Rumah Sarimun Warga Morosari Akhirnya Ambrol

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SUKOREJO – Arus anaksungai Bengawan Solo di Dukuh Gondang, Morosari, Sukorejo, Ponorogo akhirnya menghancurkan rumah Sarimun. Rumah yang biasanya ditempati Sarimun dan adiknya, Dimo itu, kemarin (29/9) akhirnya hancur. Keduanya kini tinggal di rumah kerabat yang kini hanya berjarak kurang dari dua meter di pinggir sungai.

Ambrolnya rumah Sarimun terjadi sekitar pukul 02.00. Sarimun mengatakan, saat kejadian dia tengah terlelap bersama adiknya di rumah kerabat yang terletak di belakang rumahnya yang nggawing tersebut. Tiba-tiba ada getaran hebat membuat kasur tempat keduanya tidur bergoyang. Suara gemuruh terdengar jelas. Sarimun dan Dimo terbangun dan langsung kabur menyelamatkan diri ke rumah tetangga. ‘’Getarannya sangat terasa. Saya dan Dimo langsung lari mengetuk rumah tetangga,’’ ujarnya.

Saat Sarimun dan Dimo keluar rumah, diketahui getaran dan suara gemuruh itu berasal dari rumahnya yang ambrol terkikis erosi. Dinding sebelah kiri rumah runtuh dan sebagian lantai terseret arus sungai. Kekhawatiran selama ini akhirnya terbukti juga. Sarimun dan Dimo pun tidak mengetahui hendak tinggal dimana lagi selain rumah kerabat yang terletak di belakang rumahnya itu. Pun, keduanya juga masih diliputi rasa cemas karena erosi sudah membuat jarak rumah kerabat dengan bibir sungai tinggal kurang dari dua meter. ‘’Sungainya memang tinggi sejak hujan lebat mengguyur selama satu hari, Selasa (27/9) hingga Rabu (28/9) lalu. Waswas juga sekarang, takut setiap saat erosi terus terjadi,’’ terangnya.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo Heri Sulistyono menyebut pihaknya sudah meninjau lokasi robohnya rumah Sarimun dan Dimo dan memberi bantuan berupa sembako. Heri sempat menawarkan relokasi ke tempat yang lebih aman. Tapi, Sarimun dan Dimo menolak. Keduanya beralasan tidak ingin jauh dari kerabat yang tinggal satu desa dengan mereka. Padahal, rumah kerabat Sarimun juga sama rawannya. ‘’Dari total tujuh rumah yang terancam, dua rumah itu yang paling rawan,’’ ujarnya.

Menurut Heri, solusi jangka panjang untuk mengatasi erosi tersebut adalah dengan pemasangan plengsengan. Rencananya akan menggunakan dana dari pos bantuan tak terduga. Pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo terkait rencana tersebut. Kendati demikian, Heri menyebut realisasi paling cepat baru bisa dilakukan tahun depan. Sementara waktu, Heri meminta warga tujuh rumah yang terancam untuk waspada jika debit air anak sungai Bengawan Solo tinggi. ‘’Kikisan tanah di bibir sungai terjadi terus menerus. Bahkan ketika tidak turun hujan. Ya karena penyebabnya adalah debit air yang tinggi,’’ jelasnya.(mg4/irw)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: