Tak Ada Siswa Baru, Tiga Sekolah Ditutup

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BALONG – Persaingan sekolah untuk mendapatkan anak didik begitu sengit. Setidaknya, itu dirasakan sekolah-sekolah di daerah pinggiran. Tahun ini, ada tiga sekolah yang terpaksa gulung tikar alias tutup karena kekurangan siswa. Kondisi minim siswa sudah terjadi bertahun-tahun di tiga sekolah itu. Puncaknya, tahun ini tidak ada seorang pun calon siswa yang mendaftar. Siswa yang masih aktif diperbolehkan pindah ke sekolah lain yang diinginkan. Sementara para guru dipindah ke sekolah lain yang membutuhkan tenaga pendidik.

Kabid Dikdasmen Dinas Pendidikan (Diknas) Ponorogo Purwo mengatakan, ketiga sekolah yang ditutup tahun ini diantaranya SDN 02 Slahung, SDN 02 Bedingin, Sambit, dan SDN 02 Ngumpul, Balong. Ketiga sekolah itu mengajukan proposal penutupan sekolah tahun ini karena sudah tidak ada lagi siswa yang mendaftar. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak 2013. Di SDN 02 Ngumpul contohnya. Sekolah tersebut di tahun 2013 hanya ada tiga calon siswa yang mendaftar. ‘’Karena hanya ada tiga siswa tersisa, sementara siswa di kelas 4, 5, dan 6, juga tinggal dua kelas, maka begitu lulus siswanya akan habis. Oleh karena itu mereka mengajukan penutupan,’’ paparnya.

Ketiga sekolah melengkapi data jumlah sekolah yang telah tutup sepanjang dua tahun terakhir. Sebelumnya di tahun 2015, ada satu sekolah yang terpaksa ditutup, yakni SDN 03 Gelang Kulon, Sampung. Menurut Purwo, tiga sekolah tersebut sebenarnya sudah lama berdiri. Namun, penurunan jumlah siswa terus berkurang. Jika mengacu pada standar minimal pelayanan pendidikan di kelas, jumlah siswa seharusnya paling sedikit 20 anak didik. ‘’Jika mengacu pada standar minimal tersebut, sebenarnya ya sangat banyak sekolah yang harus regrouping (penggabungan). Terutama di pelosok-pelosok, jumlah siswa paling banyak biasanya hanya belasan di tiap kelas,’’ ungkapnya.

Terkait penutupan tiga sekolah tersebut, siswa tersisa disilakan pindah di sekolah lain yang diinginkan. Tidak ada batasan untuk itu. Dan para gurunya, akan dialokasikan di sekolah-sekolah yang masih membutuhkan tenaga pendidik. Sementara sisa aset sekolah yang masih bisa dimanfaatkan seperti meja atau kursi, diusulkan dipinjamkan ke sekolah yang ketempatan siswa-siswa pindahan tersebut. Menurut Purwo, animo siswa bersekolah di desa memang cenderung menurun. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan sekolah-sekolah yang baru berdiri di wilayah kota. Meski terhitung baru, jumlah siswanya banyak. ‘’Hal itu sebenarnya berpengaruh terhadap sekolah-sekolah di desa. Namun, dalam menyikapi persoalan ini, siswa dan orang tuanya lah yang berhak memutuskan hendak memilih sekolah mana yang diinginkan,’’ ujarnya.(mg4/irw)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: