Cinta Buku, Tukang Tambal Ban Asal Ponorogo Ini Sulap Motor Jadi Perpusling Hingga Raih Penghargaan Nasional

Sponsored Ad

Sponsored Ad
Bandar Lampung - Kecintaannya terhadap buku sejak SMP mengawali perjuangan Sugeng Hariyono membuat perpustakaan keliling (Perpusling) dengan sepeda motor.

Tinggal di perkampungan pun tak menyurutkan langkahnya berbuat untuk orang lain. Sehari-hari bekerja sebagai tambal ban, pria yang tinggal di Jalan Lintas Sumatera Pasuruan Bawah RT 01 RW 08 Desa Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan ini merasa sedih kala dirinya ingin meminjam buku diperpustakaan didaerahnya. "Saya tanya warga pak dimana perpustakaan ya. Dijawabnya apa itu perpustakaan," ucapnya.


Berawal dari situlah pria kelahiran Ponorogo ini membeli sepeda motor GL tahun 1968 dari tukang rongsokan. "Dulu beli motor tapi mati, cuma sasis dan mesin aja tahun 2013. Setelah diperbaiki dan motor pustaka beroperasi pas bulan Maret 2014," ujarnya.

Awal beroperasi, lanjut dia, koleksi buku-buku masih berjumlah 60 buah. "Dulu awal cuma 60 buah dan saya keliling di Pematang Pasir dan Lebung Nala sekitar Bengkel. Buku juga beli dari tukang rongsokan," bebernya.

Sugeng akrab dia disapa ini menerangkan ketika awal-awal memang masih sulit. "Tapi lama kelamaan ketika dijelaskan respon untuk meminjam banyak. Kita sistemnya pinjam gratis, saya percaya dengan buku yang dipinjamkan jadi gak sampai hilang," imbuhnya.

Bermotto Membaca Itu Gaul, Sugeng pun tak hanya memberikan edukasi dan menanamkan untuk membaca sejak dini. Kegiatan keliling rutinnya setiap hari mulai pukul 16.00 hingga pukul 18.00 WIB dipertemukan dengan sang pujaan hati.

"Berkeliling, datangi warga di halaman rumahnya dan nawarin pinjaman buku. Saya keliling di Kecamatan Ketapang. Ada lima desa yakni Pematang Pasir, Sumberagung, Lebung Nala, Kemukus,dan Sidoasih. Paling deket cuma 3 km dan yang jauh 16 km di Sumberagung. Akhirnya ketemu sama istri saya dan kami menikah November kemarin. Ya karena dia (Asih Kurniawati) juga suka meminjam buku," kenangnya.

Kini, kata dia, sang istri pun ikut keliling setelah usai menjalani tugasnya sebagai seorang pengajar. "Istri juga sudah mulai ikut keliling," ceritanya.

Menurutnya, kendala saat berkeliling ketika hujan turun. "Kendalanya saat hujan turun biasanya saya langsung meneduh ditempat warga. Buku pun takut kehujanan saya titip. Soalnya sarungnya kan tidak antihujan," tuturnya.

Hal inilah yang membuat Sugeng mendapat bantuan sepeda motor roda tiga dari sang Rektor tempat dirinya mengemban kuliah. "Waktu itu Rektor UT nanyain. Apa kendalanya?. Saya kasih tahu kalau hujan kehujanan. Akhirnya diberikan motor roda tiga pada 16 Oktober 2016 dan saya kasih nama moge pustaka," ujarnya.

Donatur

Donasi buku pun terus berdatangan, sambungnya. "Ada yang dari Kupang, Jawa maupun di Pulau Sumatera, Dari Indonesia bagian Timur, Tengah dan Barat. Semuanya ada," bebernya.

Sugeng mengatakan pernah disuruh donatur di Pulau Jawa untuk mengambil dan memilih bukunya sendiri. "Saya disuruh berangkat ambil buku saat itu seniman dari Jawa yang ingin sumbangkan buku. Dia minta saya yang harus datang dan nemuin. Ketika sampai dirumahnya, disuruh pilih sendiri untuk dibawa semampunya. Saya bawa cuma dua karung karena sudah tidak mampu lagi," imbuhnya.



Kini, kata Sugeng, koleksi buku pustaka motor sudah 6000 ribu buku. "Setiap peminjam bisa meminjam maksimal tiga buku dengan waktu seminggu tanpa bayar. Nanti setelah seminggu saya datangi kembali rumahnya," terangnya.

Koleksinya, lanjut pria yang mendapat beasiswa dari Universitas Terbuka ini, kebanyakan buku anak-anak. "Buku anak-anak mulai dari dongeng, cerita rakyat dan calistung. Novel juga ada dan yang sering dipinjam Tere Liye," jelasnya.

Sekarang warga, kata Sugeng, banyak meminta buku terkait resep masakan. "Sekarang warga sudah sadar dan malah meminta untuk mencarikan buku masakan. Harapan saya pemerintah bisa mendukung kegiatan kami atau saya dengan memberikan momen di Lampung. Dimana seperti car free day untuk free kargo literasi. Dalam satu bulan dikumpulkan sehingga bisa langsung dikirimkan secara free," paparnya.

Selama ini, menurutnya, biaya pengiriman bukunya yang belum bisa gratis."Kalau pemerintah membantu jadi banyak sekali bukunya yang bisa masuk ke motor pustaka," harapnya.

Perjuangan mengajak masyarakat sadar membaca pun mendapat ganjaran penghargaan dari Perpustakaan Nasional. "Iya tahun 2016 bulan Agustus tanggal 16 dapet penghargaan Darma Pustaloka untuk kategori tokoh masyarakat yang peduli dengan perpustakaan dan minat baca masyarakat dari perpusnas di Balai Kartini Jakarta. Ada enam orang seluruh Indonesia dari Lampung saya," akunya. (*)

Sumber: www.saibumi.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: