Alat Tanam Padi Karya Subagyo Warga Jenangan Bikin Kagum Wakil Bupati Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
JENANGAN – Hebat. Kata itu langsung dilontarkan wakil bupati Soedjarno begitu melihat mesin penanam padi karya Subagyo Edi Sasmito. Kendati masih manual, alat buatan warga Desa/Kecamatan Jenangan itu cukup membuat wabup kagum. Simpel namun hasilnya nyata. Alat tersebut mampu menggantikan sepuluh pekerja tanam sekaligus. Bagaimana tidak, cukup dua orang sebagai operator, mesin tersebut mampu menanam padi untuk dua petak sawah dalam waktu sehari. Tak salah jika Gubernur Jatim Soekarwo memberikan penghargaan juara 1 inovasi teknologi (inotek) tingkat provinsi, beberapa waktu lalu.

Wabup yang mengdengar kabar itu sengaja datang melihat, kemarin (19/10). Dia menyatakan tak puas kendati hadir saat penerimaan penghargaan di Surabaya kala itu. Benar saja, Djarno langsung menjajal alat yang diberi nama Badol tersebut setelah sedikit mendengarkan penjelasan cara kerjanya. Dengan sedikit tenaga saja, alat berputar dan mulai menancapkan bibit padi yang sudah dipasang. Tak puas sampai di situ, dia juga melihat cara kerja Badol di areal tanam sebenarnya. ‘’Ide ini sangat inovatif karena memang saat ini sudah sulit mencari tukang tanam padi,’’ kata wabup Soedjarno.

Wabup mengaku kreativitas masyarakat Ponorogo boleh diadu. Alat penanam padi tersebut buktinya. Bukan karena juara di provinsi. Namun, alat tersebut diklaim satu-satunya di tanah air. Alat serupa yang pernah ada merupakan buatan negara lain. Pun, desainnya berbeda. Alat tersebut diyakini Soedjarno lebih baik. Dia mengaku, sang pemilik ide bukan tipe orang yang keburu berpuas diri. Selalu membuka diri untuk saran dan masukan. Terbukti, alat buatannya selalu berkembang. ‘’Kami harap bukan hanya untuk padi. Tapi juga terus berinovasi untuk tanaman-tanaman lain,’’ ujarnya sembari menyebut bakal mempromosikan alat tersebut ke tingkat nasional.

Subagyo Edi Sasmito, pemilik alat tersebut tak pernah menyangka karyanya bakal memenangi lomba di tingkat provinsi. Pasalnya, dia tidak ada niatan untuk melombakan sebelumnya. Bagyo –sapaan Subagyo Edi Sasmito- mengaku ide awal hanya ingin membantu petani. Sebab, sudah cukup sulit mencari tukang tanam di daerahnya. Ide mengikutsertakan lomba berawal dari dorongan pemkab melalui Bapemas Pemdes. Bahkan, Bagyo tak menyangka pemkab mengirim profil alatnya ke provinsi beberapa waktu lalu. ‘’Tanpa peran pemerintah, alat ini mungkin tidak akan dikenal seperti ini,’’ ungkapnya.

Ke depan, Bagyo berharap dapat melibatkan pelajar di Ponorogo. Dia ingin bertukar ide dengan pelajar. Harapannya, dapat membawa nama Ponorogo di perlombaan pelajar. Selain itu, agar alatnya dapat diproduksi masal. Bagyo mengaku kekurangan tenaga saat ini. Padahal, permintaan cukup banyak. ‘’Indonesia merupakan negara agraris tapi susah mencari petani. Saya harap alat ini dapat meningkatkan generasi penerus agar tertarik di bidang pertanian,’’ katanya. (agi/irw/radar madiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: