Petani Ponorogo Sambat Pupuk Lagi

Sponsored Ad

Sponsored Ad
BUNGKAL – Stok aman pupuk yang diklaim Dinas Pertanian Ponorogo tidak terbukti. Nyatanya, sejumlah petani di beberapa daerah mengaku masih kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi itu musim tanam kali ketiga ini. Bahkan, ada yang terpaksa menggunakan pupuk kandang sebagai alternatif. Penyebabnya masih sama, pupuk menghilang di sejumlah kios. ‘’Semua jenis pupuk sudah tidak ada tiga minggu terakhir,’’ kata Kamaludin, salah seorang petani Desa Munggu, Bungkal, kemarin (19/12).

Padahal padi sudah masuk waktu pemupukan. Kamaludin dan petani lain mengaku sudah mencari hingga ke desa tetangga. Bahkan, hingga lintas kecamatan. Namun, hasilnya nihil. Jawabannya sama. Stok pupuk sudah habis. Beberapa lainnya belum melakukan penebusan. Tak pelak, petani kelabakan. Pasalnya, tanaman padi terancam tumbuh tak subur lantaran kekurangan nutrisi. Kamaludin dan sejumlah petani bukannya tanpa upaya. Beberapa di antaranya terpaksa menggunakan pupuk kandang. Kebanyakan petani di sana memang juga beternak kambing. ‘’Kami pakai kotoran kambing daripada tidak sama sekali. Kami takut kalau gagal panen,’’ imbuhnya sembari menyebut stok pupuk di KUD setempat juga kosong.

Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Balong. Petani di sana juga resah beberapa pekan terakhir. Pupuk menjadi barang langka. Terutama jenis ZA, SP 36, dan Phonska. Sedang jenis Urea ada tapi stoknya terbatas. Pun, petani sedang tidak lagi membutuhkan Urea. Sebab, sudah digunakan pada saat pemupukan kali pertama beberapa waktu lalu. Namun, ada sejumlah petani yang masih membutuhkan lantaran pemupukan pertama belum dilakukan. ‘’Kalau pas yang dibutuhkan pasti tidak ada. Kalau pas tidak butuh, sering membludak stoknya,’’ ungkap Agus Setyono, petani Desa Sumberejo, Balong.

Agus menambahkan, hanya ada dua kios di desanya saat ini. Padahal, ada empat kelompok tani. Dia mengaku sempat datang kiriman sekitar dua ton pupuk berbagai jenis. Saat ini tinggal jenis Urea. Namun, petani kebanyakan sudah tidak membutuhkan. SP 36 dan Phonska yang paling dicari saat ini. Agus mengaku sempat mencari hingga Kecamatan Jetis dan Sambit. Namun, dia harus kembali dengan tangan kosong. Dia dan petani lain memang aktif mencari informasi pupuk. Pun, mereka harus berlomba jika tidak mau kehabisan. ‘’Sudah sulit sejak awal Desember lalu. Padahal sebentar lagi sudah masuk pemupukan kedua,’’ ujarnya sembari menyebut padi rata-rata sudah berumur 15 hari.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Ponorogo Harmanto mengaku sudah menerima laporan terkait itu. Pun, hari ini dilakukan pengiriman ke sejumlah kecamatan tersebut. Dia menyatakan permasalahan bukan pada stok. Sebab, stok pupuk belum habis dari RDKK yang diajukan sebelum musim tanam kali pertama dulu. Dia menduga permasalahan pada pengiriman. Pun, pihaknya juga sudah mengusulkan penambahan jenis Sp 36 dan NPK. Harmanto menyebut keluhan kebanyakan dari petani yang tidak masuk dalam RDKK. ‘’Kalau mereka masuk dalam RDKK saya pastikan tidak kekurangan karena sudah masuk dalam hitungan,’’ katanya. (agi/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: