Tahun Ini, Tuberkulosis Renggut Empat Nyawa di Ponorogo

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SIMAN – Salah satu penyakit yang menebar ancaman kematian bagi warga bumi reyog adalah tuberkulosis (TB). Berdasarkan data yang dimiliki TB-HIV Care ‘Aisyiyah, sepanjang tahun ini sudah ada empat pasien TB yang meninggal dunia. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya ada satu temuan kasus TB meninggal dunia. ‘’Data ini valid, sama dengan yang dimiliki oleh dinas kesehatan (dinkes),’’ ungkap Koordinator TB-HIV Care ‘Aisyiyah, Suhartini Gufron, saat mengunjungi rumah salah seorang pasien TB di Tajug, Siman, kemarin (16/12).

Angka persebaran TB di Ponorogo juga terbilang tinggi. Dalam sebulan, rata-rata ada 20 hingga 35 kasus TB. Dari puluhan pengidap TB, ada delapan yang tahun ini masuk dalam fase kebal obat, atau multi drug resistant (MDR). Dari delapan penderita TB-MDR, tiga sudah berhasil sembuh. Empat diantaranya meninggal tahun ini. Sementara, satu pasien lainnya sedang dalam tahap penyembuhan. ‘’Salah seorang pasien yang akhirnya meninggal dunia, bobot terakhirnya 36 kilogram padahal usianya 38 tahun. Berjalan saja dia ambruk,’’ jelasnya.

Menurut Gufron, TB yang sudah memasuki fase MDR memang berbahaya. Pasalnya, penderita menjadi kebal dengan berbagai obat-obatan. Artinya, penyakit dapat terus berkembang di dalam tubuh tanpa ada yang menahan. Terutama, pada temuan TB dengan jenis ekstra paru. Penyakit tersebut dapat berdampak pada berbagai organ lain seperti kelenjar getah bening atau bahkan selaput otak. ‘’Ketika sudah menyerang berbagai organ dan penderitanya menjadi kebal terhadap obat, disitulah letak bahayanya,’’ ujarnya.

Menjadi penderita TB-MDR sangat menyiksa. Untuk mengurangi penyebaran TB-MDR dalam tubuh, penderitanya harus menjalani pengobatan lewat jarum suntik setiap hari, selama enam bulan penuh. Jam pengobatan suntik harus sama setiap harinya. Tidak cukup sampai disitu, ada belasan tablet obat yang harus dikonsumsi setiap harinya selama dua tahun penuh. Dengan beban sedemikian berat, potensi menular dari penderita TB-MDR terhadap orang di sekitarnya sangat berbahaya. ‘’Yang tertular penderita TB-MDR, akan langsung mengidap TB dalam fase MDR juga, bukan TB saja. Dan itu bisa mengancam jiwa,’’ jelasnya.

Bahaya lainnya, TB bisa menular kepada siapa saja. Anak-anak dan remaja yang terpapar mau tidak mau harus dikarantina agar tidak menular kepada teman lainnya. Hingga bertahun-tahun pun, menurut Gufron, kuman TB tidaklah hilang. Suatu saat bahkan masih bisa menyerang penderita yang sudah sembuh. Terutama, di lingkungan dengan tingkat kebersihan kurang baik atau bahkan kumuh. ‘’Kesadaran terhadap TB perlu ditingkatkan. TB tidak lagi penyakit sepele. Di Indonesia TB merupakan penyakit tertinggi kedua penyebab kematian,’’ terangnya.(mg4/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: