Tanah Gerak, Belasan Rumah di Sawoo Rusak

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SAWOO – Daerah rawan tanah gerak di Ponorogo bertambah. Setelah Desa Talun, Ngebel dan Tugurejo, Slahung, tanah gerak juga terjadi di Desa Tempuran, Sawoo. Retakan sepanjang ratusan meter muncul di salah satu bukit Dusun Karangrejo, desa setempat. Bahkan, tanah yang ambles mencapai kedalaman 1,5 meter di titik puncak. Akibatnya, retakan mematahkan jalan antardusun dan merusak satu rumah warga. Sedang, 12 rumah lain terancam.

Retakan kali pertama muncul Jumat (25/11) lalu. Namun, baru selebar jari. Pun, warga setempat menganggap wajar lantaran curah hujan cukup tinggi. Retakan ternyata mencapai 800 meter membentuk tapal kuda. Sedang, luasannya mencakup areal dua hektare. Warga semakin khawatir setelah retakan tanah bergerak saban hari. Puncaknya beberapa hari belakangan. Retakan tidak melebar. Namun, turun hingga membentuk anak tangga. Bahkan, bagian bawah dari titik retakan terus turun. Mencapai 1,5 meter di titik puncak. Sedang, retakan yang melintas jalan membentuk anak tangga dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter. ‘’Setiap hari bertambah. Awalnya dulu bagian ini rata. Ketinggiannya sekarang sudah berbeda satu meter lebih,’’ kata Pitoyo, salah seorang warga sambil menunjukkan jalan yang ambles dan merekah, kemarin (6/12).

Dia menambahkan, retakan terparah berada di kawasan hutan pinus yang sekaligus areal perkebunan warga setempat. Ironisnya, puncak retakan tersebut hanya berjarak sekitar 50 meter dari permukiman warga. Setidaknya, terdapat 13 rumah yang masuk jangkauan retakan. Bahkan, sudah merusak salah satu di antaranya. Rumah milik Kateni, 45, terpaksa dibongkar. Sebab, kondisi rumah sudah memprihatinkan dengan banyak ditemukan retakan di bagian dinding. Bahkan, bagian atap sudah nyaris roboh. Rumah akhirnya dibongkar, Minggu (4/12) lalu. ‘’Retakan ternyata sampai di bagian sungai dibawah bukit sana,’’ imbuhnya sembari menyebut terdapat retakan menganga dengan lebar 40 sentimeter di bagian bawah mendekati sungai.

Warga setempat mengaku waspada kini. Apalagi kala hujan turun. Bahkan, sebanyak 12 KK yang berada dalam jangkauan retakan memilih tinggal ditetangga dan saudara kala malam. Mereka baru kembali setelah pagi. Barang berharga serta perabot rumah juga sudah dipindahkan. Warga mengaku takut tidur di rumah mereka kala malam. Sebab, warga kerap mendengar suara mirip ranting patah. Warga juga memasang kentongan di dekat retakan. Mereka sepakat saling memberi peringatan jika terjadi pergerakan. Alat manual itu dipilih lantaran tidak adanya alat deteksi dini yang biasa dipasang di daerah rawan. Bahkan, Pitoyo mengaku belum ada pihak yang datang meninjau. ‘’Ada bantuan sembako dari kelompok tani di sini untuk 12 KK yang terdampak itu. Selain itu, belum ada,’’ ujarnya.

Bagaimana dengan Kateni? Keluarga Kateni memilih membangun rumah baru di lokasi lain. Rumah yang sudah puluhan tahun ditempati tersebut terpaksa ditinggalkan begitu saja. Kateni memilih membeli tanah baru untuk dibangun rumah kembali. Keluarganya sementara tinggal dirumah orang tua sembari menunggu rumah baru mereka jadi. Akibat bencana tersebut, Kateni mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah. ‘’Rumah itu sudah tiga kali diperbaiki hingga seperti sekarang ini. Sekarang malah sudah tidak dapat ditempati lagi,’’ ujarnya sembari menyebut luasan tanah rumahnya berukuran 22 x 30 meter.

Kateni mengaku sedang tidak berada di rumah kala kejadian, Jumat (2/12) sekitar pukul 23.00 tersebut. Namun, istrinya yang berada di rumah mendengar jelas suara retakan yang mulai merusak bangunan rumahnya tersebut. Namun, tidak begitu diperdulikan kala itu. Bahkan, Kateni dan istri tidur seperti biasa. Kengerian baru terlihat ketika pagi. Sebagian dinding rumahnya sudah retak. Bagian atap nyaris ambrol. Sedang, bagian ubin sudah naik dan lepas dari pasangan. ‘’Kami memutuskan pindah sejak saat itu,’’ ungkapnya.

Kabid Rehabilitasi dan Rekrontruksi BPBD Ponorogo Heri Sulistyono mengaku memang belum meninjau lokasi tanah gerak di Desa Tempuran tersebut. Sebab, lokasi serupa cukup banyak di Ponorogo. Setidaknya, terjadi di enam kecamatan. Bahkan, beberapa di antaranya lebih memprihatinkan. Kendati begitu, pihaknya mengaku sudah menjadwalkan peninjauan ke sana. direncanakan dalam minggu ini. Pun, pihaknya siap dengan bantuan kepada warga terdampak. Namun, besaran disesuaikan dengan kerusakan yang diakibatkan. ‘’Laporan sudah masuk. Tapi kami memang waktunya yang belum sempat karena banyaknya lokasi,’’ ujarnya sembari menyebut potensi tanah gerak di Ponorogo masih tinggi dan warga diimbau waspada. (agi/irw)

Sumber : RadarMadiun.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: