riuh suara mereka. Sang empunya rumah, pria berperawakan kecil meraih cangkir kopi di depannya dan menyeruput isinya. Aktivitas sederhana itu begitu menarik perhatian. Pasalnya, pria itu memegang cangkir dengan jemari salah satu kakinya.

Bejo nama pria itu tidak sedang main akrobat. Kedua kakinya terutama sebelah kiri sudah terbiasa digunakan beraktivitas. Pasalnya, dia tidak memiliki sepasang tangan sejak lahir. ‘’Minum pakai cangkir lebih mudah. Kalau gelas harus pakai sedotan,’’ ujarnya dengan intonasi sedikit tidak jelas.

Selain tak memiliki tangan, Bejo juga menderita sumbing. Namun, kondisi itu tak membuatnya minder. Dengan kekurangan yang dimiliki, pemuda itu tidak terlihat lemah dan pasrah. Tidak hanya makan dan minum saja yang bisa dikerjakan. Pekerjaan berat lainnya juga dilakukannya sendiri. Mulai, mencari rumput, mencari kayu, menggergaji, naik pohon, hingga berkirim pesan melalui ponselnya. ‘’Cuma mencangkul dan panjat pohon kelapa yang saya tidak bisa,’’ kelakarnya disambut tawa teman-teman ngobrolnya.

Bejo lantas mengambil handphone (HP) dari atas meja rumah. Benda pipih itu dijepit menggunakan telunjuk dan jempol kaki kirinya. Kemudian, ibu jarinya mulai menekan huruf-huruf pada keypad HP. Sederet huruf membentuk kalimat langsung bermunculan. Dan pesan singkat itu pun langsung terkirim ke nomor yang dituju. Meskipun tidak sempat mengenyam bangku sekolah, bukan berarti Bejo buta huruf. Bungsu tiga bersaudara itu belajar membaca dan menulis dari kakak-kakaknya. ‘’Dulu mau sekolah sempat minder. Akhirnya belajar sendiri di rumah,’’ tuturnya.

Tidak percaya diri dan malu memang dirasakan Bejo saat dia masih bocah. Namun dengan bertambahnya usia perasaan sensitif itu mulai hilang. Orang tua, saudara dan teman-teman banyak yang memberinya semangat sehingga Bejo mampu mandiri. Kini, pemuda itu nyaris tak pernah menganggur.



Saat matahari beranjak tinggi, dia meninggalkan rumah sambil membawa sabit. Bejo harus mencari rumput untuk kambing-kambing piaraannya. Saat ini ada delapan ekor kambing yang dipiaranya. Semula hanya dua ekor saja yang dia punya. Kemudian, ada dermawan yang memberinya dua ekor kambing setelah video aktivitas Bejo menggembala di-upload salah seorang temannya di media sosial. ‘’Setiap hari saya harus cari makanan untuk kambing saya,’’ imbuhnya.

Selain beternak kambing, para tetangga juga sering menggunakan jasa Bejo. Dia kerap membantu panen manggis atau coklat. Upah kerja membantu panen itu digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari. Dia tidak ingin merepotkan kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga meskipun dia tinggal dengan salah seorang di antaranya. ‘’Ibu saya sudah meninggal saat saya berusia 10 bulan. Sedangkan ayah meninggal tahun 2010 lalu,’’ ungkapnya.

Dari mendiang ayahnya, Bejo belajar menjadi pribadi yang suka bekerja keras. Pekerjaan seberat apapun dia lakoni asal fisiknya sanggup. Termasuk mengangkat batang kayu roboh di kebun rumahnya. Kayu sepanjang delapan meter dengan berat belasan kilogram itu dengan mudah diangkat ke atas pundak dengan menggunakan kakinya. Sampai di rumah, batang kayu itu digergaji menjadi potongan lebih kecil. ‘’Ayah saya pernah berpesan untuk tidak bergantung pada orang lain meskipun keadaan saya begini,’’ ucapnya lugas. (*/yup)

AGIK NURCAHYO, Ngebel
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: