Tugurejo Darurat

Sponsored Ad

Sponsored Ad
SLAHUNG – BPBD Ponorogo sudah menetapkan status darurat di Tugurejo, Slahung. Satu-satunya yang menghalangi realisasi relokasi warga adalah rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung. BPBD mengklaim sudah meminta PVMBG turun sekali lagi menyelidiki pergerakan tanah di Tugurejo. Namun hingga kini belum ada jawaban. ‘’Kami sudah menghubungi sejak dua minggu lalu. Belum ada tindak lanjut,’’ terang Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo, Heri Sulistyono, kemarin (5/12).

Total ada 31 rumah dari 38 KK yang terdampak di Tugurejo. Heri menjelaskan, sejak status darurat dicanangkan di Tugurejo, rumah dengan gejala retakan parah diminta ditinggalkan. Data terakhir di meja Heri, enam KK sudah meninggalkan rumah masing-masing. Keenam keluarga tersebut untuk sementara menempati rumah kerabat yang lebih aman. Selain mereka, puluhan warga setempat lainnya diminta terus mengungsi mulai sore atau setiap kali hujan lebat turun. Pasalnya sama seperti yang terjadi di Talun, Ngebel, tanah di Tugurejo terus mengalami pergerakan. ‘’Pengamatan terakhir Minggu (4/12) lalu, kembali ada pergerakan susulan meski tidak hujan,’’ jelasnya.

Ada tiga tenda darurat yang disediakan untuk warga setempat. Satu tenda sanggup diisi sebanyak 10 orang. Total, ada sekitar 30 orang yang dapat tertampung. Heri merekomendasikan warga yang kerusakan rumahnya terhitung parah untuk mengungsi di tiga tenda tersebut. Dia berpendapat, tenda fasilitas dapur umum belum diperlukan. Pasalnya menurut Heri, tidak semua warga mau untuk mengungsi. ‘’Tidak semuanya mau mengungsi. Tenda yang ada tidak semua dimaksimalkan penggunaannya,’’ kata Heri.

Terkait kebijakan relokasi, Heri mengaku BPBD telah berkoordinasi dengan camat setempat dan dinsosnakertrans. Hasil koordinasi, realisasi relokasi warga terdampak di Tugurejo diupayakan melalui dinsosnakertrans. Namun, tetap harus mempunyai dasar yang kuat. Dasar tersebut, adalah hasil rekomendasi dari PVMBG. ‘’Dengan diberlakukannya status darurat, artinya warga seharusnya memang mengungsi dari rumah. Bagi yang kerusakannya parah dan berbahaya jika ditinggali, mereka harus relokasi,’’ terangnya.

Dua korban terakhir pergerakan tanah Tugurejo diantaranya Lamiyo dan Suwito. Suwito sudah mulai membongkar rumahnya sejak Minggu (4/12), dibantu BPBD. Rumahnya terdampak pergerakan tanah yang merembet ke jalan raya Ponorogo-Pacitan dan SDN 2 Slahung. Sementara Lamiyo belum memutuskan membongkar rumahnya. Padahal, garis retakan memenuhi lantai dan dinding rumahnya. Retakan paling panjang mencapai sepuluh meter, memanjang mulai dari lantai hingga dinding rumah. Sejauh ini, Lamiyo bersama istrinya mengungsi ke rumah anaknya saat malam. ‘’Rencananya akan memasang tiang tambahan dari bambu untuk menopang rumah supaya lebih aman,’’ ujar Lamiyo.

Tanah Bergerak, Sekolah Merekah

PERGERAKAN tanah di Tugurejo, Slahung semakin menebar ancaman. Terakhir, pergerakan tanah merembet hingga jalan raya Ponorogo-Pacitan dan bangunan SDN 2 Tugurejo. Meski tidak retak, aspal jalan raya ambles. Warga memasang tanda peringatan di titik jalan yang ambles. Dari jalan raya, gerakan tanah menyasar SDN 2 Tugurejo yang berlokasi di tepi jalan. ‘’Kejadiannya berbarengan, merembet dari jalan ke sekolah dalam satu malam, baru diketahui Jumat (2/12),’’ ungkap penjaga SDN 2 Tugurejo, Yudi Purnanto, kemarin (5/12).

Yudi menambahkan, sehari sebelumnya, Kamis (1/12), sudah terlihat ada retakan kecil di halaman SDN 2 Tugurejo. Lebar retakan hanya satu sentimeter, memanjang mencapai sekitar tiga meter. Saat Yudi pulang dari sekolah Kamis sore, hujan turun dan baru reda Jumat pagi. Warga Tugurejo itu kaget begitu tiba di sekolah. Jalan aspal di depan sekolahnya ambles dan retakan di halaman sekolah menjadi lebih lebar, mencapai tiga sentimeter. Tidak hanya itu, terlihat ada retakan di dinding luar dua ruang kelas, yakni ruang kelas IV dan kelas VI. ‘’Setelah ruang guru dan kelas saya buka satu per satu, ternyata jauh lebih parah,’’ ujarnya.

Ruangan pertama yang dibuka adalah ruang kepala sekolah. Di dalam ruangan, panjang retakan mencapai enam meter, lantai yang pecah dan terangkat mencapai lebar 60 sentimeter. Dinding ruangan tersebut juga retak sepanjang satu meter. Ruang guru juga demikian, dindingnya juga mengalami keretakan dengan panjang yang hampir sama. Selain kedua ruangan tersebut, dinding ruangan kelas VI ikut terdampak. Panjang garis retakan di dinding mencapai lima meter. ‘’Garis retakan ruangan kelas VI dampak dari retakan di ruang kelas IV,’’ terangnya.

Yang terdampak paling parah adalah ruang kelas IV. Lantai ruangan tersebut retak selebar lima sentimeter sepanjang enam meter. Selain di lantai, juga terdapat sejumlah garis retakan di dinding kelas tersebut. Antara dinding dan lantai juga mengalami retakan sepanjang lima meter. Saat ini sebanyak 140 siswa mengikuti UAS. Kepala SDN 2 Tugurejo, Mujiono memutuskan memindahkan kegiatan belajar-mengajar (KBM) siswa kelas IV. Kebetulan karena sedang UAS, siswa kelas IV diminta bergiliran menggunakan ruangan kelas II. ‘’Demi keamanan siswa. Padahal bangunan ruang kelas yang terdampak itu baru direhab tahun lalu,’’ ungkap Mujiono.

Mujiono menyatakan sudah melaporkan kondisi yang dialami sekolahnya ke UPT Dinas Pendidikan (Diknas) Slahung. Pihak UPTD juga sudah meninjau retakan di sekolah tersebut. Mujiono masih menunggu instruksi lebih lanjut dari dinas pendidikan. ‘’Kami mengajukan perbaikan tahun depan. Kalau semakin parah, terpaksa harus relokasi,’’ jelasnya.(mg4/irw)

Sumber : RadarMadiun.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: