Es Dawet Jabung Ponorogo, Minuman Khas Penuh Sejarah

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KULINER - Panas-panas gini memang asyik kalau menikmati es dawet, apalagi es dawet yang satu ini khas Ponorogo yaitu es dawet jabung. Ketika kemarin selesai berkunjung ke Pacitan dan melewati Ponorogo kurang afdol rasanya kalau tidak mencicipi salah satu kuliner khas Ponorogo ini.

Sekilas es dawet ini sama dengan es dawet lainnya hanya saja memiliki perbedaan pada rasa dan cara penyajiannya, dimana es dawet jabung dibuat dari bahan gula jawa, santan, tape ketan dan juga cendol, jadi sama saja kan? :D. Terus yang bikin beda apanya? Nah, yang membedakan itu perpaduan rasa manis dan gurih pada kuahnya dengan tambahan sedikit garam sehingga tercipta rasa yang khas. Kemudian untuk cendolnya juga tidak menggunakan pewarna makanan jadi lebih terlihat dominan warna putih pada es dawet jabung.



Minuman ini disebut dawet jabung karena memang berasal dari Desa Jabung, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo. Disini ada banyak sekali penjual es dawet jabung yang bisa Anda temui dan juga sudah dikenal masyarakat lokal maupun wisatawan luar daerah. Harga yang ditawarkan sangatlah murah per mangkuk kami hanya membayar Rp. 2.500,-. Sedangkan satu gorengan hanya dikenakan Rp. 500,-

Nah, sesuai judul ini ada sejarah tersendiri yang perlu Anda ketahui berkaitan dengan penyajian es dawet jabung. Waktu itu kami juga belum tahu dengan sejarah ini saat penjual memberikan dawetnya kepada kami menggunakan sebuah tatakan, teman saya ingin mengambil es dawet jabung beserta tatakannya, karena dikira sama saja seperti tatakan kopi, padahal menurut tradisi “Jika ada seorang pria meminta tatakannya berarti pria itu berniat menyunting penjualnya. Dan bila penjualnya menyerahkan tatakan, berarti penjual bersedia dinikahi.” Untung saja Ibu penjual tidak memberikan tatakannya, coba kalau diberikan, bisa tidak pulang teman saya. 😀 dan itu juga hanya sebagian tradisi.

Cerita Dawet Jabung terkait erat dengan legenda warok Suromenggolo, yang sangat terkenal kesaktiannya dan juga sebagai tangan kanan Raden Bathoro Katong (Pendiri serta Bupati Pertama) yang juga anak dari Prabu Brawijaya V. Dikisahkan, satu hari Warok Suromenggolo ikut serta perang tanding melawan Jim Klenting Mungil yang menguasai gunung Dloka serta memiliki pusaka andalan yakni Aji dawet upas. Konon, ajian ini berupa cendol dawet yang terbuat dari mata manusia. Terserang ajian dawet upas saat itu juga badan warok Suromenggolo menanggung derita luka bakar serta ia pingsan saat itu juga. Warok Suromenggolo pada akhirnya ditolong oleh seorang penggembala sapi bernama Ki Jabung. Sesudah diguyur dawet buatan Ki Jabung, saat itu juga luka yang terkena Warok Suromenggolo pulih, bahkan juga bisa menaklukkan Jim Klenting Mungil serta Jim Gento. Sebagai ungkapan terima kasih, Warok Suromenggolo bersabda, nantinya warga desa Jabung bakal hidup makmur lantaran berjualan dawet.



Jika Anda ingin merasakan dawet jabung yang ada tambahan gempol, bisa datang ke Es Dawet Jabung Mbak Dwi. Gempol yaitu bulatan bola yang terbuat dari tepung beras dan memiliki cita rasa yang nikmat. Saya melihat ke arah dinding ternyata ada fotonya Tukul juga lho yang pernah berkunjung kesini.

Sumber : ceritanjung.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: