Asyiiik! Januari Ini Pelajar di Ponorogo Bakal Menikmati Angkutan Cerdas Siswa (ACS) GRATIS

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO - Januari ini, program yang diberi nama Angkutan Cerdas Siswa (ACS) diklaim bakal siap diluncurkan di Ponorogo Jawa Timur.

Sebanyak 33 armada siap dikerahkan. Anggaran per tahun senilai Rp 1 miliar pun siap dikucurkan guna menopang operasional angkot.

''Jika tidak ada halangan, hasil segera dilaporkan kepada bupati (Ipong Muchlissoni). Januari siap di-launching,'' jelas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Junaedi.

Dia menyatakan, progres terakhir realisasi ACS sampai di tahap kajian.

Hasil kajian yang dilakukan dishub kini tinggal diserahkan kepada Ipong untuk dievaluasi.

Karena Ipong meminta ACS dapat difungsikan pada 2017, Junaedi pun optimistis ACS siap diluncurkan pada Januari.

Sambil menunggu, dishub bakal menyelesaikan sosialisasi di sekolah.

Saat ini, empat dari total enam SLTP belum diberi sosialisasi mengenai program tersebut

''Selain itu, kami masih mempersiapkan surat pertanggungjawaban (SPJ),'' katanya.

Ada 33 armada ACS yang dikerahkan untuk melayani 15 trayek antar jemput sekitar 500 siswa di enam sekolah.

Total anggaran yang disiapkan untuk mengakomodasi ACS selama setahun ke depan mencapai Rp 1 miliar.

Dana sebanyak itu digunakan untuk membiayai pulang pergi para siswa di enam sekolah.

Perinciannya, seorang siswa mendapat jatah Rp 6.400 per hari untuk pulang pergi.

Jika dihitung sebulan, setiap siswa mendapat Rp 103 ribu.

Siswa diklaim tidak perlu mengeluarkan uang untuk menikmati fasilitas ACS.

''Biaya tersebut sudah dihitung sesuai dengan operasional angkot per kilometer dan per siswa. Jadi, siswa tidak perlu bayar,'' ungkap Junaedi.

Dia mengklaim pihaknya sudah mendasarkan perhitungan itu lewat kajian yang kuat.

Selain itu, dishub sudah melakukan studi banding ke sejumlah daerah yang menjalankan fasilitas serupa untuk siswa sekolah.

Dari hasil studi banding, Junaedi menegaskan, anggaran atau armada bukanlah kendala dalam menyediakan fasilitas angkutan siswa tersebut.

Yang sulit justru mengubah kebiasaan siswa agar tidak menggunakan kendaraan pribadi, tapi lebih memilih naik ACS.

Permasalahan itu dirasakan daerah lain ketika merintis layanan tersebut.

Lama-lama, ketika siswa sudah terbiasa, kualitas layanannya bisa ditingkatkan.

''Membentuk karakter siswa itu tidak mudah. Bagaimana siswa dan sekolah berkomitmen menggunakan ACS supaya nanti layanannya tidak mubazir,'' tutur Junaedi.

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: