Mantan Wabup Cantik nan Kaya Raya ini Menjadi Buruan Jaksa Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Rumah mewah bergaya Eropa di Jalan Ir.Juanda, Kelurahan Tonatan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo milik mantan Wabup Yuni Widianingsih yang didatangi penyidik Kejaksaan Negeri POnorogo, Kamis (27/10/2016).
PONOROGO - Rumah mewah bergaya Eropa di Jalan Ir.Juanda, Kelurahan Tonatan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, kembali menjadi perbincangan masyarakat di Ponorogo.

Rumah bercat putih ini merupakan kediaman pribadi mantan Wakil Bupati Ponorogo periode 2010-2015, Yuni Widyaningsih yang sedang "diburu" Tim Penyidik Kejari Ponorogo.

Sejak 2014, ibu dua ini, telah menyandang status tersangka kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang pendidikan tahun 2012 dan 2013 senilai Rp 8,1 miliar.

Tidak sulit menemukan rumah Yuni Widyaningsih atau yang akrab disapa 'Mba Ida' ini. Maklum, rumah berpagar besi setinggi sekitar lima meter ini, merupakan rumah paling mewah di sepanjang Jalan Ir.Juanda, Ponorogo.

Rumah wabup berparas cantik ini memang tampak mencolok bila dibandingkan rumah di sekitarnya. Tembok penyangga berukuran besar serta beberapa pilar rumah berwarna putih menambah kesan sangat megah.

Di halaman rumput depan rumah, tampak enam patung kuda berwarna putih berukuran besar. Beberapa ekor burung merpati putih tampak terbang di sekitar halaman.

Rabu (26/10/2016) sekitar pukul 10.00, sekitar enam orang dari Tim penyidik Kejaksaan Negeri Ponorogo mendatangi kediaman mantan Wabup Ponorogo yang diusung partai Golkar ini.

Kedatangan Tim Penyidik Kejari Ponorogo kemarin, untuk mencari keberadaan Ida yang sudah menyandang status tersangka sejak 2014, lalu.

Namun, upaya para penyidik mencari Ida tidak membuahkan hasil. Saat didatangi, mantan Wabup Ponorogo ini ternyata tidak berada di rumahnya.

Sejak ditetapkan tersangka, Tim Penyidik Kejari Ponorogo belum pernah berhasil memeriksa Ida.

Tiga kali sudah, Tim Penyidik Kejari Ponorogo melayangkan surat panggilan terhadap Ida, namun ia tidak pernah datang.

Pantauan di lokasi, Kamis (27/10/2016) rumah Ida tampak sepi. Seorang pria berseragam safari, membuka pintu pagar dan menanyakan maksud kedatangan sejumlah awak media yang mengambil gambar dari luar pagar.

Ia menuturkan, Ida dan keluarganya sedang tidak berada di rumah. "Tidak ada, sepi rumahnya," kata pria yang enggan disebutkan namanya.

Petugas keamanan rumah ini menuturkan, majikannya sedang berada di luar kota sejak hari Minggu, lalu. "Ke luar kota, hari Minggu kemarin," kata pria ini sambil menutup pagar.

Sementara itu, Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Ponorogo, Happy Al Habiebie saat ditemui di kantornya membenarkan pihaknya kemarin berupaya mencari keberadaan Ida.

Selain dua rumah Ida di Ponorogo, tim penyidik juga mendatangi sejumlah tempat usaha milik Ida dan kediaman orangtuanya.

Di antaranya kantor PT Buana Karya Suryapratama di Jalan Dr. Sutomo, Ponorogo, pangkalan gas dan distributor gas di Jalan DI Panjaitan.

Pemanggilan Ida, guna kepentingan penyerahan tahap kedua berupa barang bukti dan tersangka dari penyidik penuntut umum. Sebab, berkas tersangka Ida dalam kasus ini sudah dinyatakan lengkap atau P21.

"Intinya kami akan terus mencari sampai ketemu, kami akan ajak ke sini (Kejari Ponorogo). Terus dicek kenapa nggak mau datang," kata Happy.

Dikatakannya, tim penyidik Kejari Ponorogo telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk melacak keberadaan Ida.

Terakhir, lanjut Happy, tim penyidik mendapatkan informasi Ida sudah berada di luar Ponorogo.

"Ya, informasinya di luar kota," kata Happy yang enggan menyebut detail lokasi keberadaan Ida saat ini.

Happy justru berharap, Ida berkenan datang ke Kejari Ponorogoatas kesadaran sendiri tanpa penjemputan paksa.

"Mudah-mudahan beliau sadar dan mau datang," imbuhnya.

Meski sudah mangkir sebanyak tiga kali dari pemanggilan, pihak Kejari Ponorogo belum memasukan Ida dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Diberitakan sebelumnya, ada tujuh tersangka lain dalam kasus ini, yakni tiga mantan pejabat Dinas Pendidikan Ponorogo dan empat dari rekanan yang sudah disidang di pengadilan.

Tim Penyidik Kejari Ponorogo akhirnya menetapkan Ida sebagai tersangka korupsi pengadaan alat peraga tahun 2012 senilai Rp 6 miliar untuk 121 sekolah dasar negeri (SDN) dan tahun 2013 senilai Rp 2,1 miliar untuk 43 SDN se-Kabupaten Ponorogo, pada Selasa (23/12/2014) silam.

Berdasarkan pengembangan penyidikan dan keterangan para tersangka selama pemeriksaan, Ida disangka mendapatkan fee 22 persen dari nilai total proyek yang bersumber dari DAK itu.

Ida diduga bersama Direktur CV Global Inc, M Nur Sasongko memperkaya diri dengan menyepakati fee proyek dengan melakukan pengondisian proyek pengadaan alat peraga.

Dalam pengondisian itu, ada kesepakatan Wabup Ponorogo Yuni Widyaningsih menerima fee dari M Nur sasongko sebesar 22 persen dari nilai pagu anggaran alat peraga SD tahun 2012 dan tahun 2013 total Rp 8,1 miliar atau fee senilai Rp 1,7 miliar.

Sumber : tribunnews.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: