Bisnis SIM Palsu Terbongkar setelah Pelanggan Kena Razia Lalu-lintas, Pelakunya ternyata Warga Samit Bekas Calo SIM

Sponsored Ad

Sponsored Ad
MADIUN - Mantan calo atau penjual jasa pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), Mustakin bin Isdi (46) nekat membuka jasa pembuatan SIM palsu. Namun, bisnis yang baru dirintis akhir tahun lalu itu gulung tikar setelah polisi menangkap dia di rumahnya, di Desa Campursari, Kecamatan Sambit, Ponorogo.

Polisi berhasil membongkar bisnis pembuatan SIM palsu milik Mustakin setelah pelanggannya tertangkap anggota Satlantas Polres Madiun yang melakukan razia di wilayah Kecamatan Geger, Rabu (18/1/2017).

"Pada saat dilakukan razia lalu lintas didapati pengendara atas nama Ahmad Rosyid. Begitu dicek SIM miliknya, diduga palsu. Kemudian dibawa ke polres untuk penyidikan," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Madiun, AKP Hanif Fatih Wicaksono, Kamis (26/1/2017) siang.

Pada saat diperiksa, Ahmad Rosyid mengaku mendapatkan SIM dari Mustakin. Warga Ponorogo ini mengaku membeli SIM palsu itu dengan harga Rp 250 ribu.

Polisi akhirnya menangkap Mustakin pada Kamis (19/1/2017) minggu lalu, di rumahnya. Polisi juga menyita printer dan CPU yang dipakai untuk membuat SIM palsu dari sebuah tempat percetakan.

Kepada polisi, kata Hanif, tersangka mengaku baru membuat dua kali SIM palsu. Tersangka menjual SIM palsu, baik itu SIM A palsu maupun SIM C palsu dengan harga Rp 250 ribu.

"Pengakuan tersangka, dia baru membuat SIM palsu dua kali," katanya.

Hanif mengatakan, tersangka mempunyai keahlian membuat SIM palsu, karena sudah pernah menjadi calo pembuatan SIM.

"Yang bersangkutan ini pernah menjadi calo SIM di kabupaten lain, jadi dia paham, bagaimana membuat tanda tangan palsu dan sebagainya," katanya.

Sekilas, SIM palsu buatan Mustakin memang mirip. Namun, ketika dipegang dan diamati secara seksama, akan tampak berbeda sekali dengan SIM asli.

Bahan SIM yang dibuat oleh Mustakin hanyalah kertas tebal biasa yang kemudian diprint dan dilaminating. Selain itu, tidak ada hologram pada SIM buatannya.

Akibat perbuatannya, Mustakin dijerat pasal 263 ayat 1 KUHP tentang membuat surat palsu atau memalsukan surat dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun.

Hanif menambahkan, sementara bagi penguna SIM palsu yakni Ahmad Rosyid hanya dikenakan wajib lapor. Sebab, kata Hanif, oleh Mustakin, Ahmad diminta memakai SIM palsu itu hanya untuk sementara dan akan dijanjikan diberi SIM asli.

"Jadi AS ini membuat SIM untuk mengurus pernikahan. Dia dijanjikan oleh Mustakin akan diberi SIM asli," terangnya.

Sumber  SURYA.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: