Akses Empat Desa Terputus

Sponsored Ad

Sponsored Ad
TULAKAN - Diguyur hujan berjam-jam, jembatan Kaliwawang penghubung antar desa yang berlokasi di Dusun Krajan, Desa Wonoanti, Kecamatan Tulakan ambrol kena banjir, dini hari kemarin (21/10). Kejadian tersebut membuat aktivitas warga terganggu karena jembatan nyaris tidak bisa dilewati. Titik ambrol mencapai tiga meter dan memakan separo badan jalan.

Sayap jembatan itu ambrol pada bagian sayap disebabkan gerusan air sungai Kaliwawang yang meluap. Sebelumnya warga sudah merasa apabila jembatan itu akan ambrol. Pasalnya, di tengah badan jembatan terdapat lubang menganga selebar satu meter. Lubang tersebut akhirnya makin melebar karena arus sungai yang deras. ‘’Dan puncaknya terjadi kemarin. Jembatan itu kondisinya sangat berbahaya,’’ kata Agus Riyono Kepala Desa Wonoanti.

Sebelum ambrol, kata Agus, air sungai sudah meluap dan menggenangi badan jalan sekitar pukul 19.00. Arus sungai yang deras akhirnya membuat jembatan ambrol. Beruntung saat itu tidak ada warga yang lewat. Akibat kondisi tersebut, akses lalu lintas untuk sementara dialihkan. ‘’Warga yang biasanya melintasi jalur ini untuk sementara dialihkan lewat Ngunut-Wonoanti,’’ katanya.

Dijelaskan, jembatan itu merupakan penyangga jalur alternatif yang menghubungkan antara empat desa di Kecamatan Tulakan. Yaitu, Desa Wonoanti, Jatigunung, Nglaran dan Jetak. Warga terpaksa harus memutar sejauh lima kilometer sebelum jembatan itu selesai diperbaiki. Demi keamanan saat ini jalur Wonoanti-Jetak itu ditutup. Penutupan jalan dimulai dari pintu masuk Desa Jetak dan Wonoanti. ‘’Sementara oleh warga jalannya ditutup demi keselamatan,’’ terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Pacitan Budiyanto mengatakan, perbaikan jalan Pentung-Jetak tersebut sebenarnya sudah dialokasikan dana Rp 2 miliar pada perubahan anggaran keuangan (PAK). Bahkan, sebelum jembatan itu ambrol pihaknya sudah mengantisipasinya dengan memasang plat beton. ‘’Secepatnya akan segera kami tangani,’’ ujarnya.

Sementara ini, lanjut Budiyanto, penanganan darurat akan dilakukan dengan cara memasang balok kayu di sekitar jembatan ambrol tersebut. Sehingga kendaraan roda dua masih bisa melintas dengan aman. Langkah penanganan juga telah dikoordinasikan dengan pihak desa. ‘’Kami sudah berikan sedikit bantuan untuk dibelikan material supaya aksesnya tidak tertutup total. Minimal kendaraan roda dua bisa melintas,’’ jelasnya.

Reruntuhan Tebing Timbun Rumah

HUJAN semalaman berujung bencana longsor terjadi di Kecamatan Tulakan pada Kamis (20/10) malam. Sedikitnya tiga rumah di Dusun Krajan, Desa Wonoanti dihantam material longsor. Longsor di kawasan padat penduduk itu terjadi sekitar pukul 21.00. Material longsor masing-masing menghantam rumah milik Suwarni dan Kadiman yang berada di RT 06 RW 03 dan satu rumah warga di RT 07 RW 03 milik Tukimin.

Beruntung longsor tidak menimbulkan korban jiwa dan kerusakan parah. Di rumah Kadiman misalnya. Material longsor yang berasal dari tebing setinggi 20 meter di samping tempat tinggalnya hanya membentur dinding rumah namun tidak sampai rusak. Namun, sebagian material longsor masuk ke dalam dapur rumahnya yang terbuat dari kayu.

Kondisi serupa juga terjadi di kediaman Suwarni. Material longsor tidak sampai merusak bangunan rumahnya. Namun, kondisi tebing yang masih labil dikhawatirkan memicu longsor susulan apabila hujan turun lagi. ‘’Tidak ada kerugian materi. Tapi kejadian longsor tersebut tetap kami laporkan ke kecamatan. Setidaknya pemerintah turun tangan memberi bantuan,’’ kata Tumar Suhardi Kepala Dusun (Kasun) Krajan, kemarin (21/10).

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Pujono mengatakan, sesuai prediksi BMKG musim hujan diperkirakan bakal terjadi hingga akhir tahun nanti. Pada Oktober ini masih sekadar permulaan. Itu terbukti bahwa titik hujan hanya terjadi di wilayah kecamatan tertentu. ‘’Sementara, puncak hujan diperkirakan bakal terjadi pada pertengahan Desember mendatang,’’ ungkapnya.

Diungkapkan, hampir semua wilayah kecamatan di Pacitan berpotensi terjadi longsor. Terkecuali, Kecamatan Donorojo yang intensitas terjadinya bencana tanah longsor sangat kecil mengingat kondisi alamnya berupa bebatuan. ‘’Sedangkan, wilayah yang dianggap paling rawan terjadi tanah longsor adalah Kecamatan Tulakan dan Kebonagung,’’ ungkapnya.

Sementara untuk wilayah rawan banjir terdapat di Kecamatan Arjosari, Ngadirojo, Pacitan dan Kebonagung. Pujono meminta kepada masyarakat untuk esktrawaspada terkait kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan. (her/yup)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: