Target pajak reklame yang dipatok Pemkab Ponorogo tahun ini terancam meleset

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA – Target pajak reklame yang dipatok Pemkab Ponorogo tahun ini terancam meleset. Bagaimana tidak, sejumlah space reklame milik pemkab sepi peminat sejak beberapa bulan terakhir. Nyaris tidak ada perusahaan maupun kelompok masyarkat yang memanfaatkannya. Penyebabnya sepele, sejumlah titik space reklame tersebut kurang menarik akibat banyak ranting pohon yang menutupi. ‘’Sudah sekitar tiga bulan terakhir tidak ada pemasang. Setelah kami cek, ternyata banyak yang tertutupi ranting pohon,’’ kata Kasi Retribusi dan Penerimaan Lain-lain Bidang Pendapatan DPPKAD Ponorogo, Soni Hariyanto.

Dia menambahkan, setidaknya terdapat sekitar 40 space reklame berbentuk vertical banner dan sembilan frame spanduk. Jumlah tersebut tersebar di 20 titik strategis di wilayah kota. Namun, nyaris tidak ada yang memakainya tiga bulan terakhir. Usut punya usut, sejumlah space reklame tersebut sudah tidak menarik lagi. Mulai terhalang ranting dan dahan pohon hingga sudah digunakan iklan layanan lain yang tidak berbeda jenis dan peruntukkannya. Di antaranya, di jembatan Sukowati, perempatan Songgolangit, dan bundaran Jalan Sultan Agung. ‘’Mulai kami bersihkan sejak beberapa hari terakhir. Semoga segera ada yang kembali memanfaatkannya,’’ harapnya.

Soni mengaku tengah dikejar deadline pendapatan pajak reklame tahun ini. Hingga Oktober lalu, capaian pajak reklame baru 94 persen. Padahal, sejumlah pendapatan pajak dari sektor lain sudah tercapai. Soni menyebut potensi kehilangan pendapat dari sepinya peminat space reklame cukup signifikan. Space disewakan Rp 6 ribu per meter/bulan. Padahal, dalam satu frame cukup menampung sembilan spanduk untuk jenis frame. Tentu jumlah yang besar jika dikali tiga bulan lamanya. Itu baru di satu titik. Kendati begitu pihaknya optimistis target tercapai. Sebab, dua bulan terakhir belum masuk hitungan. ‘’Petugas kami juga terbatas. Hanya ada empat orang. Makanya kami meminta bantuan dari bidang kebersihan dan pertamanan,’’ ujarnya.

Soni mengaku sejumlah reklame di Ponorogo menjadi kurang menarik lantaran tertutup pohon. Sedang, penebangan pohon tidak mungkin dilakukan. Pemangkasan salah satu opsinya. Pihaknya mengaku sudah setiap hari memantau sejumlah titik reklame tersebut. Bukan hanya space milik pemkab, termasuk swasta. Soni menyebut pelayanan tersebut penting lantaran reklame merupakan salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD). ‘’Tujuan memasang reklame kan untuk dilihat orang. Kalau keberadaannya terhalang sesuatu goal-nya kurang maksimal. Dampaknya jelas pendapatan dari reklame menurun,’’ jelasnya sembari menyebut target PAD pajak reklame tahun ini Rp 920 juta. (agi/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: