Retakan Tanah di SDN 2 Tugurejo, Slahung, Siswa Terpaksa Belajar di Ruang Karawitan

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SLAHUNG – Retakan tanah membuat gedung SDN 2 Tugurejo, Slahung, Ponorogo kian memprihatinkan. Untuk tetap bisa melaksanakan kegiatan belajar-mengajar (KBM), siswa kelas III dan IV yang terdampak retakan sementara masih mengungsi. Siswa kelas III menempati ruang karawitan. Sedangkan siswa kelas IV masuk siang hari karena bergantian menempati ruang kelas II. ‘’Hingga saat ini belum ada instruksi lebih jauh dari dinas pendidikan ,’’ ungkap Kepala SDN 2 Tugurejo Mujiono, kemarin (14/12).

Sejak retakan mulai muncul Jumat (2/12) lalu, menurut Mujiono, yang pertama diungsikan adalah siswa kelas IV. Selama sepekan terakhir, siswa kelas IV bergantian menempati ruang kelas II. Kini, lantai ruang kelas tersebut semakin terangkat akibat retakan tanah. Lebar retakan mencapai lebih dari sepuluh sentimeter. Panjangnya sudah lebih dari sepuluh meter. Tidak hanya itu, plafon ruang kelas sudah jebol karena terdampak retakan. ‘’Sudah berbahaya. Bangunannya juga sudah miring,’’ ujarnya.

Siswa kelas III juga menyusul diungsikan. Sebab, retakan di ruang kelas mereka yang berdampingan dengan kelas IV semakin parah. Retakan di lantai dan dinding ruangan kelas tersebut semakin jelas terlihat. Karena tidak ada tempat lain, siswa kelas III terpaksa diungsikan ke ruang karawitan. ‘’Sudah sejak Selasa (13/12) siswa kelas III menempati ruang karawitan. Karena ruang kelas mereka semakin berbahaya,’’ terangnya.

Namun, seiring kerusakan yang terus bertambah, dinas pendidikan belum memberikan instruksi lanjutan kepada sekolah. Padahal menurut Mujiono, diknas sudah pernah meninjau ke sekolah tersebut tak lama usai ditemukan retakan. Sejauh ini, Mujiono hanya dijanjikan akan mendapat instruksi lebih lanjut usai ujian semester berakhir Jumat mendatang. Paling lambat, Menurut Mujiono, bakal ada instruksi sebelum semester depan dimulai yakni Januari mendatang.

Mujiono menilai pilihan terbaik bagi 140 siswa di sekolahnya adalah relokasi permanen ke tempat yang lebih aman. Sementara untuk bangunannya, Mujiono ingin tiga ruang kelas serta ruang guru dan ruang kasek dapat dirobohkan terlebih dahulu sebelum roboh dengan sendirinya. ‘’Tujuannya menyelamatkan material bangunannya agar dapat digunakan lagi,’’ ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Ponorogo Tutut Erliena dikonfirmasi menjelaskan, sekolah itu sudah masuk dalam rencana rehab 2017. Tapi menurutnya, rehab juga kemungkinan sulit dilakukan mengingat kondisi tanah di lokasi. Sehingga muncul opsi untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman. (mg4/irw/radarmadiun.co.id)
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: