Begini Cara Pengikut Dimas Kanjeng Gaet Korban di Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Tidak ada yang menduga, padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi mempunyai struktur yang sangat terperinci. Hal ini diungkap oleh Suparman, mantan pengikut Dimas Kanjeng dari Ponorogo.

Rumah Suparman di Desa Sidorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo tidak terlalu megah. Hanya berupa bentuk rumah joglo tua. Pun di dalam rumahnya, hanya ada kursi tamu berwarna hijau. Dan beberapa foto kiai yang mungkin sangat dicintai sang pemilik rumah.

Namun siapa sangka, dari rumah tersebut mengalir uang sebesar Rp 5 Miliar ke Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Bahkan uang pribadi dari mantan satpam padepokan itu sendiri sebesar Rp 300 juta.

Setelah bercerita tentang aliran dana, kisah adiknya mau diculik. Sampai rahasia Dimas Kanjeng yang tidak mau disalamin kepada beritajatim.com. Kali ini, pria setengah baya tersebut menceritakan struktur organisasi yang ada pada Padepokan di Probolinggo tersebut. "Saya sendiri adalah tim siluman," kata Suparman, mengawali ceritanya, Rabu (26/10/2016) pagi.

Dia menjelaskan, tim siluman adalalah tim koordinasi di bawah sultan.Tim siluman tugasnya mengumpulkan uang dari para 'santri' Dimas Kanjeng. Saat itu, Dimas Kanjeng adalah pemimpin. Sementara Haji Ismail dan Haji Gani adalah Sultan. "Sultan sendiri ada banyak. Saya hanya kenal dengan Ismail. Saya juga tahu tragedi sebelum Haji Ismail dibunuh," terangnya.

Dia sebagai tim siluman tugasnya mengumpulkan uang dari pengikut. Suparman mengaku mengenal dan tahu Dimas Kanjeng dari orang bernama Gunawa. Kala itu, bulan Mei 2008. Dia mengaku hanya diberi cakram CD berisi video cara ibadah di padepokan. Tidak ada yang aneh. Karena semua amalannya ada dan sesuai.

Video tersebut juga berisi tentang investasi uang. "Karena saya putar berulang-ulang akhirnya saya tertarik," tambahnya.

Suparman tidak mau sendiri. Karena saat itu, di mata Suparman, cara investasi uangnya halal. Dan tidak ada kejanggalan sama sekali. Dia lantas menebar jaring, membagikan CD tersebut ke orang lain. Gayung pun bersambut, banyak orang yang tertarik.

"Yang saya kumpulkan tidak hanya warga Ponorogo saja. Ada Pacitan, Trenggalek, Kediri, Semarang. Bahkan Jambi juga," katanya.

Namun, hal itu tidak bertahan lama. Karena pada 2014, uang yang telah disetor tidak kunjung kembali. Suparman pun sadar ada sesuatu yang tidak beres. "Dimas Kanjeng kan selalu bilang, untuk menggandakan uang ada 10 pekerjaan yang harus dilakukan. Kemudian pada 2012 dia bilang masih ada 9 pekerjaan. Begitu juga dengan 2013 juga," tambahnya.

Akhirnya pada 2014, Suparman sadar telah diperdayai Dimas Kanjeng. Dia kemudian melaporkannya ke Polres Probolinggo. Ironisnya, laporan tersebut ditolak oleh polisi dengan alasan tidak cukup bukti. Suparman kembali dengan tangan kosong.

Sampai 2016, Suparman dipanggil lagi ke Polda Jatim untuk menjadi saksi. Harapan warga Ponorogo ini tidak muluk-muluk. "Saya cuma ingin uang saya kembali. Kasihan para pengikut lain. Banyak yang sudah berkorban rumah dan harta benda lainnya," pungkasnya. [mit/suf/beritajatim.com]
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: