Pengendara Dibawah Umur: Kebanggaan atau Kelalaian Orang Tua?

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Wacana bupati Ipong Muchlissoni menyediakan bus sekolah di Ponorogo tampaknya perlu disegerakan. Tingkat penggunaan kendaraan bermotor di jalan raya oleh pelajar cukup tinggi.

Menyusul kerap terjadinya kecelakaan lalu lintas yang korbannya anak dibawah umur, serta banyaknya keluhan yang masuk ke Satlantas Polres Ponorogo terkait banyak pelajar yang menggunakan motor tidak memilik surat ijin mengemudi bahkan memacu kendaraanya dengan ugal ugalan. Satuan Lalu Lintas Polres Ponorogo merazia kendaraan disejumlah titik.

Hasilnya cukup mencengangkan dalam 30 menit razia total sebanyak 150 pelajar terdiri dari , 120 pelajar SMP diantaranya SMP 1 terjaring 12 siswa, SMP 2 terjaring 4 siswa, SMP 3 terdapat 4 siswa, untuk SMP 4 terjaring 3 siswa, sedangkan untuk SMP 5 paling tinggi yakni sebanyak 59 siswa, dan SMP 6 ada 38 siswa yang terjaring rasia kendaraan bermotor

Selain para pelajar SMP polisi juga melakukan penindakan terhadap pelajar SMA sebanyak 30 pelajar dari berbagai sekolah.

Ada 2 kesalahan fatal yang dilanggar para pelajar tersebut yang pertama yakni mengemudikan kendaraan sebelum waktu yang diijinkan oleh peraturan lalu lintas, serta tidak dilengkapi dengan kelengkapan keselamatan berkendara.

KBO Satlantas Polres Ponorogo Ipda Yoyok Wijanarko, polres Ponorogo mengatakan, upaya penindakan ini merupakan langkah polri untuk menekan tingginya angka kecelakaan di wilayah hukum polres Ponorogo.

Pihaknya tak sembarangan melakukan razia. Survei sengaja dilakukan sebelumnya. Siswa SMP yang mengendarai sepeda motor tidak memarkir kendaraannya di lingkungan sekolah. Namun, di pinggir jalan sekitar sekolah. Yoyok memprediksi pengendara sepeda motor di tingkat pelajar lebih banyak lagi. Menurutnya, pihak sekolah wajib turut ambil bagian menekan penggunaan kendaraan oleh anak didiknya. Namun, kebanyakan lepas tanggung jawab dengan berdalih kendaraan tidak masuk dalam area sekolah. Sedang, siswa datang dengan berjalan kaki. ‘’Secara skill, pelajar memang cukup mumpuni mengendari sepeda motor. Namun, belum secara mental. Padahal, berkendara di jalan raya wajib mengontrol emosi dan mampu mengambil keputusan dalam hitungan detik,’’ jelasnya.

Pihaknya mengaku bakal menggelar razia lanjutan. Lokasi bakal berganti. Hasil pendataan bakal digunakan bahan evaluasi. Bukan hanya untuk pihaknya tapi juga pemkab. Pemerintah wajib turut bertanggung jawab. Kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar memang menjadi atensi polisi karena cukup tinggi. Baik yang menjadi korban maupun tersangka. Longgarnya pengawasan dan mindset orang tua menjadi salah satu faktor utama. ‘’Orang tua kebanyakan malah bangga jika anaknya sudah bisa naik motor. Padahal belum cukup memenuhi aturan hukum,’’ tuturnya.

Lebih lanjut ratusan pelajar SMP dan SMA yang terjaring razia akhirnya diberikan Blangko teguran yang harus ditanda tangani orangtua dan kemudian harus diserahkan ke guru BP masing-masing sekolah. Hal tersebut untuk memberi peringatan sekaligus untuk menimbulkan efek jera kepada para pelajar dibawah umur yang mengendarai motor
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: