Disabilitas Tak Menghalangi Pemuda Asal Ponorogo ini Sukses Berbisnis di Perantauan

Sponsored Ad

Sponsored Ad
INSPIRASI - Kekurangan karena cacat di tubuh tak membuat orang harus putus asa dan menyerah pada nasib. Ini mampu dibuktikan oleh penyandang disabilitas tubuh bernama Seger Suyono.

Kerja kerasnya selama belasan tahun berbuah manis. Saat ini, Seger telah mapan mengelola  bisnis percetakan dan sablon yang berdiri di Jalan Ee Raya, Cengkarang, Jakarta Barat.

Kerja kerasnya telah berbuah hasil. Kini, ia menerima pelanggan order cetak dan sablonnya dari ruko yang dibelinya dari hasil menabung selama belasan tahun.

"Yang terpenting sih kita yakin dan percaya diri. Kita tunjukkan ke orang-orang kalau hasil cetak dan sablon kita bagus. Hasilnya sama lah dengan orang-orang. Jadi mereka mau kasih kita kerjaan," ujar Seger warga asli Ponorogo, Rabu (14/9).

Seger bercerita, saat merantau ke Jakarta, dirinya tidak memiliki keterampilan apapun. Sudah pun begitu, dirinya juga seorang penyandang disabilitas. Pikirnya, siapa pula yang mau memberikan pekerjaan bagi orang cacat seperti dia.

"Akhirnya saya masuk Panti Sosial Bina Daksa Budi Bhakti. Di sana banyak juga teman yang kayak saya. Disabilitas tubuh. Saya merasa sama dengan mereka," ungkapnya.

Di panti tersebut, kata dia, ternyata ada pelatihan keterampilan. Ia diberikan beberapa pilihan keterampilan. Waktu itu, imbuhnya, ada keterampilan komputer, montir, elektronik, dan grafika. Seger memilih grafika.

"Saat menjalani  pelatihan  grafika, kita diajari  tentang fotografi, sablon, cetak offset, dan handpress. Tapi menurut saya waktu itu, yang saya mampu dan bisa untuk dijadikan usaha ya sablon," terangnya.

Pelatihan dilakukan selama 9 bulan.  Setelah itu, ia magang di percetakan dan sablon dengan paruh waktu, meski sempat tidak mendapat bayaran.

"Saya ikhlas aja, hitung-hitung praktek. Tapi setelah itu, saya dibayar. Uangnya saya kumpulkan untuk modal awal. Karena usaha percetakan dan sablon ini permodalan sangat penting," tukasnya.

Dengan uang yang dikumpulkannya itu, ia mencoba membuka usaha sablon kecil-kecilan. Ia pun sudah tidak tinggal di panti. Ia harus fokus untuk usahanya itu.

"Kalau kita mau maju ya harus mau kerja keras. Karena kita inginnya punya masa depan yang bagus. Punya rumah, istri, dan anak. Kita ingin kayak orang lain juga," papar dia.

Sementara itu, Kepala Panti Sosial Bina Daksa Budi Bhakti, Prayitno mengatakan, alumni panti yang sudah sukses tidak hanya Seger Suyono. Namun masih banyak tersebar di tempat lain.

"Ada yang punya usaha jahit, design grafis, wirausaha, pegawai rumah sakit, dan lainnya. Harapannya ini bisa mengubah stigma masyarakat. Meskipun mereka disabilitas, tapi mereka mampu berkarya. Bahkan karya mereka sama dengan orang normal lainnya," tuturnya. (uya/JPG)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: