Pengadilan Agama Ngawi ‘Launching’ 1.959 Janda Baru

Sponsored Ad

Sponsored Ad
NGAWI – Jumlah janda di Ngawi dipastikan semakin bertambah setahun terakhir. Berdasar Data Pengadilan Agama (PA) setempat, majelis hakim setempat memutus 1.959 perkara perceraian sepanjang 2016. Kasusnya didominasi istri yang menggugat cerai suaminya (cerai gugat). Jumlah janda semakin bertambah karena angkanya disumbang dari perkara talak sebanyak 535 kasus. ‘’ Ada 2.042 perkara yang masuk, hanya yang sudah diputus baru 1.959 per 31 Desember kemarin (2016),’’ terang Panitera Muda PA Ngawi Hidayat Nursito, kemarin.

Hidayat mengatakan kandasnya mahligai rumah tangga dipengaruhi karena faktor ekonomi yang mencapai 763 perkara. Rata-rata diajukan kaum istri yang menguggat suami karena pasangannya dinilai tidak becus mencari nafkah. Mayoritas para tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negari, namun ada juga dari kalangan umum. ‘’ Dan memang ada juga suaminya yang tidak bekerja, ada juga yang bekerja tapi nafkahnya tidak cukup untuk keluarga,’’ tambahnya.

Ekonomi kata dia tidak menjadi faktor penentu satu-satunya prahara rumah tangga berujung pengadilan agama. Ketidakharmonisan, tidak bertangung jawab dan adanya perempuan dan pria ketiga dalam rumah tangga turut menjadi pemicunya. Selain sifat cemburu yang berlebih dan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), selengkapnya lihat grafis. ‘’81 perkara dipengaruhi karena adan ya orang ketiga,’’ katanya.

Hidayat mengatakan mayoritas perkara perceraian yang masuk pasangan dengan usia produktif. Usia sekitar 25-35 tahun. Tidak hanya itu, pasangan yang berusia senja juga ada yang mengajutan pegatan. ‘’ Usia muda memang rawan perceraian, karena masih tahap penyesuaian, ‘’ tambahnya.

Hidayat mengatakan ribuan perkara yang ditangani pihaknya membuat majelis hakim PA harus bekerja ekstra setiap hari. Sebab, rata-rata 10 perkara perceraian diputus setiap harinya, atau perbulan 165 kasus. Belum lagi perkara lain yang masih dalam tahap awal persidangan. ‘’Faktor ekonomi masih menempati porsi paling tinggi, mencapai 763 perkara,’’ terang Hidayat.

Menurutnya, jumlah perceraian di Kabupaten Ngawi relatif stabil. Setiap tahun, perbedaan jumlah kasus yang ditangani PA Ngawi hampir sama. Angkanya setiap tahun dikisaran 1,8 ribu hingga dua ribu perkara.’’ Dari beberapa tahun terakhir, angkanya cuma segitu-gitu saja, ‘’ imbuhnya.

Elvi, salah seorang pemohon gugat cerai mengatakan nekat menggugat cerai suaminya karena tidak bisa mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Sebab gaji suaminya tidak banyak. Ditambah hobi mabuk-mabukan membuatnya jenggah dan ingin segera berpisah. ‘’ Sampai-sampai saya harus kerja, anak dititipkan ke orangtua. Dari pada begini terus lebih baik hidup sendiri, jadi janda,‘’ ungkapnya.

Psikolog Ineu Prihatiniwulan mengatakan tingginya angka perceraian yang dilakukan seorang istri untuk suaminya (gugat cerai) lebih dipengaruhi banyak faktor. Mulai pendidikan, wawasan, ekonomi, orang ketiga, bahkan pengaruh berkembangnya teknologi bisa jadi biang perceraian di biduk rumah tangga saat ini. ‘’ Persoalan perceraian emang kompleks, tapi yang paling mempengaruhi tingkat wawasan dan pendidikan,’’ katanya

Ineu mengungkapkan, tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi pola pikir dalam kehidupan. Perempuan memiliki cara pandang yang lebih luas apabila pergaulannya bertambah. Sehingga membuat seorang perempuan merasa mampu menafkahi dirinya sendiri, meski tanpa suami. Misalnya pasangan yang terpisah karena istri bekerja ke luar negeri, sedangkan suami di kampung halaman. Perasaan mampu dari segi ekonomi memicu seorang istri tidak berfikir panjang dalam mengambil keputusan. Padahal pada akhirnya bisa merugikan diri sendiri dan orang lain terutama anak. ‘’Memang sebagai istri berhak mempertahankan haknya tapi tetap akan ada yang dirugikan dari perceraian,’’ tambahnya.

Hal lain yang memicu penyebab perceraian tertinggi hadirnya orang ketiga. Fakta saat ini kehadiran pria idaman lain (Pil), maupun wil (wanita idaman lain) seiring pesatnya perkembangan teknologi. Seorang ‘pecandu’ medsos kerap salah menempatkan posisi diri untuk menunjukkan eksistensinya. Hal itu memancing hubungan ‘terlarang’ di antara sepasang suami istri. ‘’Peran teknologi sekarang ini sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang, sekaligus membuat perpecahan pasangan,’’ bebernya.

Dia menambahkan kunci dalam menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga dapat dilakukan dengan komitmen, saling percaya dan memahami, serta agama. Dia menerangkan pasangan harus kembali mengingat komitmen awal dalam pernikahan. Janji sebagai seorang suami terhadap istrinya ataupun sebaliknya. Saling percaya satu sama lain untuk mengikis pemicu keributan. Apalagi ada perbedaan profesi yang membuat keduanya tidak bisa selalu bersama. ‘’Harus sadar kelebihan dan kekurangan masing-masing,’’ pesanya.

Selain itu agama membawa peranan penting. Pasangan suami istri harus mengingat kembali kewajibannya sebagai umat beragama. Dan memaknai pernikahan sebagai ibadah. Bukan karena harta, tahta, ketampanan suami, maupun kecantikan istrinya. Kata dia seseorang tidak akan berhasil jika mencari kesempurnaan dalam pasangannya masing-masing. ‘’Ibarat sepasang sandal tidak mungkin keduanya sama, ada kanan juga kiri. Artinya sepasang suami istri harus saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing, bukan cari kesempurnaan,’’ pungkasnya. (odi/ian/pra)

Sumber : radarmadiun.co.id
Sponsored Ad
J4ngan Lupa B4ca T!ps Ber!kut ini: