Tujuh TKI Ponorogo Hilang Kontak

Sponsored Ad

Sponsored Ad
KOTA –TKI asal bumi reyog yang lapor menerima perlakuan tidak menyenangkan di luar negeri mencapai ratusan. Data yang dirilis lembaga konseling TKI, Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (Kabar Bumi) Ponorogo, sepanjang 2016 sudah ada lebih dari 200 laporan TKI di berbagai negara. Dari ratusan laporan, ada sembilan TKI yang mendapat penganiayaan dari majikan. ‘’Data kami berasal dari laporan langsung para TKI Ponorogo, baik yang masih di luar negeri maupun yang sudah pulang,’’ ungkap Ketua Kabar Bumi Ponorogo, Sri Ati, kemarin (19/12).

Sri menjelaskan, total ada 242 laporan tindakan kurang menyenangkan yang dialami TKI di meja Kabar Bumi Ponorogo hingga akhir pekan lalu. Laporan paling banyak didominasi oleh masalah putus kontrak secara sepihak atau TKI yang tidak mendapatkan hak interminit sesuai janji atau kontrak. Meliputi akomodasi tiket, gaji, maupun uang cuti. Jumlah TKI yang melaporkan berdasarkan kondisi tersebut sebanyak 210 orang. ‘’Selain itu, masih ada penyebab lain yang lebih parah telah dirasakan TKI,’’ terangnya.

Sri menuturkan, selain penyebab tersebut, total ada sembilan TKI yang sudah melaporkan dirinya pernah mendapat penganiayaan dari majikan. Seperti ditampar, dicubit, atau dijambak. Sepanjang tahun ini, ada dua TKI yang mengalami depresi, juga diduga akibat menerima perlakuan serupa. Selain itu, ada sepuluh TKI yang masih tinggal melebih batas waktu izin kerja (overstay) di China dan Hongkong. Angka-angka tersebut masih diperparah adanya empat TKI yang dipulangkan ketika masih dalam kondisi sakit, serta tujuh TKI yang masih hilang kontak hingga sekarang. ‘’Empat diantaranya yang hilang kontak di Hongkong, tiga sisanya tersebar di Arab Saudi, Macau, dan China,’’ jelas Sri.

Angka ratusan laporan di Kabar Bumi Ponorogo tersebut kurang sinkron dengan data yang dimiliki oleh dinsosnakertrans. Kepala Dinsosnakertrans Ponorogo Sumani, menyebut sejauh ini belum ada satu orang pun TKI bumi reyog yang mendapat penganiayaan dari majikan. Klaim tersebut dia dasarkan dari nihilnya TKI yang melaporkan kondisi tersebut kepada dinsosnakertrans. ‘’Kalau penganiayaan memang belum ada sama sekali. Namun juga ada beberapa laporan yang intinya kurang menyenangkan bagi para TKI,’’ katanya.

Sumani menuturkan, setiap bulan dinsosnakertrans menerima laporan dari kementerian luar negeri terkait TKI yang mendapat beberapa masalah. Paling banyak, karena ketidakcocokan dengan majikan, atau majikan enggan membayar gaji sesuai kontrak. Selain itu, yang berhubungan dengan kekerasan terhadap fisik masih diklaim Sumani nihil. Sumani juga berkaca pada data terakhir yang dihimpun BNP2TKI pada tahun ini. Ponorogo masih merupakan penyumbang TKI terbesar di Jatim. Meski tertinggi, jumlah TKI bermasalah di Ponorogo masih jauh dari lima peringkat teratas yang seluruhnya diisi daerah dari Madura. ‘’TKI dari Ponorogo itu baik. Jauh dari lima peringkat teratas,’’ ujarnya.(mg4/irw)

Sumber : Radar Madiun
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: