PKL Jualan di Trotoar 5 November Harus Angkat Kaki

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Wacana memindah pedagang kaki lima (PKL) ke Jalan Suromenggolo tinggal menghitung hari. Pemkab Ponorogo menargetkan pedagang kecil yang biasa menggunakan trotoar dan bahu jalan sudah harus pindah mulai 5 November mendatang. Itu berarti, pedagang tinggal memiliki waktu sekitar dua minggu di tempat sekarang. ‘’Setiap hari kami keliling untuk sosialisasi (relokasi, Red),’’ kata Kasi Ops Satpol PP Ponorogo, Sumartuji.

Kejir –sapaan Sumartuji- menyebut, pihaknya juga melakukan pendataan. Pedagang asli Ponorogo bakal didahulukan. Diakuinya pendataan belum klir. Sebab, jumlahnya cukup banyak. Yakni, sekitar 275 pedagang. Kejir mengaku pro dan kontra mengemuka di lapangan. Sebagian pedagang mengalir begitu saja dengan rencana pemkab. Namun, beberapa di antaranya terang-terangan menolak. Dia tunjuk bukti, saat sosialisasi di kawasan Jalan Soekarno-Hatta. Sejumlah pedagang enggan turut relokasi dengan alasan penghasilan. Pedagang takut penghasilan menurun drastis begitu pindah. ‘’Pro dan kontra itu biasa. Prinsipnya pedagang harus sudah pindah ke jalan baru (sebutan Jalan Suromenggolo, Red) mulai tanggal 5 November,’’ tegasnya.

Bukan hanya itu, pedagang juga diminta mengisi surat kesanggupan pindah. Kejir membantah hal itu sebagai upaya pemaksaan. Namun, sebagai bukti tambahan. Sebab, banyak pedagang yang enggan pindah kendati sudah lewat batas waktu. Nah, surat kesanggupan bakal kembali ditunjukkan jika terjadi hal tersebut. Kejir menambahkan, sosialisasi dilakukan dengan berbagai cara. Selain mendatangi langsung, tim penataan PKL juga bakal mengumpulkan pedagang. Rencananya pagi ini. ‘’Pengalaman sebelumnya banyak yang membandel. Dengan surat kesanggupan itu bisa dijadikan alat bukti nantinya,’’ ungkapnya.

Kejir mengaku pihaknya bakal rutin berkeliling pasca relokasi. Setiap PKL yang masih bertahan bakal ditegur. Bahkan, pihaknya siap bertindak tegas dengan mengamankan gerobak jualan. Gerobak bakal ditahan di kantornya. Hanya boleh diambil pemiliknya dengan membuat surat pernyataan tidak akan berjualan di area terlarang. Kejir menyebut, sisi barat jalan baru dinilai cukup untuk semua pedagang. Sebab, area yang digunakan sepanjang jalan baru sisi barat. Pedagang bakal ditata di kiri kanan jalan. Bagian tengah dikosongkan sebagai tempat pengunjung. ‘’Parkir kendaraan satu bari di jalan sisi kiri dan di lapangan panahan. Area sisi barat hanya untuk pedagang dan pembeli,’’ jelasnya. (agi/irw/radarmadiun)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: