Gamelan Buatan Mbah Kusnan di Ponorogo Tembus Pasar Malasyia

Sponsored Ad

Sponsored Ad
PONOROGO --- Di Ponorogo terdapat sentra pembuatan gamelan, tepatnya di Desa Paju, Kecamatan Ponorogo, 1 kilometer arah selatan dari Alun-alun Ponorogo. Menemukannya pun tidak sulit, karena sentra pembuatan gamelan ini berada persis di pinggir jalan raya. Pemiliknya, Mbah Kusnan (67), mengaku, di tengah era modern ini pesanan gamelan masih terhitung tinggi.


Ditemui Sabtu, (7/1/2017), Mbah Kusnan, menuturkan, awalnya ia hanya sendiri membuat gamelan. Namun, lambat-laun karena banyaknya pemesan, ia mempekerjakan 15 orang karyawan. “Dari situ saya mengajari karyawan, lalu ada yang kemudian buka usaha sendiri, sehingga jadilah Desa Paju dikenal sebagai sentra pembuatan gamelan,” jelasnya.

Mbah Kusnan membuka usaha pembuatan gamelan sejak tahun 1963. Hingga kini, usahanya masih terus berjalan, bahkan cenderung lancar karena pelanggannya terus bertambah banyak. Bahkan gamelan hasil produksi Mbah Kusnan sering dikirim ke Malaysia. “Satu seperangkat gamelan dari besi harganya delapan puluh juta rupiah. Kalau dari kuningan harganya dua ratus juta rupiah,” ujarnya.

Menurutnya, usaha yang digelutinya sejak kelas 2 SMP hingga kini menjadi langganan dari berbagai daerah, karena Mbah Kusnan tetap mempertahankan kualitas gamelan yang diproduksinya. “Saya tidak mau jual lebih murah dengan mengurangi bahan. Lebih baik kalau tidak punya uang ya jangan beli ke saya,” ujarnya.

Bapak dua orang anak ini menambahkan, meski terbilang rumit, ia menyukai usahanya tersebut. Dengan 15 orang karyawan di rumahnya, dalam satu bulan ia mampu menghasilkan seperangkat gamelan kualitas bagus. “Kalau dulu saya buat semuanya. Sekarang ada pembagian tugas, jadi lebih cepat pengerjaannya,” imbuhnya.


Bahan pembuatan gamelan, lanjut Mbah Kusnan, sekarang juga lebih mudah dibandingkan dulu. Kalau dulu menggunakan drum bekas, sekarang bisa langsung menggunakan besi atau kuningan dan bisa dipesan dari penjual. Satu perangkat gamelan, terdiri dari perangkat gong, kenong, kethuk, bonang, gambang, rebab, barung, slenthem, saron, glenjer, pekeng, gempul, kendang, siter dan demung. Biasanya digunakan saat karawitan maupun acara kebudayaan tradisional lainnya.

“Dulu tiga bulan sekali saja belum tentu laku, sekarang satu bulan sekali minimal, ada yang laku,” tuturnya.

Kini, kakek dari lima orang cucu ini menikmati masa tuanya dengan cara menjadi juragan gamelan. Ia tinggal menunggu pemesan datang ke rumahnya. “Ini namanya karena hobi lama-kelamaan jadi sumber rejeki,” pungkasnya.

Charolin Pebrianti /  cendananews.com
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: