Kisah Sukses Azenk Ajak Warga Madiun dan Ponorogo Bisnis Hidroponik

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Berawal dari hobi menanam hidroponik, Azenk Ardianto (32) membentuk Komunitas Hidroponik Madiun Mataraman. Dari awalnya hanya beranggotakan 11 orang, kini anggotanya sudah mencapai 500 orang.

"Kalau di Facebook, sudah 1000 orang lebih. Tapi kalau yang aktif 500 orang, 200 di antaranya dari Ponorogo," kata Azenk saat ditemui di rumahnya, Jalan Sarimulya B12 Perum Rejomulyo Permai, Kota Madiun  Sabtu (15/10/2016) siang.

Ia mengaku mulai belajar menanam hidroponik sekitar empat tahun yang lalu. Dia belajar secara otodidak dan mencari sumber refrensi di internet.

Kemudian, sekitar setahun yang lalu dia memposting di facebook mencari sesama penggemar atau petani hidroponik di Madiun.

Akhirnya, terkumpullah 11 orang, dan terbentuklah Komunitas Hidroponik Madiun Mataraman.

"Saya sharing-sharing, kok di Madiun belum ada (komunitas hidroponik). Lalu, saya umumkan di FB, akhirnya terbentuklah komunitas," jelasnya.

Kegiatan Komunitas Hidroponik Madiun Mataraman adalah memberikan edukasi bagi siapa saja yang tertarik belajar mengenai hidroponik, secara gratis. Mengajarkan, bagaimana menanam di lingkungan sekitar pekarangan.

"Minimal bisa dikonsumsi untuk kebutuhan sendiri dulu," kata ayah dua anak ini.

Pria berkacamata ini mengatakan, biasanya kerap diminta memberi pelatihan ke kelompok PKK, pesantren, sekolah, bahkan kepada anggota TNI.

"Terakhir, kemarin kami juga memberikan pendampingan di Yonif 501," jelasnya.

Azenk mengatakan, anggota Komunitas Hidroponik Madiun Mataraman sebagian besar berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan mahasiswa.

Ia menuturkan, kini hampir sebagian besar anggota komunitas sudah bisa menikmati hasilnya. Selain untuk konsumsi sendiri, beberapa sudah mendapat untu g dari hasil penjualan.

"Sekarang setelah hampir satu setengah tahun, sudah berkembang. Hasil panen dari anggota komunitas laku dijual," terangnya.

Dia menuturkan, dirinya memiliki data tanaman yang sedang ditanam oleh anggota komunitas. Sehingga, ketika ada konsumen atau pembeli yang butuh, ia tinggal menghubungi anggota yang tanamannya sudah siap panen.

"Kami bantu koordinir. Kami kan punya datanya. Si A panen kapan, si B panen kapan. Jadi kalau ada yang butuh tinggal kami hubungi," terangnya.

Dikatakannya, para pembeli sayuran hidroponik biaaanya beraaal dari masyarakat umum di lingkungan sekitar, restoran, rumah sakit, komunitas Food Combining Madiun, dan supermarket lokal.

"Ada juga, yang dijual sudah dalam bentuk jus. Jadi jus sayuran, yang dikemas dalam botol," ucapnya.

Azenk mengatakan, keuntungan dari bisnis menjualan sayurhidroponik bisa mencapai 30 persen lebih.

Dia memberikan contoh, misalnya menanam 400 titik pakchoy, dengan modal sekitar 200 ribu untuk membeli bibit, biaya listrik,nutrisi, dan rock woll.

Ketika dipanen, 1 titik misalnya dijual Rp 1000-1500, sudah laku Rp 400 ribu. Padahal, lanjut Azenk, biasanya pakchoy yang ditanam secara hidroponik di supermarket biasanya laku dijual hingga Rp 4000 per titik.

Kedepan, ia bersama beberapa teman dari Komunitas Hidroponik Madiun Mataraman akan mendirikan rumah makan di Ponorogo yang menyediakan menu masakan dengan sayuranhidroponik. Pembeli bisa memilih dan memetik sendiri, sayuran yang akan dimakan.

"Rencananya, saya dan beberapa teman akan mendirikan rumah makan. Di belakannya ada kebun hidroponik, nanti pembeli bisa petik sendiri," katanya.

Dia berharap, kedepan akan semakin banyak masyarakat di Madiun, terutama kalangan ibu rumah tangga yang gemar menanam tanaman hidkroponik.

Sebab, selain mudah, tanaman hidroponik juga sangat menyehatkan karena bebas pestisida.
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: