Pembukaan Grebeg Suro Diwarnai Pengusiran, Wartawan Ponorogo Boikot Grebeg Suro

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Event nasional, grebeg suro Ponorogo 2016 tidak terbuka dengan media. Pasalnya jurnalis yang hendak meliput acara tersebut diberi tempat sangat minim.

Jurnalis hanya diberi tempat 1 meter x 3 meter, tepat di depan panggung. Padahal jumlah wartawan yang meliput acara nasional itu cukup banyak. Sudah begitu, sejumlah wartawan juga diusir oleh panitia ketika melakukan tugasnya. Pengusiran itu dialami wartawan televisi, online serta cetak.

"Masa kami dikasih tempat cukup kecil. Kami perlu video. Tapi tidak ada ruang bagi kami. Acara grebeg suro tahun ini paling kacau," kata Sony Misdananto, kontributor Net TV.

Sony mengatakan, sempat adu dorong dengan panitia EO (Event Organiser) setempat. Saat itu Sony hendak mengambil gambar di depan panggung. Namun panitia langsung melarang. "Saya sempat adu dorong. Kami ini butuh gambar. Giliran mengambil gambar di depan panggung malah diusir," keluhnya.

Tidak hanya itu, kontributor Metro TV, Fajar Wijarnako, juga tidak boleh memasuki area. Alasannya sepele karena terlambat. "Saya tidak bisa masuk. Padahal cuma telat beberapa menit saja. Sangat ketat, aksesnya sangat minim," pungkasnya.

Pemberian space minim dalam liputan acara Grebeg Suro Ponorogo berbuntut panjang. Akibatnya sejumlah wartawan Ponorogo boikot liputan pembukaan acara Grebeg Suro dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) ke-23.

Acara pembukaan sejatinya selesai pukul 23.00 WIB, namun wartawan Ponorogo sudah boikot. Puluhan wartawan sudah meninggalkan lokasi. Tidak hanya itu, puluhan wartawan juga meninggalkan id card khusus acara Grebeg Suro.

"Lebih baik kami pulang saja. Tidak bisa mengambil gambar dari depan. Aksesnya sangat minim," kata Sumarno, wartawan BBS TV.

Lebih jauh, Sumarno mengatakan bahwa teman-temannya memboikot liputan Grebeg Suro. Sampai panitia mengevaluasi dan memperbolehkan kami liputan dengan ruang yang layak dan bebas.

Hal serupa dikatakan Aries Sutikno, Kontributor TV One. Dirinya kecewa dengan keadaan yang ada sekarang. Karena jurnalis tidak bisa bebas mengambil gambar.

"Saya kecewa dengan acara grebeg suro sekarang. Padahal ini acara nasional dan uang dari rakyat. Seharusnya masyarakat juga bisa menikmati melalui media," ujarnya.

Jika akses dibatasi, lanjut dia, maka acara yang akan datang kami juga boikot. Dia mengaku menunggu itikad baik dari pihak EO maupun pemkab Ponorogo. "Kami tunggu itikad baiknya. Sampai tidak ada itikad baik ya kami boikot semua," pungkasnya.

Aksi boikot yang dilakukan wartawan Ponorogo saat peliputan pembukaan acara grebeg suro mendapat reaksi dari pemkab setempat. Pihak pemkab berdalih permasalaha tersebut hanya miss komunikasi. Untuk itu, pihaknya berjanji akan melakukan evaluasi.

"Ini hanya miss komunikasi saja. Baik pihak wartawan maupun pihak panitia, dalam hal ini EO (Event Organiser). Karena memang tidak ada pembicaran di awal," kata Kasubag Humas Pemkab Ponorogo, Setiyo Budiono kepada beritajatim.com ketika dikonfirmasi, Minggu (25/9/2016) malam.

Budi mengakui, space atau tempat yang disediakan bagi jurnalis sangat minim. Hanya ada dua ruangan, berukuran 1x3 meter. Lokasinya, di sisi Barat dan Timur, dengan kapasitas 50 orang. "Tapi space tersebut tidak hanya untuk jurnalis. Ada juga fotografer yang disebut volounter. Semua tumplek blek jadi satu," terangnya.

Budi berjanji akan mengevaluasi masalah ini. Dia akan membicarakan dengan pihak EO, bagaimana baiknya nanti. "Jangan sampai boikot berlanjut. Kita bicarakan baik-baik saja. Agar semua berjalan. Kami sadar, publikasi juga penting," jelasnya.[mit/suf/beritajatim.com]
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: