Jangan Tinggalkan Tenda Pengungsian!

Sponsored Ad

Sponsored Ad
NGEBEL – Sudah hampir sebulan, warga Talun, Ngebel mengungsi. Itu menyusul kembali terjadinya retakan tanah di bukit Banyon. Hingga kini, belum ada kepastian kapan status darurat bencana bakal dicabut dan warga boleh meninggalkan tenda pengungsian. Sebaliknya, jumlah warga yang mengungsi semakin berlipat. Pasalnya, material longsor terus berguguran, dan mengarah ke permukiman warga. ‘’Masih diimbau untuk tetap mengungsi. Tidak ada instruksi lain,’’ ujar Suparman, salah seorang perangkat desa setempat, kemarin (7/12).

Suparman menjelaskan, saat ini ada 30 KK atau sekitar 117 jiwa yang diminta mengungsi saat hujan turun atau malam hari. Mereka berasal dari tiga RT yakni RT 5/1 dan RT 6/1. Selain warga dari kedua RT tersebut, dua KK dari RT 4/1 juga diminta mengungsi. Yang termasuk dalam ring 1 alias yang paling dekat dari titik longsoran, yakni RT 6/1 dan dua rumah di RT 4/1. RT 6/1 merupakan yang paling terdampak. Jalan di RT tersebut kondisinya rusak parah akibat guguran material berupa batu, kerikil, dan lumpur. Di kawasan RT tersebut, dua warga sudah membongkar rumahnya. Sementara, dua KK di RT 4/1 diminta mengungsi lantaran rumah mereka hanya berjarak sekitar 150 meter dari titik retakan tanah. ‘’Jika material longsorannya besar, ya bisa mengenai rumah di RT 4/1. Dua rumah itu rawan,’’ katanya.

Jumlah pengungsi saat ini menjadi berlipat. Sebelumnya saat BPBD kembali mencanangkan status darurat bencana di Talun Kamis (10/11), hanya ada 19 KK yang diminta mengungsi. Namun, lantaran longsor berkembang menjadi semakin parah, warga yang diminta mengungsi bertambah. Untuk mengakomodasi hal itu, dibangun dua tenda pengungsian baru. Kini ada empat tenda pengungsian. Selain itu, masih ada satu tenda lain yang digunakan BPBD sebagai posko. Warga juga menempati bangunan PAUD, yang juga berlokasi di balai desa. ‘’PAUD untuk sementara dipindah di rumah kepala desa,’’ terang Suparman.

Tidak hanya tenda pengungsian, stok logistik juga ditambah. Selain tikar, warga Talun juga mendapat bantuan selimut. Stok makanan mulai beras, gula, hingga mi instan dan sayuran juga masih dirasa aman. Menurut Suparman, sejauh ini persediaan logistik dinilai cukup meski belum ada kepastian kapan warga diminta kembali ke rumah. Dia menceritakan, awalnya warga sebenarnya sempat keberatan mengungsi ke balai desa lantaran jauh. Namun, mereka akhirnya bersedia karena balai desa dinilai yang paling aman diantara titik pengungsian lain. ‘’Beberapa warga yang rumahnya jauh juga kami bantu akomodasinya ketika mengungsi,’’ jelasnya.

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstrusi BPBD Ponorogo, Heri Sulistyono menuturkan, pihaknya terus memantau perkembangan retakan tanah di bukit Banyon, Talun. Material longsoran berupa lumpur, kerikil, sampai batu yang berukuran besar terus berguguran setiap hari. Warga dibantu relawan terus melakukan kerja bakti menyingkirkan material longsoran. Mereka juga diminta untuk terus mengungsi demi keselamatan mereka. Meski demikian, warga tetap bisa beraktivitas jika tidak turun hujan atau di siang hari. ‘’Relawan kami terus berjaga di Talun untuk memonitor perkembangan retakan. Belum bisa ditentukan kapan status darurat dicabut,’’ ujar Heri.(mg4/irw)

Sumber : RadarMadiun.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: